Feb
22
Undangan untuk Blogger
Wartawan diundang menghadiri peluncuran produk baru? Ah, sudah biasa. Tapi kalau blogger mendapat undangan perkenalan produk anyar atau menonton film, nah ini yang belum biasa.
Saya mendapat undangan semacam itu dua kali. Yang pertama undangan nonton dari publicist film Radit dan Jani bulan lalu. Undangan kedua dari PT Toyota Astra Motor untuk acara Blogger Luncheon with Corolla, sekaligus exclusive preview sedan Toyota Corolla terbaru pada Rabu lalu. Selain saya, beberapa blogger lain mendapat dua undangan yang sama.
Awalnya saya agak kebingungan memposisikan diri ketika mendapatkan undangan itu. Profesi saya jurnalis. Tapi saya memang blogger juga. Saya tak ingin terjadi konflik kepentingan dan mengundang fitnah.
Untuk memastikan, saya pun bertanya pada pengundangnya, “Ini undangan ke saya sebagai wartawan atau blogger?”
“Sebagai blogger, Mas,” mereka menjawab tegas.
Saya bingung lagi, karena baru kali ini saya menghadiri undangan mewakili diri saya sendiri sebagai blogger dan bukan institusi tempat saya bekerja. Biasanya saya mendapatkan undangan sebagai wartawan. Karena itu, saya harus menimbang-nimbang agar tak terjadi konflik kepentingan.
Dalam situasi dilematis, saya melihat undangan itu sebagai perkembangan baru dalam khazanah blog. Mungkin ini awal dari dimulainya era blogger sebagai citizen journalist. Ada bukti bahwa blog dan blogger semakin mendapat pengakuan sebagai kekuatan informasi baru di Indonesia.
Selama ini blog belum dipandang sebagai salah satu marketing tool yang membantu aktivitas public relations. Belum banyak perusahaan di Indonesia yang memanfaatkan blog seperti itu.
Sejauh yang saya tahu pula, ya, baru produser Radit dan Jani serta PT Toyota Astra Motor yang pernah mengundang untuk hadir di acara mereka. Saya pun belum tahu apakah strategi merangkul kalangan blogger akan diikuti produsen lain. Karena itu, rasanya tak ada salahnya memenuhi undangan mereka dan menyimak perkembangan baru ini lebih lanjut.
“Tapi hati-hati, Mas. Nggak ada makan siang yang gratis, lo,” kata seorang teman mengingatkan. “Tentu saja,” saya menjawab.
Selalu ada kepentingan di balik setiap rangkulan. Justru di sinilah tantangannya. Seperti halnya jurnalis, mestinya sosok independen. Ia bebas mau datang atau tidak, mau menulis atau tidak, dan mau memuji atau memaki pengundangnya. Kecuali sang blogger memang diminta menulis blogvertorial sesuai dengan pesanan produsen.
Dalam kasus saya, tentu saja saya tak akan menerbitkan tulisan tentang acara itu di koran ini, melainkan di blog pribadi. Saya juga akan mencantumkan semacam “disclaimer” untuk memberi tahu pembaca bahwa tulisan tersebut dibuat setelah saya, misalnya, diundang makan siang.
Peringatan atau pernyataan semacam itu penting untuk menjaga independensi saya sebagai blogger. Dengan demikian, pengunjung bisa menilai apakah tulisan saya independen atau mengandung bias tertentu, apakah tulisan tersebut “pesanan” atau bukan.
Pertamaxxx
Kapan ya saya diundang???
Subyektifitas akan selalu mewarnai kehidupan pribadi kita, meskipun secara maksimal kita akan berusaha dalam momen tertentu untuk menjaga indepengensi secara maksimal dalam tanda kutip. Contoh tulisan diatas penulis berusaha menjaga independensi tetapi pada hakekatnya dari tulisan itu saja sudah merupakan iklan atau ppromo bagi perusahaan pengundang yang luar biasa. Dunia memang relatif, hanya Allah yang absolite. Selamat berkreasi bang Wicak…………
Salah satu bukti bahwa komunitas blogger telah dilirik oleh para pebisnis2 kita… yang mau independen silahkan, yang mau jadi subjektif ya monggo wae….
Saya pernah diajak bermain, melihat-lihat sebuah resort terkemuka di Batam. Kebetulan saya mengenal seorang karyawan di sana. Saya diajak keliling resort tersebut seharian. Tentu saja diajak makan siang di tempat itu. Pulang dari situ, saya menulis panjang lebar mengenai resort tersebut di blog saya. Foto-foto yang saya jepret juga dimuat di blog saya. Hasilnya, ada beberapa orang menghubungi saya untuk menanyakan mengenai fasilitas yang disediakan resort tersebut.
Namun saya tetap saja independent. Sebab, saya tidak menerima apapun dari pemilik maupun pengelola resort tersebut (selain menu makan siang yang lezat itu tentunya…hehehee). Baik ketika berkunjung ke sana maupun setelah itu. Media tempat saya bekerja juga tidak mempersoalkan hal itu…. jadi, intinya kembali pada diri kita sendiri sebagai jurnalis maupun seorang blogger.
insependensi hanya datang dari hati nurani..
salam kenal semuanya.. klik: http://simpanglima.wordpress.com/
kira-kira kriteria seperti apa yah yang dipakai para pengusaha untuk mengundang para blogger dalam acara seperti itu?
kalo blogger yang diundang berprofesi sebagai seorang wartawan juga saya kira itu hanya taktik para pengusaha aja, dan tidak mencerminkan citizen journalism
Enak ya blogger diundang apalagi kalau hadiah undangan membawa mobil satu-satu
[...] Hal itu rada mirip dengan pengalaman guru ngeblog saya seperti yang diceritakan di sini. [...]
asslamkm mbah pa kabar. mumpung lagi pengen koment aku mw kenalan nih. salam manusia anak_arsitek>>>>>>>>>>>>>^_^
[...] Corolla Altis Datang Juga, Mengintip All New Corolla Altis, Ini Dia All New Corolla Altis 1800 CC, Menggunakan Blogger Sebagai Influencer Effektifkah?, Undangan untuk Blogger, Undangan untuk Blogger, Blogger Luncheon with Corolla, Indonesia’s First Bloggers [...]