Enak di Blog dan Perlu

Inovasi selalu datang dari orang yang melawan “ketertiban”. Charlie Chaplin adalah contohnya. Pada 1920-an, dia datang melawan “keteraturan” dengan menjadi gelandangan kontet, bercelana gombor, dan mengacaukan agen polisi. Tak ada banyolan seperti itu pada masa itu.

Kamis pagi lalu, pertempuran melawan “ketertiban” itu pula yang dilakukan Steve Jobs, bos Apple Inc. Dunia sudah menelan bulat-bulat definisi peranti digital: ada laptop, ada netbook untuk komputer yang kecil dan ringan, ada telepon seluler atau PDA. Di dunia seberang lainnya, ada buku digital, seperti Kindle milik Amazon.com.

>> Dengar juga wawancara Burhan dan Dirgayuza dengan BBC

Jobs melawan “ketertiban” definisi itu. Dia mengawinkan buku digital, netbook, dan ponsel pintar. Hasilnya: iPad. Lupakan buku digital yang kaku dengan layar hitam-putih. Lupakan netbook dengan prosesor lemot dan tak bisa digunakan untuk membaca Lost Symbol karya Dan Brown sembari tiduran atau main game sembari menunggu pesawat.

Ini buku digital serba bisa. Beratnya cuma 0,7 kilogram, atau sama dengan buku diktat biasa. Layarnya 9,7 inci dengan kapasitas simpan hingga 64 gigabita. Yang terpenting, semua itu dikemas dengan kehebohan ala Apple yang bergema di mana-mana. Bahkan acara peluncurannya, yang berlangsung pukul 4 pagi waktu Indonesia, juga ditunggu-tunggu penggemarnya.

Boleh jadi Bill Gates akan murung dengan peluncuran peranti ini. Sembilan tahun lalu, dia sudah meramal tren komputer tablet seperti iPad. “Komputer tablet bakal populer dalam lima tahun,” kata pendiri Microsoft ini saat itu, pada 2001.

Tapi proyek Gates ternyata seperti tersalip di batu. Meski didukung produsen komputer, seperti Dell dan Compaq, proyek itu macet. Microsoft tak bisa menyodorkan produk yang “wah”. Produk itu binasa. Imajinasi insinyur Microsoft rupanya sedang lesu darah soal ini.

Jobs datang dengan sentuhan senimannya. Ia telah mengantongi hak paten teknologi ini sejak 2004. Tapi Jobs baru meluncurkan produk komputer tablet mini pada 5 September 2007, yakni iPod Touch. Inilah cikal-bakal iPhone dan iPad.

“Dengan pengalaman telah menjual 75 juta iPod Touch dan iPhone, kami tahu orang butuh iPad,” kata Jobs. Wajahnya semringah di acara peluncuran pada Kamis lalu. Badannya kurus dibalut “seragam” khasnya, sweater hitam dan celana jins biru.

Dengan peranti ini, yang dijual seharga Rp 4-8 juta, sekali lagi Jobs telah melawan “ketertiban” pasar komputer. Persis seperti yang dia lakukan ketika pertama kali melakukan revolusi komputer. Jobs-lah yang mengawali revolusi dan melahirkan Lembah Silikon dari garasi rumahnya 25 tahun lalu. Ia kembali menegakkan roda revolusi saat meluncurkan iPod pada 2001. Itulah saat revolusi industri musik dimulai. Dia bisa menjual lagu format MP3 saat orang gemar membajak lagu lewat Internet.

Kini bendera revolusi itu kembali dia kibarkan. Ia melawan “ketertiban” dengan menantang Kindle, yang telah terjual 1,5 juta unit.

Komentar [10]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

10 Komentar untuk “iPad, Musuh “Ketertiban””

  1. Herman RH | 2 February, 2010 16:50

    Kok isinya keunggulan ipad aja.
    1 hal yg paling parah dari ipad, ga bisa multi tasking.

  2. andy | 4 February, 2010 03:11

    gua agak gak enak baca “mengawinkan buku digital, netbook, dan ponsel pintar”…iPad gak bisa dipake nelpon, gak ada kamera buat chat atau ngambil gambar, dan seperti yang ditulis di atas, gak bisa multi tasking…such a waste…produk apple…harganya terlalu banyak biaya promosi, bukan teknologi…

  3. aespe | 4 February, 2010 13:04

    ah tulisan lebay nih, ditulis seorang fanboy kyknya, udah baca lengkap fitur ipad blom? kekeke…

  4. rumahdanproperti.com | 4 February, 2010 15:10

    hi.. mau ikut pay per review? confirm balik ke ferdian[at]rumahdanproperti.com ya.

  5. iwan | 5 February, 2010 09:53

    ga lebay ah..multi tasking buat apa di mobile device..pake laptop aja kalo mau kerja berat..hehhe..steve jobs bilang bahwa iPad diciptakan untuk hal-hal utama dalam mobile device..ga liat presentasinya ya? ( hehehe)

  6. suminta | 6 February, 2010 03:07

    Apapun perdebatanya cuma adadua hal tulisan ini cumapromosi yang ga jujur karena tak pakai judul iklan kedua kita tetap menjadi korban pasar industri

  7. burhan | 11 February, 2010 16:54

    @ suminta bukan promo sebenarnya. karena jika hadir di indonesia pun saya tak akan membelinya. ini cuma membedah cara berpikir jobs.

    coba simak apa kata bill gates soal iPad. “Saya tak terkesan,” katanya. (artikel selengkapnya baca di http://tempointeraktif.com/hg/it/2010/02/11/brk,20100211-225030,id.html )

  8. MR.You's | 14 February, 2010 21:22

    kalo mao beli, jangan maksa yang gak mo beli!
    kalo ga mau beli ga usah repot, liat/pinjem aja punya orang yang udah beli!
    OK ???

  9. myjellybee | 10 March, 2010 13:39

    iPad, Musuh “Ketertiban”
    Hmmm… kata-kata ini mungkin masih berlaku beberapa “dasawarsa” yang silam. Masih ingat dengan iklan legendaris Apple ketika me-release Macintosh tahun 1984. Berdasar pada novell George Orwell berjudul sama “1984″. Pada novell itu digambarkan sebuah masa di benua Oceania yang dikuasai oleh regime dan pimpinannya sang “Big Brother”. Seluruh wilayah, pemerintahan bahkan siaran tv publik dan swasta dikuasai oleh Big Brother. Tidak ada lagi kebebasan ber-ekspresi dan bersuara bagi seluruh manusia. Bagi yang melawan akan disiksa dan dihukum berat. Semua harus patuh, satu suara dan satu pemikiran. “Information Purification Directives”.

    Apple menggunakan iklan ini untuk menyatakan kedudukannya sebagai rebel atau pemberontakan melawan keteraturan, hukum, dan dominasi teknologi (including IBM) pada saat itu. Namun sedihnya pada saat sekarang ini, Apple justru bertindak sebagai sang “Big Brother”. Hal ini terbukti semenjak diluncurkannya iPhone tahun 2007. Ketika kita membeli komputer/laptop, komputer tersebut adalah milik kita, kita bisa lakukan hal apapun yang diinginkan. Tambah hardware baru, Install software yang disukai, bahkan memodifikasi sesuai kebutuhan. Namun, Apple tidak mau iPhone yang kita beli diperlakukan seperti komputer, meskipun kemampuan iPhone sudah menyerupai komputer.

    Aplikasi yang sudah kita develop tidak bisa langsung di-install ke iPhone. Aplikasi harus di-verifikasi secara digital oleh Apple terlebih dahulu. Tampaknya Apple ingin memegang kendali aplikasi di iPhone nya. Semua aplikasi di iPhone harus berasal dari AppStore (Toko Aplikasi resmi milik Apple). Aplikasi yang tersedia memang sangat berlimpah (more than 50.000 apps) bisa di-download di AppStore. Tapi bagaimana bila pengguna ingin aplikasi “lain” dan aplikasi tersebut tidak tersedia di AppStore? Bagaimana bila pengguna membutuhkan multitasking? Kamera Video? Mengapa hanya iPhone 3G S yang bisa Video Camera? Mungkin karena itu banyak pengguna iPhone men-Jailbreak iPhone miliknya (just like me)? Karena mereka butuh pilihan lain.

    iPad yang dikatakan Steve Jobs pada keynote-nya sebagai perangkat diantara Smartphone dan Laptop, dengan form factor yang ada seharusnya lebih closer ke Laptop/komputer yang lebih terbuka. Tapi Apple menghendaki iPad diperlakukan seperti halnya iPhone.
    Apple bukan lagi musuh “ketertiban”. Apple telah menjadi pihak yang “menertibkan”.

  10. pria paling ganteng di dunia | 15 June, 2011 17:06

    Nice blog, This is very detailed and informative article.

Silakan berkomentar, kawan!