Mar
30
Budi Putra

Dunia musik Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya.
Pagi ini saya terhenyak mendengar kabar dari sebuah program infotainmen di televisi tentang meninggalnya kampiun musik Indonesia, Chrismansyah Rahadi alias Chrisye. (Saya langsung menyambar laptop untuk mengabarkan hal ini ke blogosfer).
Setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya sejak awal 2004, akhirnya pada jam 4 dinihari tadi di kediamannya di Jalan Asem II No. 80, Cipete, Jakarta Selatan, penyanyi segala musim itu telah berpulang ke rahmatullah. Siang ini jenazahnya akan dimakamkan di TPU Jerut Purut, Jakarta Selatan.
Ia meninggalkan seorang istri (G.F. Damayanti Noor) dan empat orang anak: Rizkia Nurannisa (lahir 1983), Risti Nurraisa (lahit 1986), Rainda Prashatya dan Randa Pramasya. Dua putrinya yang disebut terakhir terlahir kembar pada 1989.
Lahir di Jakarta, 16 September 1949,ia mulai aktif merintis karier musiknya di tahun 1968 saat bergabung sebagai basis dalam formasi Sabda Nada. Tahun 1968 - 1969 ia tergabung dalam Gipsy Band bersama Zulham Nasution, Keenan Nasution, Gauri Nasution, Onan dan Tami.
Bersama kelompok Gipsy inilah Chrisye yang kala itu jadi vokalis sekaligus bassis sempat tercatat sebagai band penghibur di sebuah restoran Indonesia di New York. Sayangnya Gipsy pun tak dapat bertahan lama. Tahun 1970, bersama Gipsy Band pula, Chrisye sempat menggung di TIM Jakarta yang menghadirkan bintang tamu almarhum Mus Mualim.
Sekitar tahun 1977, Chrisye baru memulai karir solonya. Nampaknya bintang keberuntungan sedang bersinar terang karena dalam waktu singkat namanya langsung meroket sebagai vokalis andal saat menembangkan lagu karya James F. Sundah yang berjudul Lilin-lilin Kecil. Di saat yang sama ia juga memenangkan ajang “Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors” (LCLR).
Hebatnya lagi, sepanjang kurun era 1980-an hingga memasuki tahun 2000, nama Chrisye tak pernah tenggelam. Hampir semua album yang dirilisnya selalu disambut baik di industri musik Indonesia.
Selamat jalan mas Chrisye….
Berikut diskografi lengkap Chrisye: » baca selengkapnya
Mar
9
Mardiyah
Selamat jalan Pak Koes,
Dua hari lalu, dalam kecelakaan Garuda, Pak Koesnadi Hardjasumantri pergi menghadap Sang Pencipta. Inna lillahi wa inailaihi raaji’un. Tunduk kepala kami mengantarkan kepergian bapak tercinta.
Bukan hanya karena lulusan UGM, saya menulis posting ini karena ingin menunjukkan seorang pemimpin yang betul-betul menjalani tugas hidup dengan sepenuh hati. Di tengah situasi negara yang centang perenang, dengan korupsi nyaris di semua lini, sosok Koesnadi Hardjasumantri layak menjadi penyemangat. Bahwa masih ada sosok yang dengan tegak menjalani hari-hari dengan ikhtiar yang terbaik. Sampai sepuh, usia 80-an tahun, Pak Koes masih mondar-mandir Jakarta - Yogya, aktif mengajar, memberi ceramah, juga menjadi dosen pembimbing yang tekun.
Bapak bertubuh besar ini sungguh menggoreskan banyak kenangan buat ratusan ribu anak didiknya di UGM. Saya termasuk di antaranya, meskipun saya tidak mengenal beliau secara pribadi. Awal 90-an, saya bergabung dengan Balairung, majalah kampus di UGM. Pada saat itu Pak Koes sudah tidak lagi menjabat rektor. Tapi, beliau masih selalu menyempatkan diri membaca Balairung dan mengomentari isinya.
Sering kali Pak Koes mengundang kami, anak-anak kencur yang sok aksi, ke rumah beliau. “Ini apa maksudnya kalian nulis begini, bukannya seharusnya begitu?” Lalu, mengalirlah pembicaraan panjang-lebar, diselingi ceramah juga gojekan. Ah, Bapak yang penuh perhatian.
Tidak jarang pula kami datang mengadu kepada Pak Koes. Biasanya karena persoalan klasik, dana kegiatan yang kelewat mepet. Bapak yang baik ini juga menjadi tempat kami mencari perlindungan, umpamanya saat ada yang kurang sreg dengan isi majalah. Termasuk ketika Balairung membuat polling ‘ecek-ecek’ tentang persepsi mahasiswa mengenai Pancasila yang langsung disambut dengan reaksi keras pihak rektorat dan kepolisian setempat. Lagi-lagi, Pak Koes menjadi tempat kami mengadu.
Begitu berpengaruh Pak Koes terhadap tumbuh-kembang mahasiswanya. Saya yakin bukan hanya Balairung, semua unit kegiatan mahasiswa diamati oleh beliau, juga dicereweti dengan omelan sayang.
Harus kita akui, jarang sekali ada pendidik yang berdedikasi seperti beliau. Sosok Pak Koes sebagai rektor UGM amat melekat, kira-kira seperti Gubernur Jawa Timur Mohammad Noer. “Yang lain kan cuma penggantinya,” begitu guyonan orang Jawa Timur tentang gubernur legendaris Mohammad Noer.
Kemarin, Yayan Sopyan, senior saya di UGM, menyampaikan terima kasih kepada Pak Koes dengan cara yang sangat tepat.
“Terimakasih, Pak Koes. Kami sudah tumbuh.”