Jul
7
Dunia kini membidik ponsel. Bahkan industri media juga melakukannya dengan merilis situs khusus ponsel. Ini bukan sekadar bisnis jenis “me too” (ikut-ikutan). Ini sebuah keharusan. Bila tidak, orang akan menjadi seperti Intel, big dog dunia komputer, tapi underdog di dunia ponsel.
“Menjadi tua bukanlah bagaimana engkau menghitungnya, melainkan bagaimana engkau menjalaninya.” Begitulah si jenius filsuf Voltaire berkata.
Itulah yang kini mengilhami Intel. Raja prosesor dunia itu kini gundah. Bagi mereka, menguasai pasar prosesor komputer saja tidaklah cukup–walau rival-rival mereka, seperti AMD, ngos-ngosan mengejar. Intel ingin target yang lebih tinggi, yakni pasar prosesor untuk ponsel atau gadget lainnya.
Bos-bos Intel di Santa Clara, California, memang baru saja “terbuka” matanya. Mereka kaget saat melihat pasar prosesor komputer ternyata mulai melempem. Penjualan prosesor komputer setahun tak sampai 400 juta keping. Resesi ekonomi jelas membuat pasar makin tersendat.
Padahal pasar prosesor ponsel–yang dulu ditinggalkan Intel–terus meroket. Tahun lalu penjualan prosesor jenis ini mencapai 1,4 miliar keping. Intel cuma melongo melihat angka fantastis itu.
Menjadi tua saja tak otomatis menjadi hebat, persis seperti kata Voltaire. Intel telah menjejakkan sejarah menjadi pembuat chip sejak 1972. Mereka memulai langkah dengan membuat chip mesin kasir. Tiga tahun kemudian mereka melahirkan prosesor komputer pertama. Setelah itu, lahirlah prosesor Pentium, Centrino, Itanium, dan terakhir Atom–prosesor yang rendah konsumsi listriknya, untuk netbook. Meski sudah berumur 37 tahun, mereka kedodoran di pasar prosesor ponsel walau pada 1997 mengakuisisi pabrik prosesor kecil Digital Equipment Corp.
Kini, saat ponsel merajalela, baru Intel sadar. Semua pabrik ponsel bisa membuat alat mereka terhubung ke Internet. Bahkan kulkas dan pemutar musik juga tersambung ke Internet. Pasar telah jauh meninggalkan Intel, yang berkutat di dunia komputer belaka.
Akankah Intel akan melorot pamornya? Mungkin saja. Ramalan Pew Foundation dalam risetnya yang berjudul “The Future of the Internet III” menyebutkan, peranti bergerak akan mengalahkan komputer dalam soal akses Internet.
Dengan ponsel Rp 700 ribuan pun orang kini bisa menikmati Internet, bermain Facebook, atau mengirim foto. Banjirnya antrean pembeli ponsel Nexian yang mirip BlackBerry pada pameran di Jakarta Convention Centre beberapa waktu lalu menjadi bukti fenomena ini. Orang rela berdiri dua jam untuk mendapatkan ponsel sejuta umat itu.
Kotak pandora memang telah dibuka. Vendor-vendor prosesor ponsel berlomba membuat chip yang murah, bertenaga, rendah daya listriknya, tapi bisa terhubung ke Internet.
Itulah sebabnya kini laboratorium Intel di Austin sedang sibuk. Mereka tengah menguji prosesor baru untuk ponsel. Nama kodenya Moorestown. Rencananya, prosesor ini untuk ponsel dan peranti elektronik rumah lainnya. Intel belajar dari fenomena iPhone. Prosesornya murah, tapi hasilnya memukau.
“Kami masih yakin, pasar akan berpihak kepada kami,” kata CEO Intel Paul Otellini.
Semua kini melirik ke ponsel. Bahkan produsen game seperti EA, yang selama ini menggarap konsol game, juga membidik ponsel. Dengan satu miliar game dan aplikasi yang terjual untuk iPhone, siapa yang tak ngiler? Sony pun kini ingin “memindahkan” PlayStation-nya ke ponsel Sony Ericsson.
Intel aja ngos-ngosan mulai ketinggalan jaman…he…he….
Apakah hal ini disebabkan oleh dilegonya divisi Mobile ke Marvels ( Sutardjs’s ) ?
“Huuh..huhh..huuhh..” intel kecapean ngejar2 ketrtinggalannya..
Duh..duh..duh…
Udah deh Tel…
Bagi-bagi rejeki ama orang lain kenapa sih?
Gak usah serakah pengen menguasai semua hal..
Serakah itu baik, ada benarnya bung.
Tanah di Jual
tanah Untuk Usaha di JAKARTA SElatan
di jl. radio dalam raya
samping bank panin,
1574M2
kirinya dia showroom toyota,
kanan nya bank panin
dijamin ga bermasalah
lokasi strategiskan
lokasi usaha ,Pinggir jalan raya
Hub : amri +6281322329363
Semua ada masanya, makanya Intel buat HP dong.
kita berharap indonesia bikin intel yg baru…ha..ha