Feb
4
Kapankah terakhir kali Anda memuji kinerja anggota tim Anda, bawahan Anda, atau rekan kerja Anda? Bila Anda menjawab kemarin, boleh jadi Anda tipe orang yang lekas merespons positif kinerja bagus yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Mungkin, Anda termasuk orang yang tidak pelit untuk memberi pujian secara tulus.
Mary Kay Ash, pendiri perusahaan AS Mary Kay Cosmetics, pernah mengatakan, “Ada dua hal yang orang inginkan lebih dari uang, yaitu pengakuan dan pujian.” Tapi alangkah tidak mudahnya kita mengakui seseorang telah bekerja dengan bagus dan memberi pujian yang layak diterimanya. Sebagai manajer kita barangkali berkata dalam hati, “Sudah semestinya kinerjanya seperti itu.”
Memberi respons positif atas kinerja anak buah seringkali lebih sukar ketimbang melemparkan kritik. Begitu anak buah melakukan kesalahan, dengan ringan kita menunjukkan kekurangan ini dan itu. Sayangnya, begitu anak buah menunjukkan kinerja yang bagus, kita pelit mengeluarkan pujian.
Pendekatan seperti ini akan mengecilkan hati, bahkan yang dikritik jadi cenderung reaktif dan defensif. Sering terjadi, motivasi dan energi untuk berkontribusi bagi perusahaan jadi berkurang. Sebuah studi menyebutkan bahwa respons berupa umpan balik positif memiliki dampak 5,6 kali lebih bagus terhadap kinerja tim dibandingkan umpan balik negatif.
» baca selengkapnya
apresiasi
Jan
29
Kerja kolaboratif kerap didengungkan, tapi darimana kita mesti memulainya? Bagaimana orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang (pendidikan, pengalaman, profesi, cara berpikir yang berbeda-beda) mampu menyatu dalam kerja bersama yang menyenangkan?
Saat memulai kerja bersama, yang paling sulit ialah mengingatkan diri sendiri bahwa saya bukanlah satu-satunya sumber gagasan bagi tim. Kita mungkin kerap menyatakan, setidaknya di dalam hati, bahwa gagasan saya lebih baik dibanding yang lain. Ego individual biasanya sangat menonjol, terutama pada anggota tim yang sebelumnya memiliki kinerja terbaik. Ego individual lazimnya membuat pemilikinya memandang ‘sebelah mata’ anggota tim lainnya.
Dalam situasi seperti ini, tugas pertama pemimpin tim ialah memerangi mitos adanya inventor tunggal. Ia mesti mampu mendefinisikan kembali peran superstar. Superstar bukanlah bintang yang bersinar terang sendirian, melainkan seseorang yang cakap membantu orang lain agar berhasil. Dalam sebuah kesebelasan sepakbola, peran pemain yang memberi umpan (assist) sangat menentukan keberhasilan pemain yang mencetak gol. Umpan yang matang lahir dari pemain yang matang pula.
» baca selengkapnya
kolaboratif, saling percaya, tim
Dec
10
Sepertinya, bumi berputar lebih cepat. Pagi baru beranjak, siang sudah tiba. Tak lama kemudian, matahari sudah bertengger di ufuk barat. Lalu gelap. Malampun berlari begitu cepat. Lantaran lelah, kita tertidur lelap, tahu-tahu semburat sinar matahari sudah muncul lagi di timur. Seminggu yang berisi tujuh hari itu seolah berjalan lebih pendek dari 7 kali 24 jam.
Jika satu minggu tetap tujuh hari, mengapa banyak pekerjaan tak terselesaikan? Kemana waktu saya berlalu? Seorang manajer pernah memberikan saran sederhana kepada saya: “Lacaklah waktumu dan catat untuk aktivitas apa saja waktu itu terserap jam demi jam, dari jam 6 pagi sampai jam 6 pagi berikutnya.”
» baca selengkapnya
waktu
Nov
18
Sebagai pemimpin tim mungkin kita sering terjebak kemacetan dalam memecahkan suatu persoalan. Ketika macet, anggota tim memandang kita: menunggu apa yang akan kita ucapkan, jawaban apa yang akan kita berikan. Pemimpin tim dipaksa untuk selalu bisa menjawab (Padahal, pemimpin tim juga manusia!)
Banyak orang memang lebih sering fokus pada jawaban. Orang berusaha mencari solusi dengan cara langsung membuat penegasan. Adakah cara lain untuk mengatasi kemacetan atau kebuntuan semacam itu? Ada, yakni dengan bertanya. Mengajukan pertanyaan yang mengusik.
Benar kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan.
» baca selengkapnya
bertanya, pemimpin, tim
Oct
24
Dalam “reshuffle kabinet” minggu lalu memang ada wajah-wajah baru yang masuk. Sebagian anggota kabinet lainnya merupakan wajah lama yang berpindah tempat. Mereka dirotasi. Contohnya, pak Jero Wacik dipindahkan dari pariwisata ke energi dan sumber daya mineral dan bu Mari Pangestu yang semula mengurusi hal-ihwal perdagangan kini ditugasi menangani pariwisata (ditambah embel-embel ekonomi kreatif).
Meski merupakan hal yang lumrah dari sudut manajemen, rotasi memang kerap mengundang komentar. Jangankan di tingkat nasional seperti kabinet, di tingkat bagian dalam organisasi perusahaan, rotasi juga memancing orang untuk berpendapat. Anehnya, seringkali pendapat ini bernada minor. Mulai dari yang meragukan, ‘Ah, bisa apa dia duduk di situ!’, sampai yang bilang, ‘Rasain loe!’
Terlepas dari pertimbangan politik yang barangkali negatif, rotasi dapat dilihat dari sisi positifnya. Ingat lho, pertimbangan politik bukan cuma ada dalam menentukan orang-orang yang duduk di kabinet; di kantor pun niscaya Anda bisa temukan apa yang disebut ‘politik kantor’. Umpamanya, “Si X jangan ditaruh di jabatan itu, tapi di sini saja biar dia tidak berkutik!”
» baca selengkapnya
rotasi