Nov
3
Hasil survei terbaru yang menyebutkan bahwa citra politisi muda buruk di mata masyarakat membuat sebagian pihak “tidak berkenan”. Pemrotesnya siapa lagi kalau bukan politisi muda. Ada yang mengatakan banyak lembaga survei (bekerja atas dasar) “orderan” sehingga kehilangan obyektivitas dan validitasnya. Ada yang berkomentar, alih-alih menjadi sarana evaluasi yang menyeluruh, sejumlah survei telah menjadi alat politik.
Seandainya hasil survei menyebutkan bahwa citra politisi muda bagus di mata masyarakat, apakah mereka akan protes? Rasa-rasanya kok tidak.
» baca selengkapnya
Bisnis, Politik, Survei
Nov
10
Sejarah telah bertutur: jangan main-main dengan massa yang berkerumun. Penguasa sekuat apa pun bisa ambrol bila melawan massa seperti itu. Gerakan people power di Filipina telah menghancurkan rezim Ferdinand Marcos. Gelombang unjuk rasa mahasiswa pada 1998 juga telah melengserkan Soeharto.
Itu dulu, Bung. Untuk menumbangkan penguasa, orang perlu berkumpul di satu tempat. Mereka berunjuk rasa bersama-sama meniru demo ala Lech Walesa atau Tragedi Tiananmen. Lalu menggabungkan energi kemarahan sehingga menghasilkan tuntutan yang meledak-ledak.
Sekarang orang tak perlu berkerumun di satu tempat untuk menggerakkan people power. Ini zaman web 2.0 (meminjam definisi Tim Tim O’Reilly) , Bung, era orang bisa menyuarakan pendapatnya dengan lantang . Facebook dan Twitter jauh merasuk ke relung-relung kantor, kampus, juga tempat-tempat nongkrong. Cukup teriakkan kepedihan bersama di Facebook, “jemaah fesbukiyah” akan mendukungnya spontan. Lihat saja gerakan mendukung dua pimpinan nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi, Bibit Samad Rianto dan Chandra M.
Hamzah. Hanya dalam hitungan hari, sekarang sudah terkumpul “kerumunan” yang terdiri atas lebih darisejuta pendukung.
Mereka sangat lantang dan juga galak. Gerakan mengenakan pita hitam atau baju hitam sebagai bentuk keprihatinan terhadap matinya keadilan hukum dan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan polisi serta kejaksaan sebagai contohnya. Dalam sekejap, gerakan mengenakan pita hitam menyebar ke mana-mana.
» baca selengkapnya
Bibit Rianto, Chandra Hamzah, Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Rianto, KPK, Web 2.0
Jun
30
Boediono, kini tak bisa sebebas beberapa waktu lalu ketika menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia. Ia pun ‘dipaksa’ untuk menjadi politisi dalam waktu singkat. Sekarang mantan Menko Perekonomian itu juga harus pandai-pandai berkomunikasi dengan masa dan berada ditengah khayalak ramai, sesuatu yang jarang dilakukannya.
Profesor ekonomi dari Universitas Gajah Mada itu memang di kenal santun, sederhana dan kalem. Selama menjabat berbagai posisi penting di pemerintahan, Ia dikenal irit bicara. Ia pun tak pernah mencicipi menjadi politisi.
Kini, setelah menerima pinangan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi calon wakilnya untuk bertarung dalam pemilihan presiden mendatang, mau tak mau Boediono harus ‘bersolek’. Untuk ‘mendandani Boediono’, di sekelilingnya selalu ada yang siap sedia.
Mereka ada yang berasal dari tim sukses, petinggi partai, tokoh masyarakat dan orang-orang dekat Boediono. » baca selengkapnya
bali, Boediono, ende, goenawan muhammad, Politik, solo
Jun
24
Calon Presiden Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memang piawai untuk menyenangkan massa. Ia selalu menyesuaikan diri dengan karakter dan kebiasaan masyarakat setempat jika berpidato. Itulah yang Ia lakukan dihadapan ribuan masyarakat Minang yang memadati GOR Agus Salim, Padang, Sumatera Barat, saat berkampanye pemilihan presiden pekan ketiga, Senin (20/06).
Pensiunan jenderal bintang empat itu mencoba menarik simpati masyarakat Minang dengan menyatakan kalau dirinya dan keluarga sangat menyenangi masakan padang. “Ini rahasia, saya dan keluarga sangat menyenangi masakan padang,” katanya disambut riuh tepuk tangan dan teriakan dukungan dari masa yang memadati tempat tersebut.
Ia menceritakan di Cipanas ada rumah makan padang Simpang Raya yang menjadi langganannya sejak dia memulai berkarir di militer hingga menjabat presiden. Rumah makan itu, kata dia, milik sahabatnya.
Ada kebiasaan sahabatnya itu yang diingatnya hingga kini. “Setelah makan saya selalu ditanya, bagaimana makanan saya?,” katanya. Kemudian, sahabatnya itu selalu menyatakan. “Kalau makanan saya tidak enak tolong beri tahu saya, kalau enak beri tahu yang lain”
Nah, nasehat pemilik rumah makan padang itu pun kemudian digunakannya dalam menarik simpati agar mendukungnya menjadi presiden untuk kali kedia. “Jadi, kalau saudara sudah mantap dengan pilihanya dengan SBY-Boediono karena sudah memberi bukti dan bukan hanya angin surga, maka beritahu yang lain,” katanya bersemangat.
Ia pun meminta agar 8 Juli nanti pilihan masyarakat Minang jatuh kepada dirinya dan Boediono yang memiliki nomor urut dua.
Diawal pidato, Yudhoyono menyebutkan kunjunganya kali ini adalah kunjungan kesebelas kali ke Ranah Minang. Ia menilai masyarakat minang ramah, religius dan memiliki adat serta budaya yang tinggi.
Ia pun mempersembahkan sebuah pantun. “Dari Padang ke Bukittinggi, menjulang megah Bukit Singgalang, riang bahagia rasa hati, bertemu kembali masyarakat Minang,” katanya.
Padang, Pilpres, Yudhoyono
May
15
Adu balap di sirkuit pemilihan presiden segera dimulai. Dua kandidat sudah resmi maju, yakni pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono dan Jusuf Kalla-Wiranto. Adapun pasangan Megawati-Prabowo masih maju mundur. Konon, Prabowo masih ngotot ingin duduk sebagai pengendali nomor satu di pemerintahan, walau bukan sebagai presiden.
Terlepas dari soal itu, bila ketiga pasangan itu maju, siapa yang bakal menjadi pemenang. Mungkinkah Yudhoyono-Boediono menang dalam dalam satu putaran?
Beberapa lembaga survei telah melakukan penelitian soal kepopuleran masing-masing kandidat. Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), misalnya, memberikan hasil mengejutkan. Pasangan Yudhoyono-Boediono bakal menang 70 persen. Atau menang dalam SATU PUTARAN.
Terlepas bahwa LSI memang dekat dengan Yudhoyono.Hasil ini diyakini banyak orang cukup valid. Sebenarnya, menurut bisik-bisik yang kami dengar LSI diminta melakukan survei terhadap peluang Boediono bila dipasangkan dengan Yudhoyono sejak sepekan setelah pemilu legislatif rampung.
LSI lalu konon menggelar tiga survei untuk kalangan grass root, kalangan kelang menengah dan kalangan opinion leader. Hasilnya sama: 70 persen memilih pasangan Yudhoyono-Boediono.
Tapi, hasil itu berbeda dengan hasil survei Lembaga Riset Indonesia. Mereka menggelar survei pada 3-7 Mei 2009. Hasilnya, Yudhoyono-Boediono meraih 32 persen suara, Kalla-Wiranto meraih 27,3 persen suara, Megawati-Prabowo mendapat 20 persen suara, dan 20 persen responden lainnya belum memilih.
Melihat dua survei ini. Anda percaya pada hasil survei yang mana?
Kalla Wiranto, Lembaga Riset Indonesia, Lembaga Survei Indonesia, Mega-Prabowo, popularitas SBY, SBY-Boediono, Survei, Yudhoyono-Boediono