Enak di Blog dan Perlu

lady_gaga“Bisnis musik butuh lebih banyak Lady Gaga.” Sebuah koran bisnis di Amerika menulis itu.

Orang mungkin akan tercengang dengan kesimpulan itu. Lady Gaga, penyanyi dengan dandanan supernorak? Saking noraknya, orang mungkin lupa yang menarik dari Lady Gaga adalah suaranya atau keberaniannya berdandan semau gue–misalnya rambut dibentuk seperti tanduk, sepatu hak tinggi dipegang bersama mikrofon, baju dengan warna-warni yang bertabrakan, atau, aduh, dandanan yang tak memakai rok bawah, melainkan body painting.

Lady Gaga, meski meraih Grammy Awards, bukanlah potret sederet musik yang tertib: lintasan melodi yang apik, suara yang meliuk-liuk indah, atau dentum musik dengan petikan gitar yang mencengangkan. Stefani Joanne Angelina Germanotta nama aslinya. Dia dulu penyanyi pembuka untuk New Kids on The Block dan Pussycat Dolls. Dari penyanyi rock, gadis 23 tahun itu menyeberang ke musik elektronik dan lagu dansa yang berdentam-dentam.

Meski bukan tokoh yang sempurna, penyanyi yang suka memainkan ngak-ngik-ngok dengan synthesizer itu memang menara pengatrol penjualan musik digital di Amerika Serikat. Dia adalah artis dengan penjualan lagu digital terbesar di Amerika, terjual 15,3 juta unit. Itu belum ditambah jumlah lagu yang didengarkan melalui situs seperti YouTube atau MySpace. Menurut perusahaan riset BigChampagne, lagu Gaga telah diputar 321,5 juta kali.

Gaga adalah gambaran suasana hati Amerika. Orang-orang di sana semakin enggan membeli album musik dalam format tradisional, CD atau kaset. Penjualan album musik pada 2009 anjlok 13 persen dibanding pada 2008 menjadi 373,9 juta unit. Padahal setahun sebelumnya, pada 2008, penjualan album musik meningkat 27 persen.

Itu musibah besar. Walau sudah ditolong dengan meroketnya kembali lagu Michael Jackson–akibat kematian Sang Raja Pop–dan Susan Boyle, industri musik di sana mulai megap-megap. Perusahaan rekaman, menurut data Asosiasi Industri Rekaman Amerika, telah memangkas 60 persen karyawan selama satu dekade ini.

Pembajakan membuat industri itu bersungut-sungut. Kehadiran toko musik digital, seperti iTunes.com, maupun Lady Gaga bak  suster yang datang dengan napas buatan. Saat ini 40 persen penjualan musik di Negeri Abang Sam adalah musik digital.

Gaga mendekati pasar dengan cara yang berbeda dengan band atau musisi lain, seperti Metallica. Metallica menggugat Napster, penyedia layanan berbagi musik di Internet. Gaga, sebaliknya, membebaskan musiknya didengarkan lewat YouTube atau MySpace. Dia juga berkampanye lewat situs jejaring sosial. Hasilnya, itu malah membuatnya populer. Penjualan album musiknya melambung.

Industri musik di Indonesia jauh lebih kelabu ketimbang di Amerika. Meledaknya pembajakan membuat tidak banyak musisi menerbitkan CD atau kaset. Mereka cuma berharap pada bisnis nada sambung di telepon seluler. Industri musik tersungkur.

Untunglah ada sedikit obat, yakni lahirnya Langitmusik.com, situs yang menjual musik digital. Anda bisa mengunduh musiknya, legal. Cukup bayar Rp 5.000 per lagu. Tapi itu mungkin belum cukup. Langitmusik.com bukanlah iTunes yang sudah menjual miliaran lagu dengan harga kurang dari 1 dolar. Indonesia butuh Lady Gaga lokal! Lady Gaga, please bantu kami.

Komentar [1]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

Satu Komentar untuk “Lady Gaga, Please”

  1. frank drebin | 9 February, 2010 14:07

    ini sudah diramal oleh Queen lewat lagu radio gaga

Silakan berkomentar, kawan!