Enak di Blog dan Perlu

Burhan Sholihin

Malam masih juga membelenggu Wayne Westerman. Wajah lelaki itu tegang. Seperti malam-malam sebelumnya, kandidat doktor Universitas Delaware, Amerika Serikat, ini “terbelenggu” di depan komputernya. Sudah memeras otak setengah mati, hasilnya tak lebih dari satu halaman. Itu terjadi setiap malam. Padahal batas pengumpulan disertasinya hampir masuk garis mati.

Ia stres berat. Ia dihantui oleh masa kelamnya dulu, ketika dia tak lulus.

“Saya tak bisa memencet papan ketik lagi,” Westerman mengeluh.

Seribu keluhan, sejuta serapah tetap tak menyelamatkan disertasinya. Hingga suatu malam, ketika kerja bermalam-malam pada 1999 itu membangunkan alam bawah sadarnya. “Mengapa tak membuat papan ketik tanpa tombol?” Meletiklah ide liar dari batok kepala Westerman.

Pada tahun itu, ide temuan ini remeh sebenarnya. Cuma untuk bersenang-senang. Tapi, enam tahun kemudian, di tangan Steve Jobs, temuan kecil itu berpijar seperti neon. Ia melambungkan iPod Touch dan iPhone dengan angka penjualan yang fantastis.

Jobs, pendiri Apple Inc, beruntung bertemu dengan doktor “stres” Westerman dan profesornya, John G. Elias. Merekalah penemu sejati layar sentuh pada dua peranti yang menyumbangkan 39 persen pendapatan Apple Inc. Hingga kini iPod telah terjual 13 juta unit dan iPhone 17 juta unit. Stres yang menyenangkan, bukan?

Fantasi Westerman dan Elias saat itu masih dangkal: cuma membuat papan ketik tanpa tombol. Mereka menyebutnya TouchStream Mini. Mereka menyuntikkan sensor elektrik yang bisa mengenali lebih dari sentuhan jari, bukan tekanan. Istilah kerennya multitouch. Satu sentuhan dengan dua sentuhan akan menghasilkan efek yang berbeda. Sentuhan menggeser bisa digunakan untuk menggeser berkas atau naskah. Sentuhan seperti mencubit dengan dua jari, bisa berfungsi sebagai zoom, memperbesar atau memperkecil tampilan. Fantasi FingerWorks itu menyempurnakan teknologi layar sentuh yang saat itu baru bisa mengenali satu sentuhan.

Beruntung mimpi Westerman dan Elias ini dipertemukan dengan ide liar Steve Jobs. Pendiri Apple itu pun mengakuisisi perusahaan tersebut pada 2005 dan menyulapnya menjadi iPod dan iPhone, yang begitu fenomenal. Fantasi, fantasi!

Sukses mengakuisisi layar sentuh ini persis seperti Apple mengakuisisi teknologi tetikus dari Xerox. Di Xerox sendiri teknologi tetikus dipandang sebelah mata. Tapi Jobs, seperti Midas, “menyentuhnya” menjadi emas.

Kini layar sentuh itu pula yang menghipnotis para vendor ponsel lain, seperti Nokia, Samsung, dan LG. Mereka berlomba membikin peranti sentuh serupa. Nokia melahirkan Nokia 5800 Xpress. BlackBerry juga tak ketinggalan langkah dengan BlackBerry Storm.

Bill Gates pun tak mau berdiam diri. Kegemasannya terhadap teknologi ini mengendap dalam sebuah layar sentuh seukuran meja. Anak buah Gates di Microsoft menyebutnya Microsoft Surface. Meski cuma mengekor, raja software ini memberikan sentuhan dahsyat. Mereka membikin layar persis seperti yang ada pada film Minority Report, yang dibintangi oleh Tom Cruise pada 2002.

Tak ada papan ketik yang terhubung ke sana. Tak ada tetikus. Hanya dengan sentuhan tangan, tampilan bisa dikendalikan. Saat ponsel diletakkan di layar itu, misalnya, foto-foto jepretan ponsel akan muncul di layar besar. Tampilannya persis seperti foto berserakan di meja. Anda bisa memindahkannya dengan hanya menggerakkan tangan seperti gerakan menggeser foto. Sistem ini, konon, juga akan dibenamkan pada produk gres mereka, Windows 7.

Steve Jobs telah mengubah layar sentuh itu menjadikan puisi yang menuntun para penggemarnya, juga rival-rivalnya.

Komentar [12]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

12 Komentar untuk “Sepotong Layar Stres iPhone”

  1. kucai | 21 March, 2009 23:27

    selanjutnya tekno apa lg yaa…
    :)

  2. Abula45 | 22 March, 2009 00:48

    Berawal dari ide yg liar, selanjutnya …

  3. PT Adelfindo | 23 March, 2009 09:19

    Wah, hebat tuh Jobs, Westerman dan Elias.

  4. Erensdh | 24 March, 2009 19:45

    Mengagumkan, memang! Tentu kita juga bisa, asal kita mau mengakui kelebihan mereka baru bisa belajar pada mereka, tul mas?

  5. Handoko | 25 March, 2009 05:48

    Kepada ERENSDH:
    Sebelum saya berdikusi dgn Anda dlm forum “Tempo” lebih lanjut ijinkanlah saya dengan segala hormat bertanya apakah saya menggunakan sebutan “Ibu” atau “Bapak” kpd Anda. Saya sendiri seorang M (maskulin).
    Terimakasih dan mohon maaf.

  6. winawita | 25 March, 2009 16:14

    Hebat ya! Kayaknya mimpi jadi kenyataan. Indonesia juga ngga kalah kok, banyak yang pintar2 cuma kurang muncul, tenggelam sama berita2 yang kebanyakan negatif

  7. Wira | 30 March, 2009 13:06

    Sebuah perangkat yang hanya praktis bagi yang “tangannya bersih”. Susah juga yah makenya kalau tangan baru selesai makan. Bisa belepotan semuanya

  8. Pozan | 31 March, 2009 12:01

    Membaca potingan ini, ditempat kita masih banyak orang kayak Wayne Westerman. Tapi belum ada orang seperti Jobs, yang banyak membuat job. Yang banyak orang yang job-lok.

  9. ikankoi | 2 April, 2009 07:28

    kapan indonesia melahirkan teknologi sendiri?

  10. Supriyadi | 24 July, 2009 15:39

    kaapan giliran Indonesia ya ..

  11. ismael | 15 October, 2009 14:47

    emang semuanya berawal dr sebuah mimpi…

  12. erensdh | 27 August, 2010 14:41

    Ternyata saya membuat kesalahan, mohon maaf mbak, salam hormat.

Silakan berkomentar, kawan!