Feb
12
Blog vs TV Swasta
Sebuah posting di blog membuat seorang produser di stasiun televisi swasta nasional “naik darah”. Si produser memarahi blogger penulis posting — yang kebetulan freelancer di TV itu. Si blogger menganggap teguran itu tidak pada tempatnya. Blogger lain lalu menuliskan kasus itu.
Bagaimana sebetulnya aturan main di ranah blog? Adakah etikanya? Bolehkah seorang freelancer menuliskan pengalaman tugasnya yang tak enak di blog? Apakah produser itu telah menghalangi hak seseorang untuk menulis, freedom of expression?
Saya mendapatkan cerita tentang kasus ini di blog sebelah. Menurut blog sebelah itu, kasus ini bermula ketika Malaysian Tourism Board mengundang 190 jurnalis dari seluruh dunia untuk meliput pembukaan Floral Festival 2007 bulan lalu. Acara ini merupakan bagian dari kampanye wisata Visit Malaysia 2007. Sebuah televisi nasional yang mendapatkan undangan itu lalu menugaskan awaknya meliput acara itu, terdiri dari penyiar wanita, kamera, dan kru pendukung lainnya.
Blog sebelah itu tak menyebut nama stasiun televisi yang dimaksud, tapi memberikan tautan yang begitu diklik menuju situs milik SCTV.
Karena mereka ditugaskan oleh stasiun televisi, tentu saja para kru itu mengerjakannya dengan cara mengambil gambar. Masalah muncul di lapangan. Ternyata mereka tak boleh mengambil gambar barang sedetik pun di tempat-tempat yang seharusnya diambil gambarnya.
Aneh. Mereka itu diundang ke Malaysia untuk mempromosikan negeri jiran itu. Mengapa tak boleh mengambil gambar?
Sebetulnya awak televisi itu sudah mencoba meminta pejabat pariwisata Malaysia untuk memberikan semacam surat izin liputan dan pengambilan gambar. Tapi, kata si pejabat, surat semacam itu butuh waktu dua pekan.
Tak kurang akal, mereka itu nekat saja mengambil gambar. Toh mereka diundang secara resmi oleh pemerintah Malaysia.
Berhasil? Tidak. Para pemilik tempat yang akan diambil gambarnya tak memberinya izin. Mereka justru heran kok bisa-bisanya ada jurnalis Indonesia yang mengambil gambar di Indonesia.
Kekacauan itulah yang kemudian membuat si penyiar wanita itu menuliskan pengalamannya di blog miliknya. Perusahaan konsultan public relations tempatnya bekerja juga memuat tulisan itu di sini. Dari sinilah perselisihan terjadi.
Perwakilan Malaysian Tourism Board di Jakarta katanya mencak-mencak dan menegur stasiun televisi itu. Produser TV yang menugaskan awaknya itu kemudian menegur si penyiar wanita yang menuliskan keluhan di blognya. Mereka tampaknya tak senang kalau persoalan itu diumbar ke publik, apalagi lewat blog.
Dari blog sebelah itu, saya kemudian tahu bahwa si produser memberikan semacam hak jawab. Sebagian jawabannya saya kutip di sini:
Adalah Nila yang secara struktur dia ada di bawah saya, sudah menceritakan semuanya, saya juga kecewa dengan apa yang di alaminya, dan akan menegur MTB Indonesia, tapi dengan tetap menjaga hubungan baik.
Saya setuju yang dialami Nila harus diketahui publik.Sayangnya Nila tidak bilang akan menulisnya di Blog, kenapa harus konsultasi? Setidaknya kita bisa membantu sedikit cara menulisnya. Salah satunya misal dengan “menyamarkan” TV stasiun (seperti yg Ndoro tulis “stasiun tv swasta terkenal”) atau dia sebut bahwa tulisan dia sama sekali tidak mewakiki “stasiun tv swasta terkenal” yg menugaskannya karena dia freelancer.
Bahwa ini adalah curhat pribadi (namanya juga Blog).Toh dia tidak dilarang menulis pengalamannya saat dia shooting ke tempat lain. Itulah salah satu rambu yg harus ditaati Nila secara struktural atau etika yang hanya melibatkan saya dan Nila. Secara struktural saya marah padanya.
Aha, ternyata si produser marah karena penyiarnya itu — dia menyebut nama Nila — telah mengungkapkan nama stasiun nasional itu, yaitu SCTV. Dia juga marah karena Nila tak memberi tahu kalau akan menuliskan pengalamannya di blog sehingga si produser tak bisa memberi semacam “petunjuk” agar tulisan Nila tak mengganggu hubungan baik.
Si produser kelihatannya juga marah karena ada salah satu rambu yang tak ditaati. Saya tak tahu apa yang dimaksud rambu itu. Klausul dalam kontrak kerja antara stasiun televisi dan freelancer? Jangan-jangan kontrak itu tak menyebut-nyebut soal posting blog? Jangan-jangan si produser tak mengantisipasi kemungkinan munculnya blog?
Dari kasus ini saya melihat betapa besar pengaruh sebuah posting dan blog itu sendiri. Saya mulai melihat adanya persinggungan antara blog dan media tradisional. Ada hal-hal seperti etika yang dipermasalahkan. Ada juga perusahaan yang belum menyadari kekuatan dan potensi blog, serta menyiapkan langkah antisipasi sebelum terjadi kasus.
Bagaimana menurut Anda?
Mas Wicak,
Mau koreksi nih…
“Masalah muncul di lapangan. Ternyata mereka tak boleh mengambil gambar barang sedetik pun di tempat-tempat yang seharusnya diambil gambarnya”
Di lapangan, saya dan teman2x mendapatkan banyak kesulitan, karena di banyak tempat kita tidak diperbolehkan mengambil gambar. Tapi bukannya tidak boleh mengambil gambar barang sedetik pun.
Akhirnya yang kita lakukan adalah mencuri2x gambar dan sering sekali berdebat dengan tour guide untuk memaksa mengambil gambar di tempat2x tersebut. Habis mau gimana lagi? Daripada gak dapet gambar?
(oya ini komentar pribadi berdasarkan pengalaman pribadi lho… tidak mewakili institusi.. hehe..)
Ini bukan terutama masalah persinggungan blog dan media tradisional (MSM/main stream media). Tetapi lebih masalah “freedom of expression” dan ikatan kerja. Masalah ini pernah menjadi sangat ramai kala seorang pramugari (di AS) di pecat karena tulisan di blog nya. Terkait dengan itu kemudian banyak perusahaan mengembangkan policy/aturan eksplisit tentang apa dan bagaimana karyawan dan pihak lain yang terkait bisa mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan. Dalih ekstrimnya tentu “rahasia jabatan” atau rahasia dagang.
Ya seperti Blog Tempo Interaktif ini… copyrighted by Kelompok Tempo Media, ranah pribadi penulis blognya ter”malu-malu-kucing”kan™
Setiap pihak mempunyai haknya untuk menentukan bagian mana dari kepunyaannya yang boleh dipublikasikan, dan mana yang tidak.
Termasuk di situ tentunya suatu perusahaan. So menurut saya sah2 saja, kalau perusahaan juga menentukan info2 apa saja yang tidak boleh keluar dari ruang lingkupnya. Apalagi di zaman yang serba kompetitiv ini.
Dan kalau memang yang mau disampaikan adalah contentnya, kan bisa digunakan samaran, tanpa menyebutkan nama/pihak yang terlibat.
# nila: terima kasih untuk koreksinya.
# rio: apa hikmah yang bisa dipetik dari kasus blog vs msm?
# acil: maksudnya apa ya?
# mgunawan: masalahnya apakah sebelumnya ada perjanjian untuk tak boleh menuliskan pengalaman di blog?
@wicaksono: lagi2 yang terjadi di negara-negara maju, benturan msm dengan blog adalah saat meluasnya “citizen journalist”. Tiap warga negara dengan akses internet bisa membuat berita sendiri, warga negara sebagai konsumen berita bisa memilih sendiri sumber berita yang tidak main-stream dari begitu banyak blog. Yang terjadi di sana karena msm yang sangat mekanis terasa kering tidak berjiwa, banyak orang lebih percaya pada berbagai blog yang personal.
Satu sisi ini terkait dengan tautan awal posting ini kan, media yang sangat berorientasi pasar mengejar rating mau bikin fragmen diaku berita. Penonton atau pembaca mungkin nanti akan lebih tertarik membaca tulisan orang-orang yang sungguh2 mengalami, bukan melaporkan demi profesi, apa lagi yang juga membuat fragmen sebagai bumbu.
Perhatikan bahwa liputan Obama di internet sekarang berfokus pada penggunaan social network (ala friendster) sebagai salah satu media kampanya.
Semua ini menjadi model komunikasi yang mengurangi peran kelompok (usaha) besar sebagai penentu isi media massa. Menarik untuk melihat perbenturan Obama (kalau berhasil mendapat simpati netter) berhadapan dengan Hillary yang akrab dengan Rupert Murdoch. Ini baru perbenturan blog dengan msm.
Singkatnya: blog profesi perlu ‘code of conduct’ jika tidak ingin di-dooced
Blog tempointeraktif punya kan kebijaksanaan seperti itu?
Semakin meningkat dan semakin tinggi potensi penyebaran pengaruh lewat jejaring weblog, boleh jadi merupakan alasan mengapa MSM mulai terusik dan mulai menyelidiki fenomena ini. Weblog sebagai jurnalis sekarang ramai dibicarakan.
Berbeda dengan MSM, weblogger bisa dimaklumi tidak kepikiran untuk membekali dirinya dengan segudang perangkat aturan, kontrol dan resiko penyebaran pengaruh. Weblogger tidak mencari keuntungan materi dengan semakin meningkatnya jumlah pembaca, tidak pula mencari pendapatan iklan.
Secara individu, weblogger kelihatan bangga dengan status amatir. Weblogger tidak perlu tuh rapat redaksi, koreksi redaksional demi tercapainya keakuratan berita. Toh dunia sekarang dan masadepan bakal penuh dengan ketidakakuratan.
[...] Dan jika ini benar, pun gayung bersambut. Menurut, ndoro kakung, ndoronya (baca: juragan) blogger terkemuka di Indonesia, wartawati sebuah televisi swasta yang bikin heboh dengan personal report dalam blog-nya pun ternyata juga bekerja pada konsultan pi ar. (Karena keterbatasan saya dalam berburu informasi, yang ini saya agak ragu, apa iya kerja pada media dan konsultan pi ar, atau ??? halah) [...]
saya ayu koeman, presenter melancong yuk sebelum digantikan oleh nila tanzil.sewaktu menjadi presenter melancong yuk, saya mengalami kendala yg sama atau bahkan lebih parah dari yang di alami nila, tapi alhamdulillah dengan adanya kerja sama yg baik antar kru dan penyampaian keinginan yg baik juga ke pihak bersangkutan, shooting bisa berjalan dengan lancar.
sangat disayangkan sekali dengan adanya masalah ini, 2 instansi bersangkutan mengalami pencemaran nama baik, baik itu malaysia tourism board maupun SCTV. semestinya nila tanzil mengerti benar dampak yg ditimbulkan dengan penulisan blog tersebut yaitu menyeret 2 instansi ke dalam wadah publik. apalagi ia mengaku sebagai seorang jurnalis dan PR, dimana kedua profesi tersebut sangat familiar dengan “pencemaran nama baik”.
Saya mendengar dari beberapa sumber nila tanzil berkelit bahwa “blog adalah sesuatu yg personal dan terserah seseorang mau menulis apa di blog nya”, mohon maaf saya harus mengatakan ini, tapi menurut saya itu pikiran yang agak dangkal, ketika sesuatu bisa dirasakan, dilihat, dibaca oleh orang banyak, maka hal itu bukan lagi menjadi hal yang personal. Semestinya nila tanzil sadar, ketika ia menulis blog tersebut ia dalam posisi mewakili 1 instansti tempat ia bekerja, dimana seharusnya ia menjaga nama baik ataupun menjaga hubungan baik antara instansi tersebut dengan isntansi lain yang berkaitan. terlebih lagi instansi yg diwakili oleh nila tanzil waktu itu adalah SCTV, stasiun TV swasta nasional yg sudah sangat mapan.
Boleh ditanyakan kepada wartawan manapun betapa susahnya mendapatkan berita, berbagai kendala akan menunggu kita, tapi itulah profesi wartawan, dan kendala adalah hal yang biasa bagi mereka. kita berhak complain atas masalah yg kita hadapi, tapi kita tidak pada tempatnya untuk melakukan pencemaran nama baik terhadap instansi yg berkaitan.
Bila kita lihat lagi masalah yg dialami nila tanzil, akan sedikit terasa janggal. Dari sekian banyak wartawan indonesia dari berbagai jenis media, kenapa hanya nila yang mengalami masalah???sedangkan media tv lain dari indonesia yang juga meungkin sedang membuat program wisata serupa tidak bermasalah.. Jadi siapa dan dimana letak kesalahannya???
Selain itu sangat disayangkan juga respon yang diberikan malaysia tourism board sangat tidak elegan..Mungkin mereka harus menyewa jasa konsultan PR agar respon yang diberikan ke pihak luar bisa dipersiapkan lebih dahulu dampak dan jangka panjangnya…jadi gak asal nyeletuk..
NB: saya tidak pro ke SCTV atau ke siapapun..saya hanya mengungkapkan pendapat pribadi saya selaku mantan presenter melancong yuk..
terima kasih..
# ayu koeman = saya tak bisa melakukan verifikasi apakah komentar anda ini benar-benar ditulis oleh ayu koeman yang mantan presenter acara “melancong yuk” itu atau hanya orang yang mengaku-aku. tapi, siapa pun anda, saya tetap menghargai pendapat anda meskipun berbeda. salam.
saya memang ayu koeman..boleh di cek di friendster dengan ID yg sama penulisan ayukoeman
[...] Menjelang siang hari ini, setelah menonton MTV Pimp My Ride, tidak sengaja aku lihat iklan e-lifestyle untuk hari ini juga. Sekilas yang membuat aku menarik, yang akan dibahas dalam acara e-lifestyle hari itu ialah tema berjudul “Malaysia Diguncang Para Blogger”. Melihat cuplikannya, serta screenshot blog yang ditampilkan, langsung aku tahu kalau ini masalah tulisan blog Nila Tanzil, reporter SCTV yang membuat Menteri Pariwisata Malaysia marah. Kebetulan saya pernah membaca tentang ini dari Blog Tempointeraktif. Secara aku blogger juga, jadi tertarik untuk melihatnya. [...]
FSLDK TEGAS
Tolak Israel ke Indonesia
Kami atas nama Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDK) menolak tegas kehadiran delegasi Israel di bumi Indonesia. Israel tidak pantas dan tidak layak menginjakkan kaki di tanah air Indonesia. Setiap hitungan waktu bahkan helaan nafas Israel senantiasa menimbulkan keresahan, kerusakan dan kerugian. Merampas tanah Palestina, mengusir rakyat Palestina dari negerinya, membantai bocah-bocah tak berdosa, menjarah masa depan mereka. Israel telah terang-terangan mendeklarasikan dirinya sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Bahkan sejatinya, Israel ‘begitu teguh’ dengan ideologi sebagai bangsa penjajah yang kejam, rasis, politis dan teroris.
Supaya menjadi perhatian siapa saja. Ketahuilah, dan ingatlah! Bagi Negara Kesatuan Rapublik Indonesia, kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sehingganya, setiap jengkal tanah yang terjadi penjajahan, berarti penjajahan terhadap tanah air Indonesia. Setiap darah yang menetes lantaran penindasan oleh suatu bangsa, berarti penindasan, sekaligus juga menyalakan api peperangan terhadap bangsa Indonesia. Cukuplah sudah. Israel terlalu punya banyak bukti sebagai bangsa penjajah. BIADAB Tidak ada alasan untuk menerima sang penjajah Tidak ada pula alasan untuk tidak menolaknya. Membiarkan delegasi Israel ke indonesia, sama saja artinya membiarkan penjajah. Tolak delegasi Israel di bumi Indonesia.
Kepada para pemimpin Republik ini, semoga senantiasa berhati-hati, waspada, bersikap dan bertindaklah arif lagi bijaksana. Ceroboh dan gegabah adalah pengkhianatan terhadap amanah bangsa dan negara. Tetaplah, berselingkuh dengan Israel adalah dosa besar, dan ummat akan kian kecewa berat. Renungkanlah!
Pusat Komunikasi Nasional
Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus
(PUSKOMNAS FSLDK-FKI RABBANI UNAND)
Hasdi Putra
Koordinator
(SALAM UI, JS UGM, GAMAIS ITB, LDK UNJ, UKDM UPI, JAM UNY, JF UMM, JMMI ITS, JN UKMI UNS, FOSMA UNSYIAH, BIROHMAH UNILA, PUSDIMA UNMUL, UKKI UNHALU, BABUSSALAM UNKHAIR, BABBUL HIKMAH UNRAM dan seluruh Pusat Komunikasi Daerah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah
[...] Saran: Bagi siapapun yang ingin menuliskan pengalamannya di sebuah “media publik” (pun intended) seperti blog pribadi, mohon pastikan bahwa Anda tidak menyalahi tuntutan peraturan etika Non-Disclosure Agreement tidak jelas tidak tertulis implisit dari pihak terkait. Salah-salah nanti bisa jadi kayak Nila vs. SCTV, ato kayak…. yah, tau sendiri lah Masih untung (banget!) lhoh kalo nggak dituntut ke pengadilan [...]
[...] Hari ini saya dapat beberapa kali telepon dan SMS dari Bank Mandiri, yang isinya dan intinya adalah… sorry ye, takutnye gue dituntut lagie karena melanggar rambu-rambu alias NDA. (???) Penonton dipersilakan kecewa [...]
saya akan memberi protes kepada malaysia yang hanya bisa mengambil hasil budaya indonesia,emangnya malaysia tidak punya kreatifitas budayanya sendiri.
[...] Ada nggak sih hubungannya JetBlue dengan Bank Mandiri? Hayo?Hari ini saya dapat beberapa kali telepon dan SMS dari Bank Mandiri, yang isinya dan intinya adalah… sorry ye, takutnye gue dituntut lagie karena melanggar rambu-rambu alias NDA. (???) Penonton dipersilakan kecewa [...]