Enak di Blog dan Perlu

Qaris

Hari ini, 14 Februari, saat sejumlah orang merayakan hari Valentine, di Cirebon sekelompok siswa justru merazia teman sekolahnya yang membawa pernak-pernik Valentine. Menurut mereka, peringatan Valentine’s Day adalah kebudayaan sekuler yang tidak mencerminkan ketimuran (Tempo Interaktif, 14 Februari).

Saya tidak akan memberikan pendapat soal setuju atau tidak setuju. Ini masalah yang berkaitan dengan keagamaan, dan mereka boleh memiliki ijtihadnya sendiri.

Yang saya tidak setuju adalah caranya. Masih SMA kok sudah senang razi. Saya  berpikir, bagaimana jika demonstrasi anti Valentine itu dibuat berbeda. Bukan cuma orasi dan pasang poster caci maki, apalagi razia seperti itu. Cobalah lebih kreatif, karena untuk didengar orang, demonstrasi harus berbeda. Sekarang demonstrasi, dengan berbagai isu, sudah teramat jamak dilakukan. Jadi, kalau tidak beda, akan dianggap angin lalu.

Sekadar berandai-andai dan contoh, bagaimana kalau sikap anti Valentine itu digelar dengan merayakan hari patah hati di tanggal 14 Februari (atau 13?). Yang datang tidak diminta membawa poster dan orasi dengan tangan terkepal, tapi cukup dengan membawa foto mantan kekasih dan membakarnya. Kalau masih mau orasi, buatlah lagu atau puisi tentang para mantan itu. Pasti seru!

Demonstrasi yang berbeda pernah dilakukan oleh para bapak yang karena bercerai tidak boleh lagi menjenguk anaknya, atau paling tidak dibatasi. Dan pengadilan selalu memberikan hak asuh kepada ibu jika perceraian terjadi. Mereka memprotes diskriminasi gender ini dengan berdemo memakai baju superhero seperti Spiderman. Cukup menarik, dan banyak wartawan foto mengabadikannya.

So, saya tidak akan menutup posting ini dengan mengucapkan “Happy Valentine’s Day,” karena mereka pasti akan memprotesnya.

Komentar [44]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

44 Komentar untuk “Anti-Valentine’s Day”

  1. eddys | 14 February, 2007 21:15

    Hahaha, saya sependapat dengan tulisan ini! Siswa SMA razia, hmmm, sepertinya ada semacam doktrin yang telah menyebabkan mereka berbuat begitu. Dalam satu sisi, menurut saya ini sebenarnya menyedihkan. Akhir-akhir ini masyarakat kita makin terkotak-kotak saja, terhadap hal-hal prinsipil maupun hal sepele. Kini para remaja juga telah mulai bertindak berbuat semacam sekat-sekat, kotak-kotak …

  2. ian | 14 February, 2007 21:24

    Hati-hati, mgkn ntar lagi bakal ada aksi anti-blog, huakakaka! Kenapa sih pake gerakan razia-razia segala? Kalau gak suka, ya, jangan rayakan, itu saja! Apa hak mereka ngelarang-ngelarang dan ngerazia? Hahaha, pasti ada sesuatu nih, sesuatu yang jadi latar belakang dan, mungkin, jadi hal yang tak tersentuh!

  3. mgunawan | 14 February, 2007 23:55

    Yang yunior belajar dari sang senior.
    sang murid mengikuti pola pemikiran sang guru.
    Kalau yang ditirunya berpikiran sempit, tidak heran yg menirunya pun berpikiran sama.
    Please lah, negara ini masih banyak yg musti diurus, kenapa mempersoalkan apakah valentine itu budaya timur atau barat.
    Saya termasuk yg tidak begitu setuju dengan acara Valentine. Lalu bagaimana bentuk ketidaksetujuan saya? Gampang… Jangan rayakan valentine. That’s it!
    Jangan paksa orang utk mengikuti kehendak kita.

  4. Piet | 15 February, 2007 10:09

    Masih mending anak SMA, di surabaya malah anak SD demo (belajar demo) - “Valentine lebih berbahaya dibanding flu burung”, kata mereka.
    Sebetulnya apa yang spesial dari “valentine’s day”?
    Apa yang spesial dari “Tahun Baru”? Semua hari toh sama aja. Barangkali yah biar libur banyak, trus orang bisa “mundur” sejenak buat mengukur laju larinya (mungkin sudah tidak punya kasih(an) lagi). Jadi perlu satu hari spesial buat “kalibrasi”. Kalo cuma yayang-yayangan sih, malam minggu malah lebih asyik!

  5. hanny | 15 February, 2007 11:09

    Nah, razia-razia macam ini menunjukkan betapa anak-anak sekolah sudah menjadi semakin tidak kreafif :(

    Ngomong-ngomong, soal peringatan hari patah hati tiap tanggal 14 Februari … gimana kalau Tempo yang adain? Saya daftar ya!

  6. musafir muda | 15 February, 2007 11:27

    menurutku sih yang bermasalah adalah sekolah, lembaga pendidikannya. Lah, cara pandang sektarian, ideologis, macam itu kan produk dari pendidikan yang gagal. Mungkin, bukan pendidikan lagi. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan, justru malah membuat orang-orangya bodoh, buta, dan tidak merdeka. Kasihan sih pada kawan-kawan muda kita…

  7. qaris | 15 February, 2007 13:06

    Yup, saya juga sebenarnya gak setuju Valentine. Haree geneee masih valentine? Tapi saya lebih gak setuju dengan razianya. Plih des, gak usah dirayain aja sudah cukup sebagai penentangan.

  8. achedy | 15 February, 2007 14:11

    Hari valentine kemarin juga saya lalui dengan biasa saja.

    Saya tidak tahu apakah anak-anak itu hanya tangan pinjaman atau karena kesadaran sendiri. kalaupun karena kesadaran sendiri, tidakkah ada cara yang lebih bijak ? Cara sweeping hanya akan menimbulkan antipati. Betul tidak (haah kaya’ AAgym aja :D )

  9. ibnu | 15 February, 2007 16:23

    Hari valentine kemarin juga saya lalui dengan rutinitas biasa. Tanpa ada perayaan. Tukar menukar kado berupa bunga, cokelat, VC, atau pesta pora apalagi.

    Ya..sekedar bikin catatan kecil di tengah-tengah kepenatan aktivitas keseharian.

    Meski begitu, saya sempat berkumpul bersama kawan-kawan guna merefleksikan hari Kasih Sayang tersebut. Hingga terbentuklah mushaf ` Aku, Valenti,s Day dan Seonggok tumpukan sampah`. (lihat selanjutnya di blogku). Terimakasih.

  10. masjito | 15 February, 2007 20:00

    Yang aku tau valentine itu bagi bagi coklat.
    Yang aku tau valentine itu banyak yang kasih bunga.
    Yang aku tau valentine itu banyak muda mudi pulang pagi.
    Yang aku tau valentine itu hotel hotel penuh.
    Yang aku tau valentine itu persedian kondom di apotik habis.

  11. blonty | 15 February, 2007 20:01

    lha mbok/em> biar aja. mau Palentinan atau kagak, kan urusan masing-masing pribadi. Kalau tak sependapat karena Palentinan bertentangan dengan akidah, mendingan anak didik diajari moralitas yang bener. Saya sih, kuatir jangan-jangan para gurunya malu poligami (karena lagi ramai kecaman), terus kompor-kompos muridnya supaya nyari kerjaan yang tak perlu itu… :p hidup Qaris!

  12. Ahmad Dzikir | 16 February, 2007 05:44

    Bukan Valentine’s Day kali pak wicaksana…. tapi Ngapelin’s Day, makanya di razia.

  13. Tukang Rokok Eceran | 19 February, 2007 23:38

    Valentine’s Day LAPINDO

    Hari kasih sayang Lumpur terhadap Rakyat disekiar

  14. RIO RAMABASKARA | 22 February, 2007 13:19

    Saya sangat setuju dengan adanya razia terhadap mereka yang merayakan Valentine. bayangin aja.. secara ga langsung sebenarnya dengan adanya perayaan valentine’s day itu telah membuat identitas bangsa ini sedikit demi sedikit berkurang. Para siswa yang nota bene-nya adalah para caln pewaris negeri ini telah di doktrin mati matian untuk merayakan sebuah kesia siaan (valentine’s day), udah sewajarnya mendapat teguran keras seperti tindakan razia yang dilakukan oleh p[ihak sekolah dengan kordinasi dari DIKNAS.

    Tunjukin dong identitas sebagai WNI Sejati, apa hari hari selain tanggal 14 Februaru tidak ada kasih sayang…? pikirkanlah wahai engkau manusia manusia yang ber-akal…!

  15. bdwiagus | 23 February, 2007 12:35

    Kalau memang manusia berakal, bisa cari cara kreatif lain untuk menangkal pengaruh ritual perayaan hari Valentine.
    masih SMA kok sudah ketularan otoriternya orba.
    Main razia segala. Aihhh..

  16. Tin | 27 February, 2007 21:32

    Indahnya hidup ini. Bermacam bentuk kejadian menjadi hiasan. Warnanya seperti pelangi. Siapa yang tidak suka pelangi? Kita semua pernah nyanyi lagu : “Pelangi pelangi, alangkah indahmu. Merah kuning hijau, dilangit yang biru. Pelukismu agung…..” Pertanyaannya : Apabila satu warna pelangi dihilangkan, apakah namanya tetap pelangi? Kalau pelangi diganti nama rainbow, apakah bukan pelangi? Pelangi atau rainbow, apakah menghindari kita dari musibah banjir kemarin?

  17. RIO RAMABASKARA | 28 March, 2007 11:40

    Hukum, oh…Hukum dimana rimbamu…?
    Inilah mungkin, ucapan yang
    tepat untuk menggambarkan kegalauan
    masyarakat tentang penegakan hukum
    yang kian lama tidak paripurna, tidak
    bisa dipungkiri lagi tiap lini
    kehidupan membutuhkan penegakan hukum
    yang sejati, yang dalam proses
    pelaksanaannya akan menciptakan
    ketentraman, baik bagi para penegak
    maupun obyek penegakannya.
    Kita awali dari para penegak
    hukum, bukan suatu rahasia umum lagi,
    bahwa untuk masuk menjadi aparat saja
    membutuhkan puluhan juta rupiah,
    logikanya, kalau untuk masuk saja udah
    pake duit segala, truz tentu dong bagi
    orang-orang yang berakal, bakal
    muterin otak sedemikian rupa supaya
    cepet kembali modal. Makanya jangan
    salah nantinya dalam prakteknya ada
    kemudian muncul istilah hukum jalanan
    (bagi yang ga bayar, ya ga bias
    jalan), maksudnya apaan se…?
    he..he..he.. udah pada pintar kan.#61514; #61514;
    Selanjutnya, hukum adalah
    milik kaum modal besar (tapi buat
    saya, mereka lebih cocok disebut
    sebagai kaum pengkhianat besar), yup…
    itulah mereka. Mentang-mentang punya
    duit,..eh sikut sana-sikut sini semau
    hati. Mau bukti…? Masih ingat Eddi
    tansil…? Dia udah maling duit kita
    sekitar tahun 90-an, kira-kira waktu
    itu saya masih duduk di SD (saya
    sech..bukan hanya sekedar duduk aja,
    tapi loncat-loncat juga pernah,he..he..
    #61514;.) Sekarang katanya sech boss eddi
    (bukannya boss eddi si paranormal lho)
    udah jadi juragan Bir di Hongkong,
    yah..mentang mentang jadi pengusaha
    Bir, jangan-jangan dia seenaknya aja
    ngasi minum Hukum kita dengan Bir,
    makanya hukum kita kadang sadar,
    kadang juga keblinger. Ya ga se…?
    Para pelajar (bagi saya lebih
    cocok disebut sebagai pewaris negeri)
    juga ikut ikutan keblinger, liat aja
    waktu pelaksanaan MOS (Masa Orientasi
    Siswa) ataupun OSPEK, semua aturannya
    dibuat seenak perutnya aja,
    #61558;Pasal 1
    Panitia tidak pernah salah
    #61558;Pasal 2
    Kalau panitia bersalah liat kembali
    pasal satu (1)

    Apa ini ga keblinger…? Kita-
    kita yang mustinya dicetak sebagai
    orang yang taat hukum, eh…malah
    diajarin untuk jadi orang yang kebal
    hukum, egois, bin sok galak.
    Udah nonton video rekaman
    eksekusi Saddam Hussein…? Dari
    cuplikan itu aja kita udah bisa lihat
    juga bahwa adanya ketidak beresan
    hukum, masa’ se orang boleh dihukum
    pada saat perayaan hari besar (Idhul
    Adha), ini ga dibenerin oleh hukum
    setempat (Iraq), dan aturan Islam.
    Tapi, kembali lagi, ada satu lagi yang
    menyebabkan hokum ini ‘makin gila’, ya…
    itu dia, adanya intervensi bermuatan
    politik. Apa urusannya Amerika ikut
    campur di Iraq…? Tuh kan pasti ada
    muatan politisnya. Begitu juga dengan
    bangsa Palestina, yang menginspirasi
    saya untuk berekspresi, ayo dengar
    jeritan tangis anak anak, para wanita
    yang menjadi janda korban kebiadaban
    Israel dan Amerika, ketidakadilan ini
    terjadi karena ketidak beresan hukum,
    bagaimana ga beres, wong Amerika mau
    ikut ikutan membentuk hukum di Iraq
    dan Palestina, Kembali sejarah
    membuktikan intervensi asing juga
    mempunyai peranan penting bagi
    mandeknya penegakan hukum.
    Untukmu Negaramu, dan untukku negara
    ku..ne ungkapan yang cocok kita
    suarakan kepada pemerinta Amerika.
    Makanya ga salah juga kalau
    hukum itu dikatakan ibarat Pisau, yang
    hanya akan tajam kebawah, tapi tumpul
    keatas. Orang-orang yang level
    kejahatannya ga seberapa (seperti
    maling ayam, maling jemuran) malah di
    gebukin dulu ama massa baru diserahin
    ke polisi, tapi lain perkara kalau
    golongan atas yang berbuat, tuh
    contohnya udah banyak koruptor yang ga
    bisa tersentuh hukum padahal udah
    jelas jelas bukti jahatnya
    Solusi jitu untuk mengatasi itu semua
    adalah, dengan memperbaiki system
    hukum itu sendiri, kalau ada sedikit
    kesalahan hukum maka kesalahan itu
    akan merembet ke penegakan hukumnya.
    Sehingga kita dapat mempermalukan
    orang-orang yang dengan bangganya
    selalu mengatakan “Negara yang paling
    aman, tertib, dan sejahtera adalah
    negara yang paling sedikit sarjana
    hukumnya” ungkapan ini kan seakan akan
    menghina para sarjana hukum, maupun
    kandidat sarjana hukum (Termasuk saya
    juga, Insya Allah 2009. Doain yee..)
    Inilah sebenarnya yang seharusnya
    lebih diutamakan oleh rekan-rekan ku
    Aktifis Mahasiswa, jangan hanya Cuma
    bias minta pendidikan murah aja, tapi
    penegakan hukumnya di kesampingkan.
    Tanya kenapa…?
    Ayo Rangkul semua, ga usah
    mandang apa-apa lagi (sekarang bukan
    saatnya tebar pesona), yang penting
    ada kesungguhan, dan kecintaan kepada
    bangsa. Udah comot aja, jadikan rekan
    kita untuk sama-sama menegakkan
    Keadilan. Insya Allah Damai kian
    tercipta.
    Para pembenci keadilan boleh
    saja mengatakan bahwa perjuangan kita
    sudah mati, namun ingatlah saudaraku,
    sesungguhnya semangat ini tidak akan
    pernah padam. Selama masih ada Batu
    bata, air yang mengalir, selama masih
    ada pohon yang melambai, angin yang
    berhembus, maka selama itulah semangat
    perjuangan ini akan tetap
    dikumandangkan.
    Mungkin semua unsur tadi (Batu bata,
    air, pohon,) kalau berdiri sendiri
    akan menjadi unsur yang tidak
    bernilai. Namun ingatlah, ketika semua
    unsure itu bersinergi menjadi satu
    maka akan menghasilkan sebuah bangunan
    yang kokoh. Ya.. sebuah bangunan yang
    kokoh, itulah bangunan yang bernama
    Indonesia. Pertanyaan yang muncul
    kemudian adalah siapakah arsitek yang
    akan mempersatukan semua unsure tadi…?
    Jawabannya ada pada benak kita semua..
    Sesungguhnya perjuangan ini tidak akan
    mampu untuk diusung oleh segelintir
    orang, apalagi oleh mereka yang seolah-
    olah berkerumun tidak beraturan.
    Ibarat buih di pantai, yang sekali di
    hempaskan oleh gelombang, akan hilang
    lenyap didalam pepasir. Jangan sampai
    pergerakan ini di bungkam…!
    Bangkitlah saudaraku.. satukan
    langkah, Teriakkan suara-suara
    keadilan, solidkan pergerakan untuk
    menuntaskan perubahan…!!!

  18. RIO RAMABASKARA | 26 April, 2007 10:32

    Ka-TeMI
    (Koalisi Bersama Anti Telepon Mesum Indonesia)

    Bismillahirrahmanirrahim…
    Ka-TeMI adalah suatu wadah Komunikasi dan Advokasi bagi Korban Tindakan Pemerasan sekaligus terror, yang bermotif Telepon Curhat dan sejenisnya. Ka-TeMI lahir dari perasaan senasib dan keprihatinan terhadap Hancurnya Moral generasi muda dengan adanya penyalahgunaan Alat telekomunikasi.
    Dengan Iklim Bebas saat ini menjadi sebuah lahan subur bagi perkembangan ‘Telepon Mesum’, yang secara tidak langsung menimbulkan rasa ketagihan dan Berujung pada sebuah aksi terror.
    Banyaknya Operator layanan Premium call, yang menawarkan fasilitas Phonesex bertopeng curhat dewasa ini harus menjadi perhatian serius semua pihak, Dengan tarif Rp.1750 per 30 detik secara tidak langsung akan mengakibatkan adanya pembengkakan biaya telepon,
    Dari pengalaman dan hasil pendataan kami ternyata dengan hadirnya layanan telepon mesum dan sejenisnya, banyak melahirkan korban korban baik dari segi ‘Imajinasi’ Maupun Materi.
    Dengan Melakukan panggilan ke telepon Mesum tersebut Imajinasi tentang Phonesex itu sendiri makin tercipta, seperti melakukan Onani secara terus menerus, dan karena dilakukan secara terus menerus maka secara tidak sadar para pelanggan akan mengalami kerugian Materi.
    Contoh saja Di Kota Mataram, Mahasiswa sebuah Perguruan tinggi negeri terkemuka dikota itu, setelah melakukan telepon mesum, kemudian mendapat ancaman dan terror seperti “ Ketika tidak melakukan panggilan ke telepon mesum itu lagi, maka Pihak Telepon mesum akan meneror dengan cara mengancam dan terus menelepon, yang secara langsung akan mengganggu kenyamanan korban tersebut”,
    Inilah yang menjadi PeeR besar kita bersama, untuk mengatasi itu semua. Gelombang aksi mendukung RUU APP setahun lalu tidak memiliki bargaining lagi, seandainya semua pihak sepakat untuk bersama menolak dan mengecam serta mendesak pemerintah untuk menutup operasi layanan setan tersebut, Insya Allah akan dapat menjadi sebuah angin segar bagi para pemerhati dan Pecinta Moral bangsa..

    Dukung Kegiatan ini dengan cara menyebarkan ajakan menolak telepon mesum tersebut, baikmelalui media Cetak maupun Elektronik.

    Dukungan, kritik dan saran saran strategis sangat dibutuhkan untuk penyelamatan moral bangsa kedepan.
    Kirimkan Tanggapan, saran ataupun kritik anda ke ryogen554_justice@yahoo.com

    Koordinator Ka-TeMI

    Muhammad. Fathy Farhat

  19. RIO RAMABASKARA | 28 April, 2007 08:36

    FSLDK TEGAS
    Tolak Israel ke Indonesia
    Kami atas nama Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDK) menolak tegas kehadiran delegasi Israel di bumi Indonesia. Israel tidak pantas dan tidak layak menginjakkan kaki di tanah air Indonesia. Setiap hitungan waktu bahkan helaan nafas Israel senantiasa menimbulkan keresahan, kerusakan dan kerugian. Merampas tanah Palestina, mengusir rakyat Palestina dari negerinya, membantai bocah-bocah tak berdosa, menjarah masa depan mereka. Israel telah terang-terangan mendeklarasikan dirinya sebagai ancaman bagi perdamaian dunia. Bahkan sejatinya, Israel ‘begitu teguh’ dengan ideologi sebagai bangsa penjajah yang kejam, rasis, politis dan teroris.

    Supaya menjadi perhatian siapa saja. Ketahuilah, dan ingatlah! Bagi Negara Kesatuan Rapublik Indonesia, kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sehingganya, setiap jengkal tanah yang terjadi penjajahan, berarti penjajahan terhadap tanah air Indonesia. Setiap darah yang menetes lantaran penindasan oleh suatu bangsa, berarti penindasan, sekaligus juga menyalakan api peperangan terhadap bangsa Indonesia. Cukuplah sudah. Israel terlalu punya banyak bukti sebagai bangsa penjajah. BIADAB Tidak ada alasan untuk menerima sang penjajah Tidak ada pula alasan untuk tidak menolaknya. Membiarkan delegasi Israel ke indonesia, sama saja artinya membiarkan penjajah. Tolak delegasi Israel di bumi Indonesia.

    Kepada para pemimpin Republik ini, semoga senantiasa berhati-hati, waspada, bersikap dan bertindaklah arif lagi bijaksana. Ceroboh dan gegabah adalah pengkhianatan terhadap amanah bangsa dan negara. Tetaplah, berselingkuh dengan Israel adalah dosa besar, dan ummat akan kian kecewa berat. Renungkanlah!

    Pusat Komunikasi Nasional
    Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus
    (PUSKOMNAS FSLDK-FKI RABBANI UNAND)

    Hasdi Putra
    Koordinator

    (SALAM UI, JS UGM, GAMAIS ITB, LDK UNJ, UKDM UPI, JAM UNY, JF UMM, JMMI ITS, JN UKMI UNS, FOSMA UNSYIAH, BIROHMAH UNILA, PUSDIMA UNMUL, UKKI UNHALU, BABUSSALAM UNKHAIR, BABBUL HIKMAH UNRAM dan seluruh Pusat Komunikasi Daerah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus)

  20. tandirus | 12 July, 2007 12:01

    dari dulu valentine dilaksanakan dg adem ayem…
    remaja, bahkan anak kecil memakan mentah2…
    tidak banyak yg bertanya…
    taunya hari itu pacarannya hrs lebih…

    dengan razia mungkin ada “kerikil” yang mengguncang kepalanya tuk berpikir…

    kenapa? kenapa? dan kenapa?

    dengan itu mereka akan belajar…

    (kali yee…..)

  21. mone | 8 November, 2007 15:53

    Kita memang latah budaya. Tapi keuntungan jelas di sektor ekonomi tuh: orang jualan coklat, orang jualan bunga, para kurir, orang jualan bantal warna pink, dll….

  22. ivan | 11 February, 2008 14:35

    saya setuju dengan pendapat diatas karena saya tidak suka dengan valentine day karna seperti serigala berbulu domba

  23. abdul | 12 February, 2008 14:21

    valentine budaya sekuler bukan budaya timur?
    ngomong-ngomong soal timur, coba pikirkan ini:
    kalo kita di sini tanya timur ada dimana? Jawabannya arab atau afrika, barat ada di amerika dan amerika latin. Nah kalo kita di arab atau afrika timur ada dimana? barat ada dimana? pasti jawabannya bukan lagi seperti jawaban pertama.
    Kaitannya dengan valentine adalah bukan lagi terletak pada asal kebudayaan tapi nilai kebaikan yang terkandung didalamnya seperti memberikan kasih dan sayang kepada sesama.
    Masa sih hal yang baik dilarang?
    Setahu saya kalau ada hal baik yang dilarang berarti yang melarang itu adalah hal jahat. Tidak mungkin hal baik melarang hal baik, tapi sangat mungkin hal jahat melarang hal jahat apalagi hal jahat melarang hal baik.
    Kalau kemudian hari valentine dipergunakan para pasangan muda belum kawin untuk melakukan perbuatan yang asusila itu sih manusianya yang salah berlaku, bukan hari peringatannya, bukan pula budayanya.
    Lha wong bukan hari valentine aja banyak perbuatan asusila koq.
    Jadi melarang memperingati hari valentine adalah suatu upaya pembodohan bangsa karena sama saja melarang orang untuk berbuat baik.
    Kalau sudah begitu tidak heran bangsa ini kemudian akan dikenal sebagai bangsa yang biadab bukan beradab.
    Hati-hati kaum nasionalis atas upaya-upaya meng-”kotak-kotak”-kan bangsa oleh kaum non-nasionalis!!

  24. ecky | 14 February, 2008 13:35

    sya tidak setuju dengan abdul,

    dan kalo ditanya timur-barat ada dimana?bukankah patokannya itu 1 aja(kl gk slh buju n0l)?
    piye tho?

    no valentine’s day

  25. Ferdy | 14 February, 2009 02:13

    pendapat saya, valentine day’s itu ya hari dimana kita bertukaran coklat dan memberi kasih sayang yg lebih dari hari biasa.

    saya cuma bingung, masi aja ada orang yg sampe cape2 orasi anti valentine la, dan yang bikin malu lagi sampe2 razia di sekolah dan yg merazia adalah murid2 sekolahnya sendiri..

    ya ampun, pada ga ada kerjaan yg lebih baik apa? kalo ga ngerayain valentine ya sudah tidak usah mengganggu yang merayakan kan? saya juga tidak merayakannya, tetapi plis dong hari gini masi ngurusin yg ga penting..

    coba liat sisi baiknya, orang2 yg berbisnis coklat bisa untung besar di saat valentine, toko2 bunga juga laris manis, boneka2 juga laris.. dan tukar2 hadiah juga merupakan momen yang bagus..

    plis de hari gini masi ngurusin yang ga penting.. mending kita belajar2 pinter2 biar indonesia bisa keluar dari krisis..

    ini semua cuma pendapat gw.. makasih

  26. Junaidi | 14 February, 2009 07:02

    selain hari velentine tidak ada kasih sayang?
    selain hari ibu kita tidak peduli pada ibu kita?
    selain 17Agt kita tidak punya semangat patriotik?
    hari2 itu cuman sbg moment utk mengingatkan, merayakan dan mensyukurinya.
    bagi yg tidak merayakan sante ajalah bro

    http://id.wikipedia.org/wiki/White_Day
    http://id.wikipedia.org/wiki/Black_Day

  27. raden | 9 October, 2009 08:06

    valentines day…adalah hari dimana pria merayu dan wanita pingin dibohongi….

  28. goblok | 12 February, 2010 04:14

    lo tuh yang gak kreatif. foto mak lo aja yang dibaar gimane. mo razia kek, mo demo kek, klo lo gak suka diem aje nape.? goblok gak ngaca

  29. zanco | 13 February, 2010 11:20

    jah anti valentine ne….sory valentine w mah tiap hri…..ga cuma di tgl 14 doang

  30. Anti Valentine | 22 January, 2011 17:54

    Mmh … aku stuju tuh!!!! aku lg nyari inspirasi buat Anti Valentine. Say No to Valentine!!!!!

  31. ina | 22 January, 2011 18:17

    Betul … aku stuju banget ! Valentine Day sering disalah gunakan cowok cewek pacaran, kebablasan lagi. Sudah banyak bukti.

  32. galih jk | 3 February, 2011 19:21

    apapun lah alesannya ngerayain ato ga ngerayain valentine, yang penting kita sebagai makhluk yang udah dikaruniai akal dan fikiran, lebih baik kita mengkaji dl apa valentine itu, mlai dr sejarah sampai dampak politik,sosial dan budayanya,trutama wat indonesia. klo udah br deh ngomong. mslah pro ato kontra ya terserah, ya pnting bkn cm ikut2an, tp pnya pgangan.

  33. galih jk | 3 February, 2011 19:28

    satu lagi. yang jelas valentine day aq ga suka. knp? yg jlas hr itu cm bikin ribut antara yang pro ma yang kontra.pa ga ada yang lbih pnting bwt diributin?

  34. galih jk | 3 February, 2011 19:33

    aku bkn pihak netral. tp aq adlah pencetus hari vlntne yg udh brhasil bqn anak muda trpecahbelah. gmpangkan caranya…. hahaha… anak muda bodoh!

  35. andi bin musthofa | 10 February, 2011 13:42

    hey kalian para org2 kafir bukankah itu adl buatan org kafir kalian tdk berfikir kalau kalian ini’menjadi bodoh dan buta moga allah memberi hidayah yg buta hatinya dri agama islam

  36. sadar | 11 February, 2011 14:45

    Valentin “Haram”

    Hermanto Harun

    Agaknya, ruang pemikiran kita tidak pernah berhenti dari gerogotan virus budaya “inpor” yang tanpa disadari telah mewabah dalam perilaku kesaharian kita. Virus tersebut menularkan pelbagai bentuk penyakit sosial yang semakin hari terus kumat, bahkan tularannya menjangkiti ruang pemahaman keberagamaan. Sehingga tak jarang, fatwa ulama terkecoh oleh realitas, yang seakan menganggap bahwa segala sesuatu memiliki niali positif dan negativ. Akhirnya, para ustaz, ulama dan Intelektual Islam, harus mencari argumentasi yang sedikit lunak, agar terkesan familiar dan bersahabat dengan zaman. Kasus ini paling tidak, bisa ditelisik dalam kasus Valentine’s day yang sampai saat ini menjadi icon dan trend baru generasi muda dalam menyalurkan kasih sayang. Valentine’s day menjadi moment yang seakan ‘rugi’ untuk dilewati, dengan warna pink dan makanan coklatnya yang khas, hari ini dianggap sebagai ruang waktu berkasih sayang, terutama kepada sang kekasih.

    Seiring “paksaan” media mencekoki opini public dengan tayangan perayaan hari Valentine, budaya ‘impor’ ini seakan telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan romantisme kaula muda. Unik dan anehnya, di tengah kesan ‘kontroversial’ MUI yang memfatwakan haramnya perayaan hari Valentine, tulisan Bahrul Ulum, seorang intelektual dan akademisi Islam, dengan Judul “Valentine Yes Valentine No” di harian Jambi Ekspres (Kamis 14 Februari 2008), seolah ingin menjawab polemic keharaman perayaan Valentine tersebut. Walau, dalam tulisannya itu, tidak memiliki standar, juga rujukan argumentasi hukum yang jelas antara Valentiene yes atau no. Ketidak jelasan argumentasi hukum tersebut, menurut penulis, akhirnya menjadi jebakan argumentasi relativitas yang akhirnya tidak memiliki “kelamin” hukum yang valid dan tegas.

    Ketidak-tegasan sekaligus kegamangan dalam menyikapi Valentine tersebut, setidaknya terlihat dari beberapa urain tulisan Bahrul Ulum (selanjutnya ditulis Bahrul) tersebut, diantaranya: Pertama, bahwa Bahrul terlihat sangat substantif. Ia berusaha memisahkan antara makna Valentine yang menurutnya “sesuai makna dasar” sejarah Valentine itu sendiri. Dalam ungkapan Valentine Yes-nya, Bahrul seakan berusaha memberi alibi, ternyata di dalam Valentine sendiri tersirat makna fositiv seperti memberikan kado, saling berbagi cerita dan pengalaman pribadi atau reuni teman/sahabat lama sesuai dengan makna dasar Valentine. Juga, Bahrul menambahkan “perayaan Valentine yang minimal dapat ditoleril bila dilakukan dengan bertukar kado sebagai tanda perhatian terhadap kawan spesial atau sahabat, dengan kado yang sederhana, dirayakan ditempat terbuka, tidak ditempat tertutup yang memungkinkan dapat berbuat maksiat, memilih tempat yang sederhana, tidak mengganggu orang lain, tidak berpoya-poya, tidak merayakan dengan waktu yang tidak terbatas dan tentu saja berpakaian yang sopan sesuai dengan adat istiadat dan budaya setempat”.

    Dalam uraian di atas, terkesan bahwa semua perilaku tadi merupakan suatu perbuatan fositiv, sehingga menjadi legitimasi akan “yes”nya perayaan Valentine. Persoalan kemudian adalah, jika perilaku tadi tidak dalam ruang waktu Valentine, mungkin masih debatable. Akan tetapi, jika dalam ruang perayaan yang masih berembelkan Valentine, maka disitulah letak persoalannya. Karena bagaimanapun, penamaan Valentine sangat kental dengan misi dan nilai agama Kristiani, bahkan termasuk persoalan teologis Kristen. Hal ini dapat dilihat dari asal sejarah lahirnya perayaan Valentine. Kisahnya bermula dari raja Claudius II (268-270 M) yang mempunyai kebijakan melarang bala tentaranya untuk menikah. Karena, bagi Claudius II, dengan tidak menikah, para prajurit akan menjadi agresif dan siaga dalam berperang. Kebijakan ini mendapat perlawanan dari Santo Valentine dan Santo Marius dengan melakukan perkawinan secara diam-diam. Akhirnya, perilaku kedua Santo tersebut diketahui oleh raja Claudius II, kemudian memberi hukuman mati kepada Valentine dan Marius. Akhirnya, kematian kedua “pejuang cinta” tersebut diresmikan oleh Paus Galasius pada 14 Pebruari 469 M sebagai hari Valentine. Jika demikian, maka sangat jelas, bahwa perayaan Valentine bagi umat Islam sangat bermasalah, mengingat persoalan teologis merupakan doktrin ajaran suatu agama yang sudah berada dalam ranah “hitam-putih” dan tidak mempunyai ruang untuk dinegosiasikan.

    Kedua, dalam ulasan Bahrul, terdapat ungkapan “setidaknya tidak dianggap ketinggalan”. Ungkapan ini sekilas sangat sederhana. Namun, menurut penulis, menyimpan kandungan inferiority yang sangat dahsyat. Sikap inferoiritas ini bahkan telah mewabah ke paradigma pemahaman keberagamaan intelektual Islam. Sehingga, banyak ditemukan para cendekiawan Islam menganggap bahwa Islam menjadi kerikil dari sains dan kemajuan. Agama Islam hanya dijadikan wacana teoritik persoalan moral semata, tidak menjadi public system masyarakat. Jadinya, agama terkurung dalam ruang public reason. Ini artinya, persoalan integritas keberagamaan hanya menjadi patokan moral saja. Fenomena ini bahkan telah mewabah menjadi kelaziman dalam memahami keberagamaan di ruang public, sehingga terkesan bahwa persoalan integritas moral menjadi penting jika itu berkaitan dengan kepentingan individu, namun menjadi subordinate jika berkaitan dengan agama. Inilah buah dari sikap inferior umat yang akhirnya harus mencari interpretasi baru terhadap pemahaman agamanya, walau harus mendobrak ratifikasi dogma agama yang telah mapan. Dengan pelbagai alasan, agama terkadang dikungkung dalam penafsiran keselarasan zaman yang tidak jarang harus “memperkosa” interpretasi subjektifitas “birahi” dengan argumentasi “kebenaran hanyalah milik Tuhan”.

    Ketiga, secara tersirat, adanya karancuan dalam menyikapi perayaan Valentine’s day. Apakah ini berada dalam wilayah agama atau hanya persoalan budaya semata. Saudara Bahrul terkesan ambivalen memposisikan “fatwa”nya. Dan kedua posisi itu menjadi samar untuk ditarik ke dalam wilayah agama atu budaya.

    Pada satu sisi, mewacanakan Valentine dalam wilayah agama, sehingga nilai normatifitas yang diusungkan sangat berbau bahasa agama. Walau tidak memberi argumentasi yang jelas terhadap landasan “fatwa”nya itu. Ini tercermin dari ungkapan “dirayakan ditempat terbuka, tidak ditempat tertutup yang memungkinkan dapat berbuat maksiat”.pemakaian kata ‘maksiat” jelas sekali kental bahasa agama. Namun, sejauh mana pengelaborasian kata maksiat tersebut disandarkan? Penjelasan maksiat jelas sangat normativ, membutuhkan legitimasi bahasa agama dalam mendefenisikannya. Namun pada sisi lain, wacana Valentine diembelkan dengan budaya. Ungkapan Valentine ditarik ke dalam kancah budaya yang hanya “sekedar sarana penyampaian perhatian, kasih sayang”. Titik krusialnya adalah, jika harus dibungkus dalam bahasa budaya, bukankah budaya Valentine lahir dari produk agama?

    Memang, ada ungkapan “alhikmah dhallat lilmukminin, aina wajadaha fahuwa ahaqqu biha” (kebaikan itu banyak telah hilang dari kaum muslimin, maka dimanapun kamu menemuinya, kamu lebih berhak untuk menerimanya). Akan tetapi, dalam kasus Valentine’s day ini, sangat sulit memilah antara nilai yang ada didalamnya dengan formalisasi ritualitasnya. Bahkan faktanya, justru Valentine’s day dan kemaksiatan (dalam kacamata agama), seperti seks bebas, miras, hura-hura dan pacaran menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan demikian sangat tepat, jika MUI memmfatwakan perayaan Valentine’n day bagi seorang muslim hukumnya Haram. Bukankah ada kaidah hukum telah bertutur “al-ridha bi al-syai’I, ridha bima yatawalladu minhu” (menyukai sesuatu, berarti menerima efek yang dilahirkannya). Semoga Tidak! Waaalhu ‘alam

  37. ulfi | 13 February, 2011 05:47

    Bersabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Daud).

  38. gendut | 14 February, 2011 07:12

    semua telah terkontaminasi atas sikap sempit agama mayoritas…renungkanlah….

  39. ario | 14 February, 2011 08:15

    Tidak ada yg salah dgn hari kasih sayang kita bisa kasih bunga buat istri or suami, atau anak2 n orangtua kita tercinta, tidak melulu dgn pacar. semua kembali pada diri kita masing2. hadapi dgn santai saja tidak perlu ribut pro dan kontra, buang2 energi. buatlah otak/pikiran kita dgn berpikir secara positif dan melakukan kegiatan positif jg menurut agama, buang jauh2 rasa benci n dendam terhadp org lain or saudara sendiri. mulailah belajar utk menyayangi n peduli terhadap sesama atau org lain tanpa membedakan suku, agama, n ras/golongan. niscaya hidup kita akan lebih bermanfaat, lebih berbobot. SALAM SUPER. SALAM SEJAHTERA.

  40. galih jk | 19 February, 2011 19:01

    ya, teruslah berdebat! maka aq akan semakin senang….

  41. galih jk | 19 February, 2011 19:03

    ya, teruslah berdebat! maka aq akan semakin senang…. .

  42. smpputri | 13 February, 2012 08:32

    cinta muhammad ayo tutup aurat.

  43. Aisky putry | 14 February, 2012 15:25

    Hri ksih syg it stiap hari.
    Bukn cm tggl 14 feb d0ank,
    buat qm yg s’at nie msh setuju dgn peraya’an vlentine,
    perbnyak lah blajar agama,
    agar qm..qm mgrti ap alasan vlentine it HARAM,,
    qm islam. . . ??
    Jgn mengaku islam jika qm men0dai agamamu dgn perayaan vlentine day’s

  44. uli | 21 March, 2012 15:40

    wahhhh…jdi rame ni dumay!beragam komen,,seru eay..

Silakan berkomentar, kawan!