Mar
1
Burhan Sholihin
Apa artinya lima tahun? Kalau pertanyaan ini disodorkan kepada Adolf Hitler, diktator Nazi itu mungkin akan menjawab dengan bersungut-sungut: “Itu hanya cukup untuk membikin satu buku!”
Itulah yang dia lakukan saat berteman dengan sepi di penjara Lansberg di dekat Munich, Jerman, pada 1923. Semangatnya tinggi. Tapi diktator yang batuknya saja bisa membuat anak buahnya membunuh 1.200 sandera, ternyata butuh empat setengah tahun untuk merampungkan bukunya. Judulnya panjang dan beringas: Empat Setengah Tahun Perjuangan Melawan Kebohongan, Kebodohan, dan Kepengecutan. Lima tahun yang beku.
Tapi coba berikan waktu lima tahun kepada Gordon E. Moore. Doktor eksentrik yang suka mengecat mobil dan bermain pesawat-pesawatan ini bisa melipatgandakan kecepatan komputer dua setengah kali lipat. Salah satu pendiri Intel Corp ini menemukan sesuatu yang amat penting di dunia komputer, hukum Moore. Hukum itu berbunyi, kecepatan komputer, kapasitas memori, jumlah transistor yang bisa dijejalkan dalam satu keping prosesor selalu meningkat dua kali lipat setiap dua tahun!
» baca selengkapnya
Adolf Hitler, EVDO, Gordon E. Moore
Jul
30
Burhan Sholihin
Berapakah harga ponsel yang pantas? Kalau itu ditanyakan pada para penggila gadget negeri ini, jawabannya bisa sangat kacau. Lihat saja saat peluncuran Nokia Communicator N 9500 dan penerusnya E90. Lebih dari seribu orang mengantre untuk membeli ponsel itu dengan harga sampai Rp 15 juta. Bahkan, dalam sebuah lelang amal E90 bisa dilego hingga Rp 40 juta.
Edan? Entahlah. Kehebohan itu berlanjut hingga kini. Ketika bos Apple Inc. Steve Jobs 11 Juli lalu menatah sejarah di Moscone Center, San Francisco, dengan meluncurkan ponsel iPhone 3G, di Jakarta kehebohan juga terjadi. Saat para penggemar iPhone di berbagai negara menyesaki toko-toko dan membuat ponsel itu terjual satu juta dalam tiga hari, di Indonesia para pemburu perkakas cantik sudah tak tahan untuk berkomentar, “Hff… keren abis.”
Lalu, ratusan orang ramai-ramai antre masuk daftar tunggu pembelian ponsel yang dibangun gaya desain yang manis dan intuitif itu. Mereka bahkan berani membayar Rp 8 juta atau empat kali harga iPhone di neger asalnya sono, yang cuma US$ 199. Di mana logika para pemburu gadget itu? Ponsel yang mungkin ongkos produksinya cuma Rp 1-2 juta dibeli dengan harga belasan juta rupiah.
Ya, begitulah fenomena orang jatuh cinta. Berapa pun harganya diburu. Kata Albert Einstein, “Bahkan gaya gravitasi pun tak bisa melawan orang jatuh cinta.”
» baca selengkapnya
Mar
14
Burhan Sholihin
Kata-katanya menyembur seperti hujan peluru dari senapan mesin. Tumpah di milis penggemar ponsel.
“Operator-operator telepon seluler itu jahat. Mengapa mereka cuma memanjakan para pelanggan baru, para pelanggan kartu ‘prabayar’, dengan memberikan tarif murah,” tulis seorang anggota milis yang rupanya adalah pelanggan seluler “pascabayar”.
“Padahal kamilah, para pelanggan ‘pascabayar’, yang telah menghidupi operator selama ini. Kini kami malah dibiarkan.” Aroma kemarahan terasa meluap-luap di surat itu, meski kata-katanya tak mengandung “isi kebun binatang”.
Saya mafhum dengan kemarahan itu. Saya juga pelanggan “pascabayar” yang juga kesal karena telah dilupakan begitu saja oleh operator. Tapi tak berbuat apa-apa, tidak bisa ganti kartu–karena nomor itu begitu berarti–tidak juga bisa menumpahkan kemarahan di milis.
Anatomi kemarahan yang tertulis di milis itu bisa ditelusuri dengan mudah. Begini ceritanya: pelanggan “pascabayar” adalah pelanggan yang supersetia. Tarif naik pun mereka bertahan. Mereka bak pacar setia: menolong, menyemangati, bahkan menghidupi saat operator itu ada di titik terendah alias rugi.
Ah, tapi malangnya sang “pacar” setia itu. Operator-operator kepincut pelanggan baru. Mereka pun berlomba menyiapkan suguhan-suguhan istimewa untuk merayu para pelanggan baru. Suguhan itu, tentu bukan teh earl gray, biskuit Carrs, atau sebatang cokelat, tarif murah yang pelanggan pun bingung menghitungnya: Rp 0,000000…1 per detik.
» baca selengkapnya
Mar
1
Burhan Sholihin
Inilah saat yang paling konyol dalam hidup saya. Itu terjadi tiga tahun lalu. Kala itu, demi memangkas tarif telepon dan Internet, saya sampai punya tujuh nomor ponsel. Semuanya “hidup” dan saya pakai.
Untuk “nomor resmi”, ponsel saya menggunakan Kartu Halo Telkomsel. Nomor itu tak mungkin diganti karena telanjur populer di kalangan kolega saya. Saya akan serasa terdampar di sebuah pulau sepi seperti Tom Hanks di film Cast Away bila nomor itu hilang. Kehilangan kawan, juga kehilangan rezeki.
Saya juga punya sebuah nomor Simpati. Nomor ini bisa digunakan untuk memangkas biaya telepon bila kita menelepon ke pelanggan Telkomsel.
Untuk berselancar Internet di mana saja dengan Palm Treo atau laptop, saya menggunakan kartu Fren yang saya pasangkan dengan layanan CBN. Dan agar tagihan telepon saya tak jebol, untuk menelepon ke kantor dan keluarga, saya menggunakan Telkom Flexi.
» baca selengkapnya
Sep
14
Wicaksono
Bagaimana rasanya seandainya pesan-pesan pendek (SMS) dari dan ke nomor handphone Anda disadap lalu disebarluaskan ke mana-mana? Tanyakanlah pada kolega saya, Metta Dharmasaputra.
Dia bukan pelaku kejahatan, bukan pula buronan polisi. Metta adalah wartawan Tempo yang sedang menelusuri dugaan penggelapan pajak di anak perusahaan Raja Garuda Mas.
Anehnya, beberapa pekan setelah investigasi itu, beredarlah rekaman komunikasi lewat pesan singkat (SMS) antara Metta dan sumbernya.
Rekaman yang berasal dari Telkom Flexi itu lalu menyebar di kalangan wartawan. Bocornya rekaman SMS itulah yang mendasari Portal karya Imam Yunni ini. Patut dipertanyakan, seberapa serius Telkom menghormati privasi pelanggan — sesuatu yang dijamin undang-undang telekomunikasi? » baca selengkapnya