Apr
15
Nur Hidayat
Ada gunanyakah kata maaf yang diucapkan pejabat ketika beberapa nyawa terlanjur melayang dan ratusan lainnya tergolek di rumah sakit? Akankah kata maaf itu bisa mengobati luka hati para keluarga korban, baik dari satpol PP maupun warga di sekitar Makam Mbah Priok, Tanjung Priok, Jakarta Utara?
Mungkin ada, tetapi buat saya: tidak ada. Kata maaf rasanya hanya pantas diterima, ketika orang yang memang melakukan kekeliruan itu sama sekali tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu benar-benar tidak disadarinya. Tetapi ketika pemerintah DKI memutuskan untuk membawa satpol PP bersenjata ke lokasi makam, mana mungkin mereka tidak sadar bahwa rombongan seperti itu pasti akan menimbulkan kerusuhan.
Dan, astagfirullah, setelah terjadi bentrok, pemerintah baru memfasilitasi sebuah dialog antara pemda, Pelindo, dan warga (ahli waris) mengenai status tanah tersebut. Kenapa dialog harus dilakukan setelah korban berjatuhan? Kok kayak para jawara di legenda Si Pitung? Artinya, gertak dulu, urusan belakangan.Atau, jangan-jangan, ada yang percaya ucapan paranormal ngawur bahwa kawasan itu hanya bisa dikuasai setelah diberi “sesajen”.
Jiika tujuan akhirnya adalah penyelesaian sengketa, kenapa dialog tidak digelar sehari, dua hari, tiga hari, empat hari, seminggu, sebulan, atau setahun sebelum bentrok? Bisa jadi, dialog sudah digelar, tetapi belum ada titik temu, sehingga aksi kekerasan yang dilakukan. Tapi kenapa sih harus dengan kekerasan? Supaya sengketa tanah segera selesai, sehingga pelabuhan bisa segera beroperasi, lalu ada pemasukan buat negara, dan akhirnya pemasukan itu untuk mensejahterakan rakyat? Tapi kenapa untuk mensejahterakan rakyat (entah rakyat yang mana) harus dimulai dengan menyakiti rakyat?
Maaf, Mbah Priok, para pejabat yang mewakili rakyat mungkin sedang kurang sabar mengelola masalah. Meskipun mungkin saya sulit menerima kata maaf mereka, saya yakin Mbah Priok sudah memaafkan mereka.
Add new tag, makam, Mbah Priok, penggusuran, satpol pp, tanjung priok
Apr
14
Rusuh meruyak kawasan Kojak, Tanjung Priok, Jakarta Utara, hari ini. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang hendak membongkar kompleks pemakaman Mbak Priuk dihadang massa. Bentrok tak terhindarkan. Kedua belah pihak baku lempar batu, adu jotos, dan terjadi aksi bakar. Sejumlah korban jatuh, luka berat maupun ringan.
Huru-hara di Priok hari ini melemparkan ingatan orang kepada tragedi pada 12 September 1984. Di malam yang nahas itu sekelompok massa di bawah komando Amir Biki menyerbu markas Kodim di Jalan Yos Sudarso. Di depan kantor Polres di Jaan Yos Sudarso, mereka dihadang sepasukan tentara.
Pasukan ini mencegah dan berusaha membubarkan massa. Tatkala mereka terus bergerak, petugas keamanan melepaskan tembakan peringatan. Massa tercerai-berai oleh tembakan. Datangnya bantuan pasukan membuat mereka mundur. Saat itulah perusakan dan pembakaran mulai terjadi.
Dalam waktu singkat, pasukan keamanan bisa menguasai keadaan. Pangab Jenderal L.B. Moerdani sendiri kabarnya ikut memeriksa situasi setempat setelah lewat tengah malam. » baca selengkapnya
aparat, bentrok, koja, massa, satpol pp, tanjung priok
Jul
23
Gelap datang cepat di Stockholm saat musim dingin. Saat itu pukul 4 sore. Di sore yang menggigil itu, Gunnar Johansson berdiri di samping sebuah jalan raya. Tubuhnya terbalut mantel, tangannya terbungkus di sakunya. Ia memandangi mobil-mobil yang berpacu tanpa kemacetan. Di sisi jalan ada dua kamera yang “mencatat” pergerakan mobil-mobil itu. Sebuah pelajaran penting buat Jakarta sedang ditorehkan saat itu.
Johansson bukanlah orang spesial. Dia hanya seorang ekonom ahli transportasi. Tapi warga Stockholm kadang menjulukinya sebagai tukang sulap karena ia telah membuat kemacetan hilang dari kota itu.
Kalau warga Jakarta datang ke Stockholm pada 2003, mereka pasti kaget. Kota itu dibekap kemacetan. Udara juga dikotori oleh asap mobil-mobil pribadi yang menderu-deru. Pemerintah setempat puyeng mengatasi penyakit kronis itu. Mereka lalu membentangkan rencana: kemacetan pada jam sibuk harus diturunkan 10 sampai 15 persen. Caranya, mereka menarik tarif khusus untuk mobil yang melintas pada jam tertentu dan di jalan-jalan protokol. Cara ini menjadi obat mujarab untuk Kota Singapura dan London.
Tapi Stockholm menerapkan strategi ini dengan memasang kamera. Kamera? Di setiap jalan ada dua kamera pengintai yang dipasang berhadapan. Johansson bergabung dengan IBM setelah PricewaterhouseCoopers diakuisisi oleh perusahaan Big Blue itu. Dialah yang memimpin IBM memenangi proposal untuk menggebah kemacetan.
» baca selengkapnya
IBM, Jakarta Stockholm, macet, OCR, Save Planet
Sep
13
Erwin Zachri
Hari-hari ini saya semakin sering naik kereta api yang menyusuri jalur Serpong ke Jakarta. Kondisinya sudah jauh berubah sejak jalur ganda dioperasikan beberapa waktu lalu. Lebih nyaman dan cepat.
Yang menarik perhatian saya, dengan jadwal yang semakin teratur, adalah perubahan sikap penumpang. Para penumpang, tua-muda, laki-perempuan, tidak bisa lagi berleha-leha saat kereta api berhenti. Mereka harus sigap untuk naik dan turun di setiap stasiun. Beda dengan dulu, saat kereta yang penuh berhenti, penumpang di dalam kepanasan sehingga mereka menunggu di luar dan buru-buru naik ke atap kereta saat kereta jalan.
Kesigapan penumpang kita seperti menandakan perubahan ke arah lebih baik. Mereka semakin efisien menggunakan waktu untuk transportasi. Dalam hal ini saya teringat sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pejalan kaki di Singapura merupakan pejalan kaki yang tercepat. Dengan fasilitas pejalan kaki yang tersedia di sana, kegiatan berjalan kaki yang memakan kalori bisa dilakukan dengan nyaman. Jangan bandingkan dengan di sini, cepat sih bisa, tapi soal nyaman? » baca selengkapnya
Aug
29
Erwin Zachri
Ketika baru sekolah, kita senang sekali mengantre. Semula berbaris di depan kelas, kemudian berjalan dengan tertib tak boleh saling mendorong, dan masuk kelas dengan riang gembira. Bapak dan ibu guru memperhatikan dengan saksama.
Hal itu pula yang saya perhatikan saat menjemput anak saya sepulang TK. Mereka berbaris rapi, riang gembira, penuh canda, dan kadang terjatuh karena memang susah anak-anak TK itu rupanya berjalan cukup tertib, saat melihat para penjemputnya telah menanti.
Mengantre adalah budaya yang baik, bisa juga yang modern. Kita menghormati hak orang dan orang pun menghormati hak kita. Tidak siapa yang kuat dia yang duluan. Siapa yang duluan, dia yang didahulukan. » baca selengkapnya