Jan
12
Orang mungkin lupa bagaimana Cina bangkit. Sejarah mereka disusun dengan gemuruh pada 1958. Waktu itu Mao Zedong dengan mulut tipis mirip tukang sulap menancapkan semangat kepada rakyatnya. “Cina harus setingkat Inggris, dalam waktu 15 tahun,” katanya.
Cita-cita Mao Zedong itu mengundang banyak cemoohan. “Dia sedang bermimpi,” begitu kata para kapitalis dari Inggris dan Amerika Serikat.
Setengah abad kemudian, sejarah membuktikan bahwa Mao Zedong tidak sedang bermimpi. Dia yakin negeri petani itu bisa menjadi negeri industri. Saat ini negeri mana yang bisa membendung aliran produk dari Cina? Bahkan komponen roket-roket Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) pun dari Cina–sebagian malah terungkap itu hasil komponen bekas yang dikumpulkan industri rumahan.
Survei yang dilakukan Newsweek dan Intel Global Innovation Survey menunjukkan bahwa saat ini banyak orang Amerika Serikat yang tak percaya bahwa negerinya masih merupakan jawara inovasi.
Amerika boleh saja punya temuan hebat: iPhone, Kindle si buku elektronik, Facebook, Twitter, Google. Mereka juga boleh saja punya penemu hebat, seperti Thomas Alva Edison, Alexander Graham Bell, atau Ford. Tapi kini penduduk Amerika sendiri tak yakin negerinya adalah raja inovasi.
Survei yang dilakukan Newsweek dan Intel Global Innovation Survey menunjukkan bahwa hanya 41 persen orang Amerika yang yakin bahwa mereka mengungguli Cina. Survei itu juga menyebutkan bahwa negara paling inovatif adalah Jepang (81 persen), disusul Amerika Serikat dan Cina. Survei ini melibatkan 4.800 responden dari Amerika, Inggris, Jerman, dan Cina.
Dulu, siapa yang bisa membayangkan, di pedalaman Mongolia, di sore yang beku, berdiri 550 turbin pembangkit listrik tenaga angin di sana. Itu adalah Pembangkit listrik Huitengxile, 321 kilometer dari Beijing. Di kota kecil itu kini ada “General Electric”, begitu kata insinyur di sana.
Mengapa Amerika Serikat yang digdaya bisa ditusuk-tusuk oleh Cina. Salah satu jawabannya adalah kemauan Cina yang luar biasa untuk memboyong teknologi dari Amerika ke Cina–kalau perlu dengan membeli perusahaannya, seperti saat Lenovo membeli divisi komputer IBM. Mereka juga memboyong pulang para insinyurnya yang kini menjadi pejabat tinggi di laboratorium atau perusahaan riset di Amerika Serikat.
Tapi, jauh sebelum itu, Mao Zedong sudah mengayunkan langkah raksasa. Mao menggerakkan mimpinya dengan apa saja–termasuk tangan besi. Saat ini baru memulai revolusi industri pada 1958, seorang saksi mata di Tsinan, ibu kota Shantung, bercerita betapa menderitanya mereka. Wartawan Stanley Karnow dalam bukunya, Mao dan Cina, menuturkan: “Kereta api, truk, dikerahkan untuk mengangkut bata, batu bara, dan bijih besi. Istri saya dan wanita lain ditugasi memecah batu bara dan besi dengan palu logam biasa. Mereka harus bekerja 12 jam sehari. Bahkan, demi mendapatkan besi, tentara-tentara masuk ke dapur, menyita kuali-kuali besi untuk dilebur.
Mobilisasi itu dikecam, tapi terus bergulir sampai sekarang. Hutan, sawah, diubah menjadi pabrik. Loncatan besar Mao kini terbukti membawa Cina menjadi naga yang mengaum. Emisi karbon industrinya tertinggi di dunia. BlackBerry, Nokia, iPhone kini semua dilahirkan di Cina. Semua berkat mimpi Mao.
Mengapa Indonesia tak punya mimpi besar seperti itu, ya? Bahkan Korea Selatan, yang luas negaranya tak sebesar Pulau Jawa, pun punya mimpi besar: mengalahkan Jepang.
Kenapa kita tak punya mimpi besar itu? jawaban mudah…KARENA TERLALU SIBUK KORUPSI DENGAN SISTEM HUKUM YANG BISA DIBELI!
kasian ya bangsa kita. mimpi aja ga bisa
banyak yang mimpi kok…
tapi bukan pejabatnya….
Mimpi itu pernah ditancapkan oleh bung Karno, dicoba diteruskan oleh pak Harto,dan hanya menjadi retorika di era reformasi. Sayang sekali, akhirnya mimpi itu dikalahkan oleh satu hal saja, yaitu: KORUPSI.Budaya yang sudah menancap dan berakar dalam di denyut kehidupan bangsa Indonesia. Seperti kanker, perlahan tapi pasti menggeroti nyawa bangsa ini. Tentu ada obatnya, tapi maukah kita berobat? Wallahualam…..
Berakit rakit kehulu,berenang renang ketepian,bersakit sakit dahulu bersenang senang kemudian.Bung Karno sdh mencanangkan BERDIKARI,berdiri diatas kaki sendiri.Yakin Indonesia sdh sejajar dgn Negara2 lain…yg terkamuka.
RI akan bisa bangkit menjadi raksasa seandainya kita mempunyai pemimpin yang baik, Dubai dengan populasi yg jauh lebih sedikit dibanding dengan RI saja juga bisa kok…
jangankan jd negara seperti cina! ngurusin selokan aja gak becus, bukanya ditutup biar sampah gak masuk, malah bikinya asal supaya proyek jalan terus yang artinya korupsi jlan terus!
Mari kita bangkit mulai saat ini, mari kita semua kejarlah mimpi akan hr dpn yg lebih baik untuk bangsa Indonesia. Yakin kita bisa!
Gw rasa yg bikin maju bukan si Mao, proyek lompatan lompatan pembanguan tahun 58 membuat Cina hampir kolaps sebagai negara, rakyat pada mati kelaparan, industri gak jalan, KKN merajalela
Untuk dia mati dan istrinya cepet ditangkep dan dihukum mati.
Yang punya vision ke depan adalah Deng Xiao Ping, yg punya prinsip mo kucing warna apa aja yg penting bisa nangkep tikus…, ini yg bikin maju.
So..please deh kalo bikin artikel mbok ya di riset dulu….
peace
luarbiasa setelah kelihatan baru kita sadar bahwa mimpi itu menjadi kenyataan setelah melalui proses….waktu…Indonesia juga mempunyai mimpi yg besar tetapi belum waktunya….untuk memjadi 5 besar negara yg menentukan didunia….
mao itu bikin china nyaris mati sebagai sebuah bangsa..deng xiaoping yang akhirnya bikin china spt skrg, bukan mao.
Mungkin kita diarahkan ke jalan/tujuan oleh pahlawan ordebaru kita lain dengan negara yang dipimpin oleh komunis cina. Mereka ada tujuan bernegara, bagaimana berdikari itu, bagaimana kerja keras itu untuk negaranya, bagaimana jangan sampai dijatuhkan oleh kapitalis/imperialis (ingat peristiwa Tien An Mien)Komunis Cina hampir jatuh terkoyak.Tapi Sukarno yang mana sebetulnya ingin seperti Cina tidak sampai.Walaupun program politik,atau mindsetnya hampir sama tapi hancur juga.Setelah Sukarno jatuh program dan tujuan kita lain, bukan malah berdikari atau kerja keras tapi kita diajarin bagaimana menghancurkan golongan/bangsanya sendiri.Dulu malah ada satu konsep yang brilian.Kita boleh apa saja entah korupsi atau yang macam2 asal jangan komunis/sosialis. Kalau sudah terindikasi dng itu makan akan tergilas oleh orde kita.RRT yang kembahnya komunis itu bersemboyan tidak perduli warna apa kucing itu, asal bisa menangkap tikus adalah kucing yang baik. Kalau kita tidak.kita tidak ada semboyan tapi kita dididik sebagai ndoro saja, dimana tidak bekerja keras untuk negara tapi untuk perut sendiri,atau untuk golongan tertentu. Tapi kita tidak usah pesimis,sebab 350 tahun lagi dunia ekonomi di jagat raya ini sama semua.Ini menurut perhitungan Pemenang Nobel ekonomie Tinbergen.Dng catatan, asal negara2 industrie memberikan 0,7%gnp untuk negara berkembang.Kita sudah tidak ada lagi yang ada kemakmuran yang merata.Ini yang di idam2kan oleh femikir2 sosialis, dimana sebetulnya kita benci dan kita takutin itu.
kalau hanya mimpi saja bangsa kita belum tentu kalah,kan kita bangsa pemimpi tapi malas bekerja apalagi berpikir.
@ddy: betul. setelah mimpi diletakkan mao, deng menjabarkannya dg baik.
@hadiah Tinenbergen mungkin lupa, bagaimana mungkin negara industri mau menyumbangkan 0,7 % GNP nya. Mereka saja kini menggunakan senjata WTO untuk masuk ke negara berkembang.
@ wp : masih untunglah kalau kita punya mimpi
daripada mimpi saja tak punya. keterlaluan kan?
nggak ada gunanya meributkan Mao atau Deng, yang lebih berguna adalah bagaimana membuat Indonesia “bergerak” seperti Cina. Itu baru Cina, belum lagi India
Indonesia bisa maju seperti China kalo presidennya tidak peragu dalam mengambil keputusan-keputusan penting dan hanya bisa berwacana plus mengeluh……..
Hal-hal yang luar biasa selalu berawal dari sebuah mimpi…dan tentunya dgn kemauan utk mewujudkan mimpi tersebut..
indonesia memang harus punya mimpi, tapi jujur saja saya tidak mau mimpi kita seperti negara china itu, duhhh bayaran utk merusak lingkungan yg sangat mahal dan polusinya mengerikan !! kita harus inovatif tanpa harus melakukan insutrialisasi besar-besaran. kita harus tetap berbasis pada budaya dan wisata..kreatif di sektor jasa, bukan manufaktur
Memang kalo bicara enak, apa lagi membicarakan orang lain. Tapi apakah sudah melakukan sendiri sekalipun yang paling kecil bagi kebaikan bangsa dan negara ini… yang saya katakan “cinta” bangsa dan negara saya. Sering mendengar dan nampaknya benci terhadap korupsi, padahal hal terkecil, lampu merah sering dilanggar karena disana tidak ada polisi. Verboden belok ke kanan atau kekiri juga diterobos… sampai2 harus batu berbicara (penghalang jalan karena sering dilanggar): “hayo belok” juga tetap dilanggar… sampai2 polisi harus mengawasi baru patuh tapi dengan terpaksa, bila dia pergi… masa bodoh…, atau ada orang yang mau belok tapi gak rela mengasi dia jalan, namun bila saya yang mau belok harus dikasi jalan, dan saya masih bicara sebagai orang beragama yang paling baik. Maaf saya tidak menuduh siapa saja yang membaca ini… tapi itu untuk saya kok yg ingin menyumbang bagi bangsa dan negara Indonesai yang saya benar2 cintai mulai dari hal yg kecil dari pernyataan iman saya kepada DIA yang tidak saya lihat tapi saya rasakan hadir dimana saja, ya saya ingin menjadi saluran bagi kebaikanNya. Ah… sudahkah saya ini benar2 mencintai bangsa (sara)dan negara saya “Indonesia”.
Banguuuuuuunnnnn..
Mimpi mulu
kenapa kamu mencintai sesuatu yang dia aja tidak mencintai kamu… kamu bilang kamu cinta indonesia…. ??? terus apa peduli indonesia sama kamu..hah..
rumah digusur… pengemis di kembang biak kan… anak jalanan di telantarkan… pejabatnya BEJAT2…HAH… apa elu orang pernah pikir pake elu punya otak……hah… PEJABAT BUSUK ITU BERKATA … SEMUA UNTUK INDONESIA demi indonesia…. lalu apa yang kita dapet.. hah..
BANJIR… MACET TIAP HARI….
MANA INDONESIA…. KATANYA
“iNDONESIA SEJAK DULU KALA TELAH DI PUJA-PUJA BANGSA..” Cuiiihh
ga malu apa sama pasukan pengemis… anak putus sekolah…
hahh… pikir pake elu punya OTAK
@kamu, indonesia emang sudah parah disegala bidang..dan bisa lagi lebih parah lagi jika semuanya sikapnya sama seperti anda.. memang anda tidak salah..sikap bangga dan cinta bisa tumbuh karena itu adanya suatu benefit/keberuntugan terhadap kita.. ta[i tanpa sikap rela berkorban.. sebuah bangsa tidak akan bisa berhasil
@kamu lagi, toh pejabat2 pemerintah bukankah mereka pun berasal dari rakyat kecil? tanpa adanya HUKUM dan pencipta hukum yg betul2 tegas dalam mengikat, mengatur dan memaksa mati rakyatnya..maka kacau balaulah yg bakal menanti..