Enak di Blog dan Perlu

Uncategorized

Suatu ketika, dalam Perang Dunia II, jenderal legendaris Dwight Eisenhower tengah berjalan di dekat Sungai Rhine. Ia bertemu seorang prajurit Amerika yang wajahnya tampak kusut. “Apa yang kau rasakan, Nak?” tanya sang jenderal. “Saya sangat gelisah,” jawab prajurit. “Kalau begitu,” kata Eisenhower, “aku dan kamu merupakan pasangan yang baik, sebab akupun merasa gelisah. Mungkin kalau kita berjalan-jalan bersama, kita bisa saling membantu.” Tak ada makian, bahkan tak ada nasihat yang terucap dari bibir Eisenhower.

Jenderal legendaris itu telah menunjukkan rasa empati kepada prajuritnya yang sedang gelisah. Ia berempati dengan memperlihatkan perasaan serupa, dan ini sama sekali bukan tindakan yang merendahkan diri seorang jenderal. Eisenhower justru memberikan dorongan semangat dengan cara menempatkan diri bahwa meskipun ia seorang petinggi militer, ia pun bisa mengalami hal serupa.

Tapi lain lagi apa yang dilakukan oleh manajer yang kurang peka. Belum lama ini, seorang kawan ‘curhat’ tentang perlakuan yang ia terima dari manajernya. Kegagalannya dalam meraih target berbuah kritik pedas yang menjurus pada sisi pribadi. Ia dianggap tidak cukup pintar melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan. Di saat seperti itu ia merasa ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Alih-alih memperoleh komentar yang memompakan semangat, yang ia dapat malah kritik pedas yang menciutkan hati.

» baca selengkapnya

, ,

20101108-revisi

Fitra Moerat, tukang grafis tinggal di Vietnam

,

20101021-01

20101021-02

20101021-03

20101021-04

20101021-05

20101021-06

20101021-07

Fitra Moerat, tukang grafis tinggal di Vietnam

, ,

20101011-01

20101011-02

20101011-03

20101011-04

20101011-05

20101011-06

20101011-07

Fitra Moerat, tukang grafis tinggal di Vietnam

,

20100906-01
» baca selengkapnya

,

selanjutnya »