Enak di Blog dan Perlu

Sepertinya orang sekarang sudah tak sabar ingin seperti Tom Cruise. Dia polisi–tapi masih punya nurani. Hidup pada 2054 dan bekerja dengan komputer supercanggih dengan layar sentuh. “Itulah komputer paling intuitif, komputer di film Minority Report,” begitu kata seorang teman. Film ini memang disebut-sebut sebagai masterpiece karya visual Stephen Spielberg.

Tak ada layar monitor di sana. Tak ada kotak komputer. Yang ada cuma kaca dan sentuhan-sentuhan. Menyalin berkas, menampilkan foto, bahkan menentukan mati atau hidup seorang tahanan, semua dikendalikan dengan sebuah sentuhan.
Orang mafhum, Minority Report bukanlah film soal teknologi. Tapi siapa pun tak ada yang menyangkal bahwa film itu adalah sebuah propaganda teknologi layar sentuh. Film yang membuat banyak orang terhipnosis oleh keindahan layar sentuh.

Dulu orang mengira teknologi itu hanya mimpi. Baru ketika Steve Jobs menghadirkan iPod dengan sensasi layar sentuh, orang-orang tercengang. Kok bisa? Dua jari yang menari-nari di iPod (sebelumnya di iPod klasik, lalu disempurnakan di iPod Touch dan iPhone) bisa menjadi pengendali peranti tersebut.

Penemu asli teknologi ini bukanlah Steve Jobs, melainkan Wayne Westerman, doktor dari Universitas Delaware, dan profesornya, John G. Elias. Merekalah duo peletak fondasi layar sentuh saat mendirikan perusahaan TouchStream. Saat itu, meletiklah ide liar dari batok kepala Westerman, “Mengapa tidak membuat papan ketik tanpa tombol?”

Pada tahun itu, ide temuan ini remeh sebenarnya. Cuma untuk bersenang-senang. Tapi, enam tahun kemudian, di tangan Steve Jobs, temuan kecil itu berpijar seperti neon. Ia melambungkan iPod Touch dan iPhone dengan angka penjualan yang fantastis. Tahun lalu, sekitar 39 persen pendapatan Apple disumbang dari si layar sentuh, iPhone dan iPod.

Dimotori oleh kesuksesan layar sentuh Apple itulah kini semua produsen ponsel membikin peranti dengan layar sentuh. Gartner Research memperkirakan, pada 2010, 50 persen ponsel pintar akan memakai layar sentuh.

Kesuksesan itu pulalah yang membuat Microsoft kepincut. Mereka memimpikan komputer dengan layar sentuh seperti dalam Minority Report. Teknologi mereka yang disebut Microsoft Surface sudah mirip yang ada dalam film itu. Anda meletakkan ponsel di sebuah meja layar sentuh, maka foto-foto di ponsel itu akan bermunculan di kaca meja. Anda bisa menyunting, menyalin, atau memperbesar foto tersebut dengan sebuah sentuhan.

Tapi itu baru purwarupa atau prototipe. Anda bisa melihat videonya di YouTube. Yang sudah dipasarkan Microsoft adalah dalam Windows 7. Demi teknologi ini, Microsoft malah telah menggandeng N-trig, sebuah perusahaan penyedia teknologi multitouch dari Israel.

“Teknologi layar sentuh ini sudah berusia lebih dari 10 tahun,” kata Leong, Direktur Riset Gartner. “Layar sentuh akan menyentuh semua aspek kehidupan,” katanya.

Komentar [4]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

4 Komentar untuk “Pada Sebuah Sentuhan”

  1. Herman RH | 19 November, 2009 17:56

    saya tunggu layar sentuh versi linux. pasti lebih maknyus dari mikocok

  2. Iip albanjary | 20 November, 2009 09:33

    Sentuhan yang membawa untung perusahaan. Di Indonesia, sentuhan markus-lah yang berhasil memberi untung para koruptor dan membuat buntung para penegak keadilan

  3. Arsal Dedi | 21 November, 2009 06:13

    Klu sudah dijual bebas, ntar KPK diberi Komputer Canggih tsb, sehingga bisa mengetahui, menyidik, menindak, menghukum/menvonis para koruptor di Indonesia.

  4. Blog ACEH PUNGO | 22 November, 2009 00:31

    Ke depan siapa tahu, ada yg layar yang bisa membaca isyarat yg muncul dalam pikiran kita…karena dunia terus bergerak canggih, dengan temuan2 yg mengagumkan

Silakan berkomentar, kawan!