Enak di Blog dan Perlu

Wicaksono

Pemain ganda. Begitulah seorang kawan menjuluki saya yang jurnalis sekaligus blogger aktif. Tentu saja ia hanya sekadar meledek, meski saya menganggapnya sebagai sanjungan. Apalagi saya memang tak pernah bermain bulu tangkis sebagai pasangan ganda putra ataupun campuran.

Sebagai pemain ganda dadakan, saya sering ditanya blogger yang ingin menulis seperti jurnalis, juga para jurnalis yang mau menjadi blogger. Ini yang membuat saya tak nyaman karena saya merasa belum menjadi jurnalis yang baik, pun bukan blogger piawai. Meski demikian, suka tak suka, akhirnya saya menjalani peran ganda itu semampu saya. Kepada teman-teman blogger saya berbagi kiat menulis dan dengan para kolega, saya berdiskusi soal blog.

Menurut hemat saya, dua dunia itu, blog dan media mainstream, adalah wilayah yang mirip. Blogger pada dasarnya jurnalis, begitu pula sebaliknya. Yang berbeda hanyalah media, tempat mereka berkarya. Mestinya, kedua pihak gampang untuk saling belajar, bukan malah saling menganggap sebagai ancaman.

Sebagian blogger memang sering meledek jurnalis dan media cetak sebagai makhluk purba di abad digital ini. Tapi kepada dinosaurus itulah sebenarnya blogger bisa belajar tentang standar, kaidah, metode, gaya, format, etika, dan kearifan dalam menulis. Jurnalis dan media cetak adalah kiblat penulisan yang baik bagi para blogger. Berbekal ilmu jurnalistik, selama bertahun-tahun jurnalis menulis, membuat berita, feature, dan sebagainya.

Untuk membuat posting yang “dalam”, yang berbeda, blogger bisa meniru jurnalis membuat laporan investigasi. Lakukan reportase, wawancarailah orang-orang yang terlibat, dan temukan informasi yang tak diketahui blogger lain. Bila informasi yang diperoleh itu bukan sesuatu yang umum, terutama yang berpotensi memicu kontroversi, sebutkan sumbernya. Kalau sumbernya ada di Internet, cantumkan alamat tautannya (hyperlink).

Pertimbangkan aspek visual sebuah posting dengan menulis secara ringkas dan cergas. Teks yang terlalu panjang akan melelahkan dan menjemukan pembaca daring (online). Buatlah paragraf pendek, maksimal tujuh kalimat saja. Hiasi dengan gambar atau tabel agar posting mudah dipahami dan lebih nyaman bagi mata.

Setiap posting hendaknya ditulis secara jernih. Posting yang jernih itu tak hanya dimengerti penulisnya, tapi juga tak ditafsirkan lain oleh pembacanya. Caranya, perlambat tempo informasi yang mengalir. Gunakan kata sederhana. Kurangi kata-kata bermakna ganda dan potong bagian yang tak perlu. Tuliskan yang ingin diungkapkan saja, jangan lebih.

Bagian paling penting dan paling sulit dalam membuat posting adalah judul. Membuat judul membutuhkan keterampilan. Meski di blog tersedia ruang lebar untuk membuat judul sepanjang apa pun, hukum membuat tajuk yang deskriptif tapi pendek tetap berlaku. Buatlah judul sependek mungkin, biasanya kurang dari sembilan kata, tapi menggambarkan keseluruhan cerita.

Tentu saja semua kiat itu tak harus dipakai di setiap posting. Saya hanya menunjukkan sedikit pelajaran jurnalistik yang bisa dicontoh blogger untuk meningkatkan kemampuan menulis. Waktu dan kreativitas blogger-lah yang akan mendorong pembaruan penulisan, seperti yang sudah dilakukan para jurnalis media cetak.

Komentar [7]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

7 Komentar untuk “Kiblat”

  1. TEGUH SEKSIONO | 25 April, 2008 16:48

    Blog pada hakekatnya adalah jurnalisme digital. Tentu kaidah-kaidah yang baik dari “jurnalistik konvensional ” harus dipelihara sehingga informasi dan komunikasi yang terjadi dalam kondisi sehat dan beradab. Memang kita agak kewalahan dalam mengkontrol jurnalisme digital karena ” tidak bisa di bredel “. Mestinya semakin modern suatu masyarakat pola pikir dan pola tindak tidak perlu dikontrololeh institusi tetapi harus mampu mengkontrol diri sendiri.

  2. Alus Setya Pambudhie | 26 April, 2008 11:45

    Perbedaan antara blog dan media mainstream memang sangat tipis, ada sisi dimana keduanya sebenarnya sama. Cara dan menu penyajian akan mengundang pembaca lebih menikmati.

  3. kw | 27 April, 2008 16:39

    salut, tulisannya di mana mana. duh aku target sehari nulis satu aja “gak mampu”. :)

  4. Bhm | 28 April, 2008 01:09

    Blog jelas jauh lebih canggih dari media mainstream karena sifatnya yang interaktif. Bahwa media cetak masih eksis saya kira karena belum ada terobosan teknologi yang membuat akses membaca dan menulis via blog semurah dan semudah koran misalnya. Tapi ini hanya soal waktu karena harga laptop semakin murah dan produk e-book kelihatannya terus berkembang semakin canggih dan harganya pun makin terjangkau/bersaing.
    Yang lebih petning dari gaya menulis adalah kredibilitas informasi yang disampaikan. Pada akhirnya jurnalisme adalah soal kredibilitas kan. Selamat ngeblok dan bravo untuk Ndoro Kakung Wicaksono.

  5. Retty | 28 April, 2008 11:41

    Terima kasih atas jurus-jurus tambahannya…he…he…he…baru bisa komentar karena baru ketemu koneksi internet setelah akhir pekan tanpa internet. Yang cetak dan yang daring (kok ya aneh kedengarannya) sama-sama menebar pesona, semoga bisa saling kolaborasi!

  6. kalinamaya | 29 April, 2008 14:50

    TEGUH SEKSIONO on April 25, 2008 4:48 pm

    Blog pada hakekatnya adalah jurnalisme digital.

    Tampaknya terminus “jurnalisme digital” masih belum “match” dengan apa yang disandingkan dengan “jurnalisme konvensional”
    Pendek kata, ranah jurnalis mampu menembus era “digital” maupun “konvensional”, namun yang terpenting adalah terminus “jurnalistik”. Itu menjadi pembelajaran bersama untuk mengungkap tingkat kesadaran dan era peradaban baru manusia yang menuangkan ide serta gagasannya dalam bentuk tulisan.

  7. dewisang | 1 May, 2008 07:48

    nah yg aku belum bisa (mungkin) menulis secara jernih, ada aja yg menafsirkan lain, iseng ato apa ya. pernah nulis apa adanya, eh dikritik habis2an, padahal itu kenyataan yg sy alami, hayo gmn…blog kna buat curhat, eh ada yg ga’ trima…

Silakan berkomentar, kawan!