Jun
23
Babak penyisihan grup hampir berakhir, dengan menyisakan 1-2 pertandingan untuk sebagian besar tim. Di saat seperti ini, ketegangan internal tim cenderung terus naik. Emosi bisa menjadi kurang terkendali, karena nasib tim berada di ujung tanduk. Pemulangan striker Nicolas Anelka oleh pelatih Prancis Raymond Domenech adalah contoh puncak pertikaian internal.
Kepanikan memang terlihat pada tim-tim yang selama ini dianggap raksasa sepakbola setelah pertandingan buruk yang mereka alami. Jerman ditekuk Serbia. Prancis dipermalukan Meksiko. Inggris dan Italia dua kali ditahan seri. Spanyol menyerah pada Swiss.
Nama-nama besar pemain dalam tim yang dianggap raksasa ini terbukti bukan jaminan kesuksesan sebuah kesebelasan. Pada akhirnya, keberhasilan tim sepakbola bertumpu pada kerjasama tim (teamwork): manajer sekaligus pelatih, asisten-asistennya, para pemain, sampai kepada tukang pijit dan koki. Sebuah tim tak ubahnya sebuah orkestra dengan peran sebagai aransir dan konduktor berada di tangan manajer tim.
Dengan kekuasaannya yang begitu besar, sanggupkah seorang manajer membangun teamwork kesebelasannya? Ataukah yang terjadi justru pertikaian di antara pemain, saling menyalahkan karena misalnya Podolski gagal mengeksekusi penalti saat Jerman bertanding melawan Serbia. Percekcokan antara pemain dan pelatih seperti dialami oleh tim Prancis memperlihatkan bahwa teamwork dalam bahaya justru ketika posisi tim sedang genting.
Konflik tidak selalu buruk bagi sebuah tim sejauh itu berdampak positif, yakni menemukan ketajaman tim. Keunggulan yang dimiliki anggota tim maupun pelatih tidak akan bermanfaat banyak apabila keunggulan-keunggulan itu tidak menyatu. Bila tidak terjadi sinergi, alignment, sintesis di antara masing-masing keunggulan, sebuah kesebelasan hanyalah penjumlahan normatif di antara anggota tim. Tak ubahnya 5 + 6 = 11-sebelas orang yang bermain bersama, bukan satu kesebelasan.
Konflik yang berlangsung di tubuh tim Prancis merupakan contoh tidak terjadinya alignment antara kemauan pelatih Raymond Domenech dan sebagian pemain, khususnya Nicolas Anelka yang mengritik strategi pelatihnya. Dalam hal ini, antara strategist dan eksekutor tidak sepaham, tidak selaras, tidak padu, tentang bagaimana mencapai suatu target, yakni meraih kemenangan dalam setiap pertandingan.
Berbeda dengan praktek pemasaran, di mana evaluasi terhadap suatu strategi dapat dilakukan dalam waktu relatif lama, turnamen sepakbola seperti Piala Dunia memerlukan kecepatan dalam evaluasi. Tekanan waktu menjadi constraint yang sangat membatasi. Pilihan memulangkan Anelka mungkin tidak menyenangkan bagi Domenech, tapi ia harus mencegah agar virus ‘pemberontakan’ tidak menyebar ke seluruh anggota tim. Belum tentu langkah Domenech itu tepat, tapi keputusan toh harus diambil.
Menghimpun segenap keunggulan dan meleburnya ke dalam sebuah tim yang mampu bekerjasama memang bukan perkara mudah. Tapi teamwork dan alignment jadi kunci yang menentukan. Konflik tak bisa dihindari, tapi seperti kolesterol, jika ia positif bisa jadi baik bagi tim. Jika kolesterol jahat, apa boleh buat ia harus dibuang.
Dian R. Basuki, blogger tamu & pengamat soal bisnis dan manajemen
Mustinya FFF dikepalai oleh Nurdin Halid, dan manajer Timnas-nya Noegroho Besoes.
Dijamin, Perancis gak akan malu pulang piala dunia lebih awal..
(lha gimana malu, kalau sampe masuk putaran final piala dunia aja masih mimpi 70 turunan lagi, hehehe)
Ayo dong Timnas Indonesia contoh tim2x dari negara lain di PD paling ngga ke wakil asia Jepang dan Korsel, supaya Timnas Indonesia suatu saat bisa ikut PD
aduh kalau timnas mah world cup pasti rusuh deh
nanti yang ada berantem heheh :P, kapan yah.. indonesia bisa melestarikan bola dan bukan tiap pertandingan rusuh saja adanya…
kabar terbaru presiden fff sudah mundur dari jabatan. aa
Tim sepakbola sebenarnya sama dengan organisasi sebuah bisnis. Ada pemain (karyawan), ada manajer team, ada pemilik klub (pemegang saham)… Yg unik posisi di tim bola adalah peran “coach”…., yg jauh lebih dibayar mahal dari Manajer Tim. Strategi yg men”sinergikan” tim datang dari “coach”, dg peran terbesar justru saat “of-field” (sblm pertandingan, saat istirahat, dan paska pertandingan). Saat pemain sdg main…bisanya cuman teriak-teriak yg mungkin juga tidak ada yg mendengarkan dan mematuhi. Apalagi di sepakbola tidak mengenal “time-out” spt olah raga lain. American Football, “coach” mengendalikan pertandingan melalui peran aktif ke “quarter-back”
kapan ya idonesia bisa mewakili asia . dan menjadi juara
andre
trims.. mudah2xan posting ini bisa membantu anda dan sekaligus mempromosikan agen888.com ke teman2x sebetting.. di net.