Oct
4







Fitra Moerat Sitompul, tukang grafis tinggal di Vienam
Nur Hidayat
Fantastis. Inilah kata yang tepat untuk perolehan jumlah penonton film Ayat-ayat Cinta. Bayangkan, hanya butuh waktu dua minggu, untuk menembus angka dua juta penonton. Dan, memasuki minggu keempat ini, jumlah pengunjung tetap membludak. Perjuangan saya untuk nonton film ini lewat jalur biasa, datang ke gedung bioskop dua jam sebelum pertunjukan, dua kali sudah, sia-sia belaka. Kata beberapa teman saya, kalau mau dapat karcis, harus pesan dari jam 10 pagi, atau bahkan beberapa hari sebelum jam pertunjukan. Film tentang hantu mana yang bisa mengalahkan fenomena ini? Atau, sebut satu saja film komedi lokal yang belakangan ini dipenuhi jalan cerita dan idiom-idiom yang biasanya kita temukan di situs-situs porno, yang bisa menandingi jumlah penonton film ini. Rasanya, tidak ada.
Nur Hidayat
Ketika mendatangi Taman Ismail Marzuki, saya seperti kembali ke masa kanak-kanak yang indah. Ini terjadi ketika saya meliput pameran karya sembilan komikus lokal untuk rubrik “Seni dan Budaya” di Koran Tempo yang akan terbit besok.
Maklum, komik adalah media yang mendorong saya untuk berfantasi secara liar ketika masih kanak-kanak. Adegan-adegan dalam komik itu, kemudian saya praktekkan ketika bermain-main dengan teman di kampung saya, Dukuh Sriyanto, Kelurahan Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Sehabis membaca Cerita dari Lima Benua tentang penemuan benua Amerika, misalnya, saya kemudian berlagak menjadi Christopher Columbus. Ketika membaca Tintin, saya pun pura-pura jadi Kapten Haddock. Tapi, tentu saja saya mengarang secara ngawur tentang karakter tokoh itu. Nah, inilah fantasi liar yang kini saya rasakan banyak manfaatnya ketika harus menulis atau mengedit tulisan, baik untuk berita, artikel, ataupun skenario.
Hmmm… dunia memang sudah berubah. Kini, anak-anak saya punya jauh lebih banyak tokoh yang mereka kenal terutama lewat televisi. Tokoh itu bisa dikenal tanpa susah-susah membaca dan tanpa susah-susah membayangkan bagaimana mimik mukanya, gerakan tubuhnya,…
Hari ini Java Jazz kembali digelar (Koran Tempo, 2 Februari 2007). Asyiknya… terutama untuk mereka yang sudah mengantungi tiket. Sepertinya sudah dalam dua pekan ini omongan orang se-Jakarta adalah soal festival jazz tahunan ini. Bahkan tadi pagi, dalam rapat perencanaan rutin di Koran Tempo, pemimpin redaksi kami mengungkapkan kebingungannya karena belum mendapatkan tiket untuk putri tercintanya yang baru kelas 5 SD yang merengek minta dibawa ke sana.
» baca selengkapnya