Mar
26
Seorang kawan mengaku sulit melepaskan kebiasaan memikirkan apa saja yang harus ia laporkan kepada atasan. Satu jam sudah berlalu dan ia baru menulis satu paragraf laporan. Begitu banyak hal yang ingin ia laporkan, hingga ia kebingungan harus memulainya dari mana. Kawan ini berkata, ia kerap dirundung ketegangan setiap kali harus menulis laporan.
Ia merasa kesulitan melepaskan diri dari kebiasaan lama: menganggap semua hal penting dan ingin menuangkan semuanya ke dalam laporan. Ia takut ada yang terlewat. Akibatnya, ia sering menunda menulis laporan karena sibuk menghimpun bahan-bahan terlebih dulu. Sebanyak-banyaknya.
Mengubah kebiasaan seperti itu boleh dibilang gampang-gampang susah, tak ubahnya menghentikan kebiasaan merokok atau kebiasaan menghabiskan waktu malam hari dengan duduk di depan televisi. “Saya ingin menghentikan kebiasaan ini, tapi bagaimana caranya?” pertanyaan seperti ini kerap muncul.
» baca selengkapnya
fokus, kebiasaan buruk
Mar
15
Siapa tak kenal Stephen King? Sangat mungkin ada yang tidak mengetahui nama pengarang Amerika yang sangat popular dengan spesialisiasinya dalam kisah-kisah thriller itu. Beberapa tahun yang lampau, yang tidak mengenal namanya jauh lebih banyak, termasuk penerbit di negeri Paman Sam itu.
Ada suatu masa ketika tulisan-tulisan King ditolak oleh penerbit. Setiap kali ditolak, surat penolakan tidak ia buang, melainkan ia paku di papan yang tergantung di dinding rumah. Makin lama, surat penolakan makin banyak hingga akhirnya paku itu tidak kuat menahannya. “Aku menggantinya dengan paku beton yang lebih kuat dan terus menulis,” kata King.
Buku pertama John Grisham terbit setelah ditolak oleh lebih dari 30 penerbit. Sementara, Seth Godin, yang dikenal dengan gagasan-gagasannya yang unik, mengaku memperoleh 950 surat penolakan sebelum bisa menjual buku pertamanya.
Ketiga nama tadi kini mashur hingga di sini. Apa yang ingin disampaikan oleh Richard St. John dengan kisah mereka tak lain adalah penolakan jangan sampai mematikan semangat untuk meraih keberhasilan. “Anggaplah penolakan itu sebagai lencana kehormatan,” tulis John dalam bukunya yang inspiratif, To Be Great (Gramedia, 2011).
» baca selengkapnya
sukses, To Be Great
Mar
5
Sebagian orang mungkin memasuki awal pekan dengan gundah. “Cepet banget ya, baru saja meluruskan punggung, tahu-tahu sudah Senin,” ujar Toni. “I don’t like Monday!” Begitu kaki melangkah keluar rumah, terbayang sudah sekian pekerjaan yang harus beres minggu ini. Ketegangan mulai merayap dan semakin intens setibanya di kantor. Baru saja mau duduk, manajer sudah memanggil Toni ke ruangannya. Wooww!
Situasi bertekanan-tinggi seperti itu mendorong meningkatnya kegelisahan. Bagian otak yang memproses ‘ancaman’ mulai bekerja, seolah mengambil ancang-ancang terhadap ‘serangan dari luar’. Masalahnya, ketika teraktivasi, ia mencuri sumberdaya dari prefrontal cortex (daerah pada otak yang terletak di belakang dahi), yang berguna untuk pemecahan masalah secara efektif. Situasi selanjutnya semakin tidak mudah dikendalikan.
Bagaimana cara yang bagus untuk memulai awal pekan?
» baca selengkapnya
berpikir positif
Feb
20
Kecelakaan bisa terjadi di mana saja. Di jalan, mobil, bus, truk, ataupun sepeda motor menabrak. Pejalan kaki pun ditabrak. Di pabrik, operator kehilangan jari lantaran terjepit roda mesin. Di kantor, manajer yang kelelahan mengambil keputusan yang keliru. Semua ini bisa terjadi, antara lain, karena satu hal: kurang tidur.
Setelah tidak lagi menjabat Presiden AS, Bill Clinton pernah bercerita tentang dampak kekurangan tidur. “Dalam karier politik saya yang panjang,” kata Clinton, “sebagian besar kesalahan yang saya perbuat, saya melakukannya ketika terlampau letih.” Dan menurutnya, terlalu banyak anggota Kongres dari kedua partai (Republik dan Demokrat) yang kurang tidur. “Kurang tidur mengurangi kemampuan Anda untuk rileks dan menghargai pendapat orang lain,” ujar Clinton.
Kita kerap menyangka bahwa kita sanggup terjaga dalam jangka waktu lebih dari 16 jam dalam sehari. Kita begadang saat ngebut menyelesaikan pekerjaan. Kita merasa sanggup mengemudikan mobil kendati usai bekerja dari jam 6 sampai 9 malam. Pernahkah kita mencermati bahwa kemudian kita merasakan badan kurang nyaman, apa lagi jika kita terus-menerus kurang tidur?
» baca selengkapnya
tidur
Feb
4
Kapankah terakhir kali Anda memuji kinerja anggota tim Anda, bawahan Anda, atau rekan kerja Anda? Bila Anda menjawab kemarin, boleh jadi Anda tipe orang yang lekas merespons positif kinerja bagus yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Mungkin, Anda termasuk orang yang tidak pelit untuk memberi pujian secara tulus.
Mary Kay Ash, pendiri perusahaan AS Mary Kay Cosmetics, pernah mengatakan, “Ada dua hal yang orang inginkan lebih dari uang, yaitu pengakuan dan pujian.” Tapi alangkah tidak mudahnya kita mengakui seseorang telah bekerja dengan bagus dan memberi pujian yang layak diterimanya. Sebagai manajer kita barangkali berkata dalam hati, “Sudah semestinya kinerjanya seperti itu.”
Memberi respons positif atas kinerja anak buah seringkali lebih sukar ketimbang melemparkan kritik. Begitu anak buah melakukan kesalahan, dengan ringan kita menunjukkan kekurangan ini dan itu. Sayangnya, begitu anak buah menunjukkan kinerja yang bagus, kita pelit mengeluarkan pujian.
Pendekatan seperti ini akan mengecilkan hati, bahkan yang dikritik jadi cenderung reaktif dan defensif. Sering terjadi, motivasi dan energi untuk berkontribusi bagi perusahaan jadi berkurang. Sebuah studi menyebutkan bahwa respons berupa umpan balik positif memiliki dampak 5,6 kali lebih bagus terhadap kinerja tim dibandingkan umpan balik negatif.
» baca selengkapnya
apresiasi
« sebelumnya — selanjutnya »