Enak di Blog dan Perlu

Digital, Suplemen

Burhan Sholihin

Semua pandangan mata tertuju kepada Steve Jobs. Hening. Mereka semua seperti tersihir, menanti kata yang akan meluncur dari sang maestro komputer. Di kepala para peserta konferensi itu melayang-layang pertanyaan simpel: akankah Apple Inc turun ke pertarungan membikin laptop ringan atau netbook?

Semua kaget saat Jobs buka suara. “Kami tak tahu bagaimana membuat komputer di bawah harga US$ 500 (sekitar Rp 5,5 juta) yang bukan kumpulan sampah,” kata bos yang saat itu cuma bercelana jin dan kaus hitam.

Betapa angkuhnya Jobs. Siapa pun tahu, dia memang seniman hebat, sang maestro. Desainnya juga sangat elok. Masterpiece-nya berderet dan juga laris, seperti komputer Mac, pemutar musik iPod, ponsel iPhone, dan terakhir laptop supertipis MacBooc Air. Namun, memalingkan muka dari fenomena netbook benar-benar seperti berpaling dari sejarah.
» baca selengkapnya

Melalui papan ketik, seorang perempuan menuliskan rintihan kecil. Sebuah pesan yang sederhana, juga singkat. “Siapa yang bisa membantu menyediakan kursi roda untuk saya, saya hendak naik pesawat JetBlue.” Pesan itu ditulis di Twitter, situs microblogging yang sedang naik daun.

Pertanyaannya, siapa yang peduli pada perempuan itu? Hari sudah berada di ujung November, dan orang-orang sibuk menghangatkan diri, menghindari terpaan musim dingin. Lagi pula perempuan itu bukan artis, juga bukan pejabat. Siapa peduli? Sedangkan pada saat yang bersamaan, ada jutaan pesan Twitter yang berseliweran dari empat juta anggota. Sebagian di antaranya mampir ke Twitter milik JetBlue.

Twitter memang dahsyat. Begitu juga Facebook, Myspace, dan situs jejaring sosial lainnya. Siapa kira pesan tersebut ternyata menghidupkan rasa iba. Seseorang di JetBlue, Morgan Johnston, sedang memainkan Twitternya di sela-sela kesibukannya sebagai manajer komunikasi korporat perusahaan. Melihat pesan itu, dia segera menelepon staf di bandara, menghubungi perempuan itu dan menyediakan kursi roda.

Siapa nyana Twitter bisa seheroik itu? Padahal situs bercicit-cicit (begitulah arti Twitter) itu » baca selengkapnya

Bisakah blogger menjadi jurnalis warga? Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga.

Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas.

Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. “Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas.” » baca selengkapnya

Wicaksono

HUJAN tengah menyiram Jakarta ketika Mat Bloger menatap layar komputer dengan paras kuyu. Dahinya mengerut. Sepertinya dia tengah menyulam angan. Mungkin juga dia tengah memikirkan beban hidup yang kian menekuk pinggang. Saya colek punggungnya. Dia tersentak. Kaget.

“Aduh, sampean bikin saya terkejut, Mas,” dia berteriak.

Saya nyengir. “Sedang apa, Mat? Melamun, ya?”

“Oh ndak, Mas. Ini lo, saya sedang membaca hasil survei iseng-iseng kawan saya tentang perilaku orang di Internet. Hasilnya menarik, lo,” jawab Mat Bloger. » baca selengkapnya

Wicaksono

“Kenapa blogger suka memakai nama alias?” tanya seorang kawan tiba-tiba melalui fasilitas BlackBerry Messenger.

Terus terang saya agak kaget bercampur heran mendapat pertanyaan ini karena yang bertanya itu senior saya di pabrik. Selain itu, dia bukan blogger. Meski dia memiliki account di Facebook, saya tahu dia kurang paham tentang teknologi informasi dan media sosial seperti blog.

“Apakah blogger tak mau menggunakan nama asli agar bebas menghina?” tanya teman saya lagi setelah beberapa detik menunggu dan saya tak segera menjawab. » baca selengkapnya

« sebelumnyaselanjutnya »