Enak di Blog dan Perlu

Poster SoehartoPiye kabare mas bro? Isih penak zamanku toh?”

Begitulah kalimat di gambar tempel [sticker] yang terlihat di atau tertempel di beberapa mobil pribadi, angkutan umum, truk, dan sebagainya; yang melintas di jalan jalur pantai utara dan pantai selatan Jawa  di musim mudik Lebaran tahun ini. Tak semua tertulis persis seperti itu. “Mas bro” kadang diganti “kang” “dab” “leh.”

Yang tidak berganti di gambar tempel itu adalah gambar mendiang Soeharto [eks presiden RI]: Tersenyum, mengenakan jaket kulit berwarna gelap, sembari mengangkat tangan seolah hendak menyapa, hallo. Para pedagang kaki lima di Candi Prambanan dan Candi Borobudur, menjual kaus semacam itu seharga Rp 20-25 ribu; dan laris.

Tentu bisa diperdebatkan: Apakah di zaman Soeharto keadaan benar lebih sejahtera atau lebih buruk, lebih menggembirakan atau lebih mengerikan; dibandingkan zaman [reformasi] sekarang. Kemunculan gambar dan kalimat semacam itu akan tetapi bukan soal keadaan yang lebih enak dan tidak lebih enak, melainkan soal keputusasaan yang kini mulai menjangkiti sebagian orang.

Mereka menganggap reformasi yang 15 tahun lalu bercita-cita hendak membersihkan perilaku KKN, menjadikan hukum sebagai panglima, partai politik sebagai mesin demokrasi, polisi sebagai pemberi kenyamanan dan sebagainya; ternyata hanya omong kosong. Polisi, jaksa dan hakim bersama partai politik malah menjadi bagian terbesar dari arus korupsi yang makin tidak keruan.  Sogokan untuk menjadi PNS, calon tentara atau polisi, juga terus terjadi. Aparat yang hendak naik pangkat atau jabatan, juga masih harus menyuap.

Bupati dan kepala daerah hasil pilkada, kemudian menjelma menjadi raja-raja kecil yang hanya sanggup membangun pusat perbelanjaan, dan menunjuk atau memecat pejabat di daerahnya [sebagian berdasarkan wangsit dan restu para kiai]; sekadar  untuk menunjukkan bahwa kini merekalah yang berkuasa. Demokrasi pun menjadi formalitas dengan kemunculan banyak spanduk dan papan besar di tengah kota dan di ujung desa bergambar calon anggota DPR atau kepala daerah yang merayu-rayu meminta untuk dipilih, sembari tidak lupa menjanjikan perubahan.

Zaman reformasi yang terbuka lalu dianggap tidak menjadi lebih baik dibandingkan zaman Soeharto yang otoriter; kecuali hanya pelakunya yang berbeda. Para aktivis yang dulu ikut menumbangkan kekuasaan Soeharto, dan orang-orang penting yang berkuasa di zaman sekarang,  diam-diam lalu menyulap diri mereka menjadi Soeharto-Soeharto: Memperkaya diri, merekayasa kasus, membuat diri mereka seolah paling taat hukum dan antikorupsi.

Di zaman Soeharto, korupsi dilakukan di bawah meja;  sekarang, kursi dan mejanya ikut pula dikorupsi. Dulu memang ada korupsi, tapi sekolah, jembatan, dan jalan tetap dibangun; sekarang, bahkan sekolah dan jalan yang ada pun dibiarkan rusak. Di zaman Orba, kalau pesantren disumbang pemerintah untuk membangun dua kelas, para kiai akan menjual sawah atau tanahnya agar kelas yang dibangun menjadi tiga atau empat kelas; zaman sekarang, disumbang untuk membangun empat kelas yang berdiri cuma satu kelas, lalu para kiai atau ustad pun sibuk mengajukan proposal proyek ini dan itu. Di zaman Soeharto, tentara yang petentang-petenteng dan menjadi beking; sekarang, senjata dan hukum  di tangan polisi pun centang-perenang, dan mereka pun ikut menjadi centeng. Makan itu reformasi dan demokrasi. Begitulah kata sebagian orang.

Tiga tahun sebelum meninggal, ketika berbicara pada sebuah serasehan di Universitas Trisakti, Jakarta; almarhum Gus Dur pernah bilang, reformasi telah dirampok. Menurut dia, cita-cita menjadikan hukum berdaulat kini menjadi taik kucing. Anda boleh tidak setuju dengan pendapat itu, tapi Gus Dur seolah memahami keputusasaan telah berjangkit pada sebagian orang. Bagi mereka, reformasi atau bukan, keadaan dianggap sama saja atau malah lebih buruk.

Lalu di tengah keputusasaan semacam itu, gambar tempel bertuliskan “Piye kabare mas bro? Isih penak zamanku toh?” bergambar Soeharto muncul di banyak mobil pribadi, truk, bus dan sebagainya. Sebagian gambar itu juga dipasang di papan besar kampanye; bersanding dengan gambar Wiranto [eks panglima tentara di zaman Soeharto] dan Hary Tanoe [bos Grup MNC dan dikenal dekat dengan anak-anak Soeharto] yang konon akan maju sebagai calon presiden pada musim pemilu tahun depan.

Bila Anda suka menonton serial kartun Spongebob, Anda akan tahu, seperti itulah yang disebut ironi di atas ironi.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog
.

Komentar [20]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

20 Komentar untuk “Ketika Soeharto Menyapa, `Piye Kabare Mas Bro …`”

  1. idbloggerbuzz | 19 August, 2013 10:24

    menyedihkan

  2. tips kesehatan | 19 August, 2013 21:08

    emang mending jaman pa harto kayanya

  3. afida | 20 August, 2013 13:33

    ga perna hidup saat itu si, tapi habis sharing ttg ini sama nyOKap, sy cuma bisa narik kesimpulan “kemerdekaan diri” lah yang sekarang dapat kita rasakan, setidaknya ga ada larangan terlalu baanyak

  4. uli | 22 August, 2013 11:10

    dosenku bilang, jaman dulu okelah masa ‘diktator’ karena masyrakat masih harus diatur. cuma ya itu tadi. manusia gak pernah puas dan terlena sama kekuasaan.
    namun kembali seperti masa lalu bukan pilihan yang bijak.mengutuki masa sekarang juga tidak menjawab persoalan.
    ada baiknya pemerintah menetapkan hari doa se Indonesia agar Tuhan pegang erat kita punya bangsa..

  5. suranto | 23 August, 2013 08:30

    Life must go on. Syukuri apa adanya. Lihatlah ke depan dan ke sekeliling. Orang lain sudah menikmati kesejahteraan, kita mengarah kesana saja…. Merdeka…

  6. ara situmorang | 23 August, 2013 13:41

    Kalau memilih lebih enak zaman soeharto atau sekarang, jujur saya tidak bisa menyimpulkan. Tapi untuk perkembangan proses penumpasan praktek korupsi, lebih bagus yang sekarang, paling tidak ada penindakan hukum bagi koruptor.

  7. iskandar | 23 November, 2013 05:21

    enakan jaman pak soeharto

  8. Goenawan Mohamad | 25 November, 2013 10:03

    Yang masih terlena sama romantisme Orde Baru mungkin harus belajar mengenai sejarah yang narasinya tidak ditulis oleh Sang Pemenang. Memalukan!

  9. gusiadi | 26 November, 2013 00:24

    tak ada bedanya.bagi siapa saja yg berjuang lebih keras dan bersunggug2 akan lebih baik hidupnya,jaman pak de dulu semuanya murah termasuk upah buruh/pekerja.jaman pak lek sekarang semua pada naik termasuk upah buruh.tapi nyatanya ????

  10. Derry | 1 December, 2013 16:54

    Zaman Soeharto semua murah,
    **sekolah murah (SMA negeri cuma Rp.900,- per bulan termasuk lab.), **kuliah murah (Universitas Negeri Fak. Teknik, Rp.6000,- per SKS, jadi per semester cuman Rp.120ribu,- )
    Beras harganya stabil dan murah, bawang murah, minyak murah, kedelai murah, tempe tahu murah, telpon murah, politik stabil, rasa aman terjamin, pokoknya semua murah dan semua enak.
    HIDUP PRESIDEN SOEHARTO!

  11. sudarmaji | 3 December, 2013 19:21

    Gunawan mohamad lebih memalukan lagi,sirik, ambisius, punya syahwat besar untuk berkuasa, tapi sepi dukungan, jadi ya bisanya cuma memfitnah, menyebarkan berita bohong, menghujat, memaki.

  12. piyeto | 4 December, 2013 10:50

    piyeto, dulu terus hutang makanya semua bisa murah, sekarang waktunya membayar. Yang dulu ngatur hutang koq enaknya cuma ngomong : “piyeee enak jamanku tho..”
    Yang setuju itu belum mengerti asal muasalnya sekarang mahal..penyebabnya yaitu ulah si mbah to. Jangan dikira rakyat indonesia bodoh terus nggak bisa mikir / melihat penyebabnya…piye loro atimu ? akal bulusmu wis ora mempan ? tanggungen dusomu dewe mbah…sengsoro rekosone rakyat sing jaman saiki bakal ditimbang sesuk nang akerat mbah ojo isone tinggal glanggang colong playu macak elegan…matimu lak ora kepenak too…rak matimu ra kepenak iku tandane tanggunganmu isih okeh…piye loro atimu mbah ??????

  13. piyeto | 4 December, 2013 10:55

    tingkah polahe pejabat sing rusak saiki jelas niru tingkah polahmu lan kronimu 30 tahun luwih teko jamanmu to…piye arep ngomong opo kowe mbah,..urip mung mampir ngombe…sing isih urip delengen kae nasibe wong nomor 1 indonesia masio dukune satus luwih nek wis diadili pangeran sing moho kuoso isi opo kowe mbah…dongane rakyat sing ditindas kowe iku mandi tenan mbah…piye mbah enak jaman mu mbah ??? eyang sukoplo korbanmu piro pas jamane gestok iku ulahmu to mbah…piye wis mbukak rahasiamu mbah ??? isih wani ngomong nopo maneh kowe mbahh ????

  14. piyeto | 4 December, 2013 10:57

    @Derry : pikiren omongan ingsun..

  15. santana | 11 January, 2014 21:38

    sampean boleh ngomong gitu tp lihatlah kenyataanya masbro enakan mana?

  16. Ali Fakir | 13 January, 2014 09:43

    bagi saya tulisan seperti itu tidak mencerminkan kepribadian rakyat Indonesia…karena bagaimanapun figur SUHARTO adalah Pahlawan dan pendiri bangsa Indonesia. BILA PERLU BIN (Badan Intelegen Nasional) menindak tegas adanya gambar-gambar yang kurang sedap dipandang semacam itu.

  17. pahlawan tak perlu tanda jasa | 13 January, 2014 12:50

    tul piyeto…sebarkan kebenaran sejarah tersebut.kasihan mereka rakyat awam yg cuma tahu apa yg tampak dan yang terasa tapi tidka paham seluk beluk di baliknya

  18. pahlawan tak perlu tanda jasa | 13 January, 2014 13:21

    Derry,Santana,Ali Fakir termasuk korban keterlenaan nasional..penikmat yg serba instan, dan termasuk kelompok anak yang jika dites kesabaran utk. menunggu yg makanan yang lebih enak maka dia mengambil kue yg tidak enak yg tersaji di depan matanya hanya krn tdk sabar menanti matangnya kue yg enak..begitulah jiwa anak-anak muda saat ini yg gak sadar terjangkit pengaruh media&lingkungan yg salah.smoga anak2 muda yg masih berjiwa murni tetap bertahan dan maju dengan pengetahuan kebenarannya

  19. PediaKita | 15 January, 2014 08:20

    Ironis sekali bangsa ini

  20. herry | 15 January, 2014 13:07

    kalo dulu memang hidup lebih nyaman(enak),kita tdk pernah dgr ada Bansos,BLT,(karena waktu itu rakyat kita malu kalo minta2)pekerjaan tdk kurang,harga sandang pangan murah,tdk ada TKW yg dikirim keluar negeri, yang kurang memang kebebasan berpikir dan berpendapat di depan umum yg tidak ada….tapi cukup Aman…itulah kondisi kita dulu

Silakan berkomentar, kawan!