Enak di Blog dan Perlu

#indonesiana, Tempo

yoyo
Artis dan narkoba sepertinya telah menjadi duet yang tak terpisahkan selama beberapa dekade. Soal ini makin hangat setelah Badan Narkotika Nasional menangkap sejumlah artis seperti Surendro Prasetyo alias Yoyo (mantan suami Rossa yang menjadi drummer grup band Padi), Iyut Bing Slamet, dan terakhir adalah Andika dan Izzi (voklais dan personel Kangen Band).

Jauh sebelum hiruk pikuk penangkapan para artis itu kita juga pernah dihebohkan dengan penangkapan dua klai Roy Marten. Bahkan, untuk yang terakhir Roy mendapat kiriman narkoba dari penjara Cipinang. Sebelum itu kita juga mengenal sederet artis yang terseret kasus candu ini, seperti Ahmad Albar, Gogon Srimulat dan banyak lagi.
» baca selengkapnya

, , , , , ,

gedung-baru1

Di peringatan ulang tahun ke-40 tahun Tempo ada yang istimewa. Acara itu bukan cuma diwarnai nasi kuning dan 40 cupcake lengkap dengan lilinnya. Tapi, Tempo punya “kado” istimewa yakni, mesin cetak baru.  April nanti, percetakan baru Tempo senilai Rp 30 miliar akan tiba di kantor kami kawasan Palmerah Jakarta. Mesin itu jauh lebih kecil, tapi dengan kemampuan lebih hebat, melebihi percetakan tua yang sudah puluhan tahun menemani kami.

Percetakan baru, mimpi-mimpi baru. Itulah harapan kami.  Meski perkembangan teknologi digital sudah sangat maju, kami yakin bisnis yang berkaitan dengan percetakan belum akan surut, bahkan masih berkembang sesuai dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan ekonomi Indonesia. » baca selengkapnya

, ,

supermanDiskusi #indonesiana kembali,

Rencana pemerintah untuk menerapkan bea impor untuk film-film asing, baik film Hollywood maupun non Hollywood, membuat importir film meradang. Mereka mengancam tak akan mengedarkan film Hollywood. Apakah Indonesia bakal “gulita” dari film-film Hollywood?

Direktur Teknis Kepabeanan, Direktorat Jenderal Bea Cukai Heri Kristiono mengatakan, penetapan nilai pabean film impor sudah wajar. Alasannya, itu proteksin film nasional. Kedua, “Pajak yang dikenakan terhadap film nasional selama ini lebih tinggi dibandingkan film impor,” katanya.

Apa benar proteksi itu akan membuat film nasional bakal maju? Apa penolakan ini cuma akal-akalan para distributor film? karena ternyata Motion Picture Association membantah bahwa mereka memboikot pengedearan film Hollywood.

Ikuti diskusi santai yang digelar #indonesiana (by @tempointeraktif) hasil kerja bareng Delta FM, Obsat, dan #indonesiana .

Hari                 : Rabu, 23 Februari 2011
Pukul             : 19:00 - 21:00
Tempat : Radio Delta FM, Jalan Adityawarman 71, Jaksel
Pembicara : Mira Lesmana, produser
Lala Timothy, produser
Rudy Sanyoto, Wakil Ketua Badan Perfilman Nasional

Pastinya bakalan seru nih.. kita bisa berdiskusi dan mendengar langsung kisah dibalik industri film nasional. Ditunggu kehadirannya ya… Ikuti pula diskusinya di Twitter di @tempointeraktif dengan tagar #indonesiana #forumDOT

,
foto

Gerakan massa di Mesir sekarang ini tidak lepas dari peran jejaring  sosial dalam menggalang kekuatan massa atau membentuk komunitas yang  mempunyai ide dan keinginan untuk perubahan ataupun melengserkan  Hosni Mubarak setelah 30 tahun lebih berkuasa.

Informasi  mengenai kepincangan sosial dan ide perubahan ini  mengalir demikian deras dari ponsel satu ke yang lain, dari blog satu ke  yang lain, dari akun Facebook satu ke yang lain, dan dari akun Twitter satu ke yang lain sehingga membentuk kesadaran kolektif mengenai  perlunya perubahan.

» baca selengkapnya

, , , ,

oleh : Mardiyah Chamim, Tempo Institute

HORRREEE….!!!

Kami bersorak gembira begitu rangkaian acara Konferensi Internasional “Indonesia and the World in 1965” usai. Malam terang. Ratusan tamu tersenyum cerah. Jabat tangan erat mewarnai semua sudut Goethe Haus, Jumat, 21 Januari 2011, kemarin. Lampu kamera berkilat di sana-sini.

Orang-orang berpose dengan senyum lebar, seolah sedang disorot fotografer Indonesian Tattler. Mas Goen (Goenawan Mohamad), Nursyahbani Katjasungkana, Romo Magniz Suseno tampak sibuk melayani permintaan foto bersama.

Bagi kami panitia, Goethe Institut - Friedrich Ebert Stiftung - Tempo Institute - Historia-Pusdep Sanata Dharma, dilaluinya tahapan ini patut kami syukuri. Sejak awal, perhelatan ini menjumpai banyak halang-rintang. Dag-dig-dug selalu.

Kerisauan tim Tempo Institute bermula sejak tiga bulan lalu, yakni di awal fase persiapan. Sungguh saya khawatir dengan risiko simplifikasi lantaran sejarah ditampilkan dalam format visual. Bersama Ade Darmawan dan Mirwan Andan (Ruang Rupa) serta MG Pringgotono, Sigit, Eko Bimantara, Hasrul,  JJ Adibrata (Serrum), dan Michael Matthew, kami menggelar rapat intensif untuk mematangkan konsep.

Senyum lebar di malam penutupan konferensi, Jumat, 21 Januari 2011. Monica T, Nursyahbani K., Prof. Richard Tanter, Mardiyah Chamim, Andi Yuwono

Senyum lebar di malam penutupan konferensi, Jumat, 21 Januari 2011. Monica T, Nursyahbani K., Prof. Richard Tanter, Mardiyah Chamim, Andi Yuwono

» baca selengkapnya

« sebelumnyaselanjutnya »