Enak di Blog dan Perlu

Digital, Music

lady_gaga“Bisnis musik butuh lebih banyak Lady Gaga.” Sebuah koran bisnis di Amerika menulis itu.

Orang mungkin akan tercengang dengan kesimpulan itu. Lady Gaga, penyanyi dengan dandanan supernorak? Saking noraknya, orang mungkin lupa yang menarik dari Lady Gaga adalah suaranya atau keberaniannya berdandan semau gue–misalnya rambut dibentuk seperti tanduk, sepatu hak tinggi dipegang bersama mikrofon, baju dengan warna-warni yang bertabrakan, atau, aduh, dandanan yang tak memakai rok bawah, melainkan body painting.

Lady Gaga, meski meraih Grammy Awards, bukanlah potret sederet musik yang tertib: lintasan melodi yang apik, suara yang meliuk-liuk indah, atau dentum musik dengan petikan gitar yang mencengangkan. Stefani Joanne Angelina Germanotta nama aslinya. Dia dulu penyanyi pembuka untuk New Kids on The Block dan Pussycat Dolls. Dari penyanyi rock, gadis 23 tahun itu menyeberang ke musik elektronik dan lagu dansa yang berdentam-dentam.
» baca selengkapnya

, , , , , , ,

Mardiyah Chamim

Sudah pernah nonton “Idola Cilik” di RCTI? Saya juga baru nonton beberapa kali gara-gara ada libur panjang pekan lalu. Cukup mengejutkan, kontes mencari idola yang satu ini sangat menghibur. Acaranya jauh lebih menyenangkan ketimbang kontes lain semisal Indonesian Idol, AFI, dan selusin epigon lain.

Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan kontes semacam ini. Efek psikologis buat peserta, keluarga, mana pernah dipikirkan pihak tv penyelenggara. Apalagi, ini melibatkan anak-anak kecil, jiwa-jiwa yang masih rapuh.

Tapi, rupanya ada sesuatu yang lain yang disuguhkan “Idola Cilik”.

» baca selengkapnya

Mardiyah Chamim

Kali ini saya akan membahas lagu First of May yang ditulis oleh Bee Gees pada 1968. Ini salah satu lagu favorit saya. Terdengar indah, apalagi jika yang melantunkan adalah Mbak Sarah Brightman yang cantik bersuara bidadari. Waduh. So beautiful and sublime.

Di sela musik yang tidak hingar-bingar, lagu ini dengan ajaib merembes ke hati. Betapa tidak, dia bercerita tentang sesuatu yang berharga yang kita miliki (christmas tree, bisa bermakna cinta atau apa pun yang luar biasa bagi kehidupan seseorang), yang begitu kita hargai di masa muda. » baca selengkapnya

Budi Putra

chrisye.jpg

Dunia musik Indonesia kehilangan seorang putra terbaiknya.

Pagi ini saya terhenyak mendengar kabar dari sebuah program infotainmen di televisi tentang meninggalnya kampiun musik Indonesia, Chrismansyah Rahadi alias Chrisye. (Saya langsung menyambar laptop untuk mengabarkan hal ini ke blogosfer).

Setelah berjuang melawan kanker yang dideritanya sejak awal 2004, akhirnya pada jam 4 dinihari tadi di kediamannya di Jalan Asem II No. 80, Cipete, Jakarta Selatan, penyanyi segala musim itu telah berpulang ke rahmatullah. Siang ini jenazahnya akan dimakamkan di TPU Jerut Purut, Jakarta Selatan.

Ia meninggalkan seorang istri (G.F. Damayanti Noor) dan empat orang anak: Rizkia Nurannisa (lahir 1983), Risti Nurraisa (lahit 1986), Rainda Prashatya dan Randa Pramasya. Dua putrinya yang disebut terakhir terlahir kembar pada 1989.

Lahir di Jakarta, 16 September 1949,ia mulai aktif merintis karier musiknya di tahun 1968 saat bergabung sebagai basis dalam formasi Sabda Nada. Tahun 1968 - 1969 ia tergabung dalam Gipsy Band bersama Zulham Nasution, Keenan Nasution, Gauri Nasution, Onan dan Tami.

Bersama kelompok Gipsy inilah Chrisye yang kala itu jadi vokalis sekaligus bassis sempat tercatat sebagai band penghibur di sebuah restoran Indonesia di New York. Sayangnya Gipsy pun tak dapat bertahan lama. Tahun 1970, bersama Gipsy Band pula, Chrisye sempat menggung di TIM Jakarta yang menghadirkan bintang tamu almarhum Mus Mualim.

Sekitar tahun 1977, Chrisye baru memulai karir solonya. Nampaknya bintang keberuntungan sedang bersinar terang karena dalam waktu singkat namanya langsung meroket sebagai vokalis andal saat menembangkan lagu karya James F. Sundah yang berjudul Lilin-lilin Kecil. Di saat yang sama ia juga memenangkan ajang “Lomba Karya Cipta Lagu Remaja Prambors” (LCLR).

Hebatnya lagi, sepanjang kurun era 1980-an hingga memasuki tahun 2000, nama Chrisye tak pernah tenggelam. Hampir semua album yang dirilisnya selalu disambut baik di industri musik Indonesia.

Selamat jalan mas Chrisye….

Berikut diskografi lengkap Chrisye: » baca selengkapnya

Qaris

Hari ini Java Jazz kembali digelar (Koran Tempo, 2 Februari 2007). Asyiknya… terutama untuk mereka yang sudah mengantungi tiket. Sepertinya sudah dalam dua pekan ini omongan orang se-Jakarta adalah soal festival jazz tahunan ini. Bahkan tadi pagi, dalam rapat perencanaan rutin di Koran Tempo, pemimpin redaksi kami mengungkapkan kebingungannya karena belum mendapatkan tiket untuk putri tercintanya yang baru kelas 5 SD yang merengek minta dibawa ke sana.
» baca selengkapnya

selanjutnya »