Enak di Blog dan Perlu

“Anakku… anakku…,” Jeudy Francia berteriak dengan suara parau. Ibu muda itu–usianya baru 20-an tahun–menjerit di luar Rumah Sakit St. Esprit, di pinggiran Port-Au-Prince. Anak perempuannya, umur 4 tahun, sedang sekarat dan terbaring di halaman rumah sakit yang kacau balau. Di dekatnya terbaring puluhan mayat korban gempa Haiti terbungkus seprai putih. Seorang nenek meringis. Kakinya terpelintir bak pretzel, kue asin yang kerap berbentuk angka 8.

“Tidak ada obat-obatan, tak ada perawat, tak ada penjelasan mengapa anak saya sekarat,” kata Francia sembari menangis.

Dokter dan perawat juga bingung luar biasa. “Kami kewalahan. Kami tidak memiliki kapasitas untuk lebih banyak korban. Kami tidak punya waktu untuk berbicara,” kata seorang sukarelawan dari Prancis yang bekerja untuk lembaga Doctor without Borders (dokter tanpa batas).

Gempa 7,3 pada skala Richter di kedalaman 10 kilometer itu membuat Haiti berderak. Wilayah itu hampir rata dengan tanah. Rumah sakit lumpuh. Infrastruktur telekomunikasi mampat. Pulau mungil di dekat Kuba dan Amerika Serikat itu terisolasi. Tanpa listrik, hanya bintang yang menawarkan satu-satunya penerangan di kota, rumah bagi hampir 3 juta orang. Bagi sebagian dari mereka yang tergeletak di aspal atau di taman, ponsel memberikan sekilas cahaya, juga harapan.

Untunglah dunia tak sedang tuli. Mulanya beberapa gelintir sukarelawan menuliskan rasa getir mereka soal gempa di Haiti di Twitter dan Facebook. Keprihatinan ini menyebar hebat di ranah situs jejaring sosial. Foto-foto dan video penderitaan orang-orang seperti Francia segera ditonton miliaran orang. Di Facebook, contohnya, dalam semenit tercatat ada 1.500 perubahan status yang memakai kata kunci “Haiti”.

Gema tentang gempa Haiti ini makin kuat saat para influencer seperti Wyclef Jean ikut-ikutan “nge-Tweet”. Musisi asal Haiti itu menyebar virus simpati untuk Haiti. “Kami butuh bantuan segera,” tulis Jean. Anda bisa melihat banyaknya yang menulis “gempa Haiti” di Twitter, http://twitpic.com/mq2nh.

Jutaan orang di dunia pun terenyuh. Maka, saat Palang Merah Internasional membuka layanan berderma lewat ponsel dengan cara potong pulsa, bantuan datang seperti air bah. Hanya dalam tiga hari, 12 sampai 14 Januari, lembaga donor itu telah mengumpulkan donasi sebesar US$ 2 juta (Rp 18,4 miliar) lewat potong pulsa.

Dahsyat. Cukup dengan mengirim pesan pendek berisi “Haiti” ke nomor 90999, orang di Amerika Serikat bisa mengirimkan bantuan. Satu pesan pendek (sandek) setara dengan bantuan US$ 10 (Rp 92 ribu), yang disalurkan lewat Palang Merah. Seperti halnya koin untuk Prita Mulyasari, popularitas sandek derma ini meningkat pesat. “Saat ini adalah hari-hari penuh dengan sedekah mobile,” kata Toni Aiello, bos mGive, perusahaan yang mengelola derma lewat ponsel itu.

Di saat normal, mGive menarik ongkos jasa untuk software sebesar US$ 4 sampai US$ 1.500 per bulan, tergantung seberapa besar lembaga pengumpul dana itu. Dalam kasus Haiti, kata Aiello, mGive menggratiskan semua biaya itu. “Ini tragedi besar, kami ingin turut membantu,” katanya.

Demam berderma lewat ponsel juga menyebar berkat Twitter Wyclef Jean. Dia tak henti-henti mengajak orang bersedekah US$ 5 dengan mengirim sandek “YELE” ke 501501.

Inilah era bencana 2.0. Definisi 2.0 itu tentu bukan seperti yang dilahirkan oleh Tim O’Reilly saat menyebut web 2.0–web generasi kedua, yang melibatkan partisipasi pembaca web. Bencana 2.0 bukan karena semua orang berpartisipasi membuat bencana. Sebaliknya, orang bergotong-royong lewat laman web dan situs jejaring sosial. Berkat Twitter dan Facebook, sejumlah artis, seperti Matt Damon atau Chris Martin dari Coldplay, pun tergerak.

Dunia benar-benar sedang terinfeksi virus web 2.0 dan demam situs jejaring sosial.

Komentar [3]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

3 Komentar untuk “Bencana 2.0”

  1. Herman RH | 21 January, 2010 17:45

    Bencana membuat orang2 jadi murah hati, tulus, sigap. Setelah itu, entah.

  2. Blog Inspirasi | 22 January, 2010 15:39

    sebuah bukti bahwa masih banyak orang yang memiliki empati terhadap org lain…Turut berduka atas bencana yg menimpa Haiti

  3. MantraSakti | 17 March, 2010 19:29

    Semuanya ikhtibar pada yang masih hidup,anyway,live have to go on

Silakan berkomentar, kawan!