Enak di Blog dan Perlu

Pertanyaannya begitu menyengat. “Mau PIN BlackBerry cantik nggak?” Saya melongo mendengar pertanyaan itu. “Ha, PIN cantik? Bagaimana bisa?”

“Bisalah!” lelaki itu menyergah. “PIN (nomor identifikasi) BlackBerry yang ruwet bisa disulap jadi cantik.” Jadi, bila awalnya PIN itu bernomor B4FF4258, misalnya, bisa “dipermak” menjadi BURHAN01.O lala. Betapa mudahnya menghafalkan PIN cantik.

Belum selesai saya memikirkan kira-kira PIN cantik apa yang saya pilih, lelaki itu sudah menyodorkan tawaran lain. “Harganya murah kok, cuma Rp 4,5 juta.”

“Memang bisa?”
“Apa yang tak bisa dilakukan di Glodok?” tanyanya lagi.

Memasuki Glodok, Jakarta, memang seperti memasuki dunia yang penuh akal usil. Di kawasan Pecinan itu tak hanya ada berderet-deret barang elektronik berbagai merek. Di lorong-lorong sempit di Glodok juga tersimpan akal-akal pintar.

Mari buka buku sejarah penjualan ponsel di Indonesia. Beberapa tahun silam, Fren menggebrak pasar dengan ponsel murah yang berdesain lembut. Ponsel itu dikunci sehingga hanya bisa memakai jaringan Fren, yang tarifnya semahal tarif GSM.

Dari sudut-sudut gelap di pertokoan Glodok itulah kemudian mengalir akal bulus. Kunci ponsel Fren ini dibuka. Ponsel bisa dipakai untuk jaringan lain, seperti Esia, yang bertarif lebih murah.

Peminatnya membludak. Glodok pun tiba-tiba kebanjiran bisnis unlock ponsel. Ponsel apa saja bisa dibuka kuncinya, tak terkecuali ponsel mahal sekelas iPhone, PDA, atau BlackBerry.

Akal usil yang membanggakan tapi juga membuat sedih. Yang bikin sedih adalah Glodok cuma berhenti pada kepingan bisnis membuka ponsel atau membuat DVD bajakan. Mereka seperti tak pernah mau berjalan lebih jauh, yakni menuju hulu akal usil: KREATIF.

Pedagang-pedagang di Glodok sepertinya sudah cukup puas dengan hanya menjadi pedagang. Amat jarang pedagang-pedagang di sana punya keberanian mengumpulkan kepingan-kepingan akal usil lalu merajutnya sehingga menjadi sebuah penemuan yang hebat.

Mengapa Glodok tak bisa menjadi Taiwan? Taiwan pada mulanya ditopang oleh sekumpulan para penjiplak. Mereka meniru produk apa saja, dari sandal, radio, sepeda motor, hingga komputer. Tapi para pedagang di negeri seupil itu tak puas hanya jadi peniru. Mereka juga ingin menjadi penemu.

Orang-orang pintar seperti Stan Shih mendirikan Acer. Lalu ada Nyonya Cher Wang, yang merintis pabrik komputer genggam (PDA) HTC. Mereka dulu bukan siapa-siapa. Dulu mereka hanya menjadi “penjahit” untuk komputer atau PDA buatan Amerika Serikat, seperti Hewlett Packard atau Dell.

Yang terjadi kemudian adalah sekelompok peniru dan “penjahit” komputer dari Taiwan ini bangkit. Lalu industri prosesor dan komputer di Taiwan tumbuh bak cendawan di musim hujan. Ada ASUS, Gigabyte, MSI, Axioo, dan sederet nama yang mungkin tak terlalu dikenal oleh pembeli komputer di sini.

Lihatlah Taiwan–juga Cina–kini. Merekalah raja komputer sesungguhnya di dunia ini. Dari 10 merek besar komputer di dunia, delapan di antaranya berasal dari Taiwan. Bahkan perusahaan seperti Acer pun mencaplok perusahaan komputer Amerika, seperti Getaway. IBM juga takluk kepada perusahaan tetangga Taiwan, Lenovo dari Cina daratan.

Sayangnya, pedagang-pedagang Glodok tidak seperti pedagang Taiwan. Keusilan mereka mandek pada level pedagang. Bukan penemu.

Komentar [9]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

9 Komentar untuk “Akal Usil Glodok”

  1. Jaka | 16 June, 2009 16:58

    yang pertama sekali kami butuh pemodal. ke dua, kami butuh orang tahu pasar. yang ke tiga, sebenarnya kami takut keluar

  2. Frank Drebin | 16 June, 2009 20:35

    Glodok itu kan ujung tombak penjuakan dari Taiwan mas, jadi mereka bukan cuma puas jadi penjual tapi memang berprofesi sebagai SPG, Sales and Piracy Gitu Loh!

    Btw, pemilik Krisbow (yang juga punya Ace Hardware) itu awalnya juga jualan alat pertukangan di Glodok tapi sekarang mendunia jadi tetap penuh harapan dong mas, pasti ade juge leh yang keik gitu

  3. myjellybee | 17 June, 2009 15:45

    Saya jadi inget film “Pirates of Silicon Valley”. Steve Woz dan Steve Jobs, dua orang pendiri Apple yang pada awalnya masih menggunakan garasi rumah Jobs sebagai tempat produksi PC nya. Sebelum itu mereka pernah membuat (dan menjual) blue box, alat buatan Woz supaya bisa telpon gratis di jaringan AT&T bahkan mereka juga iseng menelpon Paus di Vatican. Woz yang sejak kecil doyan radio amatir ini juga pernah usil membuat rangkaian elektronik yang mengeluarkan suara detik “tick tick tick” dan memasukkannya kedalam tas hitam berisi setumpuk batu bata, hal ini membuat kepala sekolahnya lari terbirit2x menuju lapangan sekolah sambil membawa tas hitam itu yang dikiranya berisi bom! Woz juga pernah bikin “Frequency Jammer” yang membuat siaran tv di-asrama nya kacau.

    Namun orang-orang “Usil” di wilayah Woz dan Jobs tinggal memang relatif lebih beruntung dibanding kita. Banyaknya pemodal ventura yang bertebaran, Steve Jobs bertemu seorang Venture Capitalist bernama Don Valentine. Namun Don tidak tertarik untuk berinvestasi di Apple, ia merekomendasikan Mike Markkula, seorang Angel Investor yang mendapatkan kekayaannya dari Stock Option ketika masih bekerja di Fairchild Semiconductor dan Intel. Apple pun mendapat modal US$250.000 pada tahun 1976 dan berhasil IPO (Initial Public Offering) akhir tahun 1980. IPO Apple merupakan penawaran saham perdana ke publik yang luar biasa. IPO ini menghasilkan dana yang jauh lebih besar dibandingkan IPO perusahaan otomotif Ford tahun 1956, bahkan penjualan saham Apple ke publik ini menciptakan millionaire baru terbanyak sepanjang sejarah penawaran saham perdana di U.S pada saat itu. Beberapa pemilik saham Apple pun langsung “menguangkan” sahamnya.

    Sampai saat ini, “iklim investasi” seperti di Silicon Valley ini yang sulit dibawa ke Glodok (atau bahkan wilayah lain di negeri ini!). Cina dan Taiwan memang memiliki policy terbuka untuk investasi di-negaranya. Investasi itu long term. Investasi itu butuh waktu, dalam kasus Apple membutuhkan waktu 5 tahun untuk dapat menuai hasilnya. Sedangkan mindset pedagang adalah perputaran uang yang cepat. Semakin cepat modal balik semakin baik! Jadi seorang trader/pedagang dan investor memiliki mindset yang bertolak belakang. Ms. Cher Wang yang lulusan University of California, Berkeley pun bukan seorang pedagang! Ia memiliki mindset investor. Sama seperti Steve Jobs, Ms. Cher Wang bahkan seorang risk taker! HTC dulu hanya memproduksi notebook, namun Ms Wang berani ambil resiko agar HTC stop produksi notebook, dan fokus pada ponsel dan hand-held device padahal engineer HTC spesialis di-notebook! HTC juga pernah mengalami kesulitan dana ketika pasar belum siap menerima kehadiran PDA Phone yang lebih mirip komputer. HTC pun mengambil langkah beresiko dengan membuat HTC G1, dengan OS Google Android guna menyaingi Apple iPhone! Yeah Indonesia memang membutuhkan banyak orang dengan pemikiran seperti ini! Seorang Investor! Risk Taker!

  4. Konyol | 22 June, 2009 16:50

    mnurutku, ini gak sepenuhnya benar. Kita punya League, yg ditinggal Nike, atau perakit DVD KCL yg lokal punya di kemayoran..

  5. Akal Usil Glodok | Aloha2.co.cc | 4 July, 2009 16:10

    [...] Pertanyaannya begitu menyengat. “Mau PIN BlackBerry cantik nggak?” Saya melongo mendengar pertanyaan itu. “Ha, PIN cantik? Bagaimana bisa?” “Bisalah!” lelaki itu menyergah. “PIN (nomor identifikasi) BlackBerry yang ruwet bisa disulap jadi cantik.” Jadi, bila awalnya PIN itu bernomor B4FF4258, misalnya, bisa “dipermak” menjadi BURHAN01.O lala. Betapa mudahnya menghafalkan PIN cantik. Belum selesai saya memikirkan kira-kira PIN cantik [...] Read more… [...]

  6. Akal Usil Glodok | Aloha2.co.cc | 4 July, 2009 16:10

    [...] Pertanyaannya begitu menyengat. “Mau PIN BlackBerry cantik nggak?” Saya melongo mendengar pertanyaan itu. “Ha, PIN cantik? Bagaimana bisa?” “Bisalah!” lelaki itu menyergah. “PIN (nomor identifikasi) BlackBerry yang ruwet bisa disulap jadi cantik.” Jadi, bila awalnya PIN itu bernomor B4FF4258, misalnya, bisa “dipermak” menjadi BURHAN01.O lala. Betapa mudahnya menghafalkan PIN cantik. Belum selesai saya memikirkan kira-kira PIN cantik [...] Read more… [...]

  7. Roza | 19 August, 2009 17:33

    masih menyimak dulu sob..

  8. ismael | 15 October, 2009 14:35

    emang glodok semuanya serba bisa…

  9. Reza Harahap | 12 August, 2011 22:45

    memang betul di glodok, apa aja bisa…

Silakan berkomentar, kawan!