Enak di Blog dan Perlu

Media, Music

Mardiyah Chamim

Sudah pernah nonton “Idola Cilik” di RCTI? Saya juga baru nonton beberapa kali gara-gara ada libur panjang pekan lalu. Cukup mengejutkan, kontes mencari idola yang satu ini sangat menghibur. Acaranya jauh lebih menyenangkan ketimbang kontes lain semisal Indonesian Idol, AFI, dan selusin epigon lain.

Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan kontes semacam ini. Efek psikologis buat peserta, keluarga, mana pernah dipikirkan pihak tv penyelenggara. Apalagi, ini melibatkan anak-anak kecil, jiwa-jiwa yang masih rapuh.

Tapi, rupanya ada sesuatu yang lain yang disuguhkan “Idola Cilik”.

» baca selengkapnya

Budi Putra

Hari ini The Jakarta Post (*) memuat headline di halaman City-nya: “Guv election turns to online mud-slinging“.

Selama ini, menurut the Post, tim kampanye pemilihan gubernur alias pilkada sering memanfaatkan dinding, tiang listrik atau warung untuk mengiklankan kandidatnya. “Foto-foto kandidat dengan tampilan yang ramah bertebaran seperti jamur di musim hujan.”

Tapi, ada yang di luar dugaan tim sukses sejumlah calon Gubernur Jakarta: di dunia maya, persisnya di blog, juga muncul sejumlah blog tentang para kandidat. Tetapi — nah, ini — bukan tim suksesnya yang bikin. Tidak mengherankan, isinya pun bertentangan atau malah menyerang si kandidat itu sendiri.

Ada dua blog yang ditujukan buat dua calon gubernur; Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo (www.bangfauziwatch.wordpress.com, www.foke.blogspot.com) dan Mantan Deputi Polri Adang Daradjatun (www.adangbenahijakarta.blogspot.com).

bangfauzi2.jpg

Bisa ditebak, semua blog ini justru menyerang kedua tokoh yang high-profile ini. Jelas, blog-blog ini mengundang protes dari tim sukses masing-masing. Blog yang ditujukan untuk Adang malah diberi judul: “Ayo Kotori Jakarta.”

bangadang1.jpg

Tapi, yang menarik, tiba-tiba isi blog foke.blogspot.com berubah. Judulnya menjadi: “Blog Ini Telah Kami Kuasai” (Tim Pembela Foke). Apakah tim sukses Fauzi berhasil men-deface blog ini? Hebat juga, blogspot.com bisa di-deface! ;-)

bangfauzi.jpg

Menurut the Post, kedua tim sukses akan menggugat pemilik blog — yang justru tampil anonim alias tidak memunculkan identitas aslinya di blog.

Tim Fauzi mengklaim sudah mendeteksi IP pemilik blog tersebut, yakni berasal dari kawasan Kuningan dan Kebon Sirih, dan mengancam “akan menggeledah warnet di kedua kawasan tersebut.

Bagaimanapun nanti kelanjutannya kasus Blog versus Kandidat Gubernur Jakarta ini, secara pribadi saya menyarankan:

  • Tampilkan identitas asli. Blog yang bertema politik seperti menyangkut kampanye pemilihan gubernur mestinya menampilkan identitas penulis aslinya. Ini akan meningkatkan kredibilitas blog itu sendiri, orang akan kembali berkunjung karena percaya dengan isinya. Rekan saya Fatih Syuhud pernah menulis, anonimitas di blog tidak berlaku buat blog yang bertema politik maupun agama.
  • Boleh mengkritik, tapi dengan data dan argumentasi. Siapapun bisa membuat blog yang mengkritik orang atau lembaga, tetapi ada kode etiknya: Kritiklah dengan data, fakta dan argumentasi yang kuat. Dan pembaca akan menyimpulkannya sendiri.
  • Gunakan bahasa yang santun. Karena blog dibaca oleh semua kalangan (karena adalah sebuah publikasi juga), sebaiknya tetap menggunakan bahasa yang santun. Kritikan yang disampaikan secara cerdas dan bersahaja, malah jadi lebih tajam dan menghujam.
  • Lawanlah dengan blog juga. Jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan blog, sebaiknya membuat blog juga, dengan salah satu misi yaitu memberikan counter informasi. Tapi disarankan tetap menjadi kode etik dan bahasa yang berbudaya. Jika pihak yang diserang malah melakukan serangan balik dengan cerdas dan santun, orang justru akan jadi simpatik dan malah akan antipati dengan blogger yang asal menyerang. Dan ini jelas akan jadi poin penting dalam mempromosikan jagoannya sendiri.

(*) Hingga posting ini ditulis, versi online berita aslinya belum tersedia di thejakartapost.com, sehingga permalink-nya tidak disertakan di sini.

Budi Putra

cover-152.jpg  cover-snap7.jpg
Menjelang tengah malam, sebelum tidur, saya terima e-mail dari kolega saya Antyo Rentjoko. Isi e-mailnya mengejutkan saya: dua majalah yang ia pimpin, komputerakt!f dan Snap! berhenti terbit.

Terlepas dari apapun faktor penyebabnya, secara pribadi saya sedih karena kehilangan dua majalah teknologi berbahasa Indonesia yang bermutu. Terus-terang saya sangat menikmati tulisan-tulisan yang disajikan.

Sebelumnya, majalah PC Magazine Indonesia, yang diterbitkan Grup Femina, juga tidak terbit lagi. » baca selengkapnya

Budi Putra

Wimar's World

Sedianya tadi siang saya dan Mas Wimar Witoelar akan ngalor-ngidul seputar dunia blog di kantornya di bilangan Fatmawati, Jakarta Selatan. Tapi topik obrolan kami berubah karena ada kabar yang jelas tak mengenakkan. “Program Wimar’s World dihentikan tayangannya di JakTV mulai Rabu pekan ini.”

“Saya akan mengumumkan penghentian ini di rapat internal kami siang ini. Silahkan Anda ikut juga… supaya saya tidak perlu dua kali membacakan pointer-pointer yang saya buat tadi malam sebelum tidur,” katanya terkekeh. » baca selengkapnya

Qaris

Belakangan ini Koran Tempo giat beriklan, baik di televisi, media cetak, atau radio. Ada hal baru yang dikenalkan oleh iklan-iklan tersebut, yaitu tagline yang berbunyi: “Koran Tempo, Ringkas-Cergas”.

Kalau masalah ringkas, tidak usah diperdebatkan. Koran Tempo, sejak berbentuk kompak, memang menampilkan berita-berita yang ringkas. Tidak berpanjang-panjang, apalagi sampai bersambung ke halaman lain.

Penyajian yang ringkas ini merupakan respon kami terhadap kehidupan modern kota besar yang berjalan amat dinamis, cepat, dan tidak memberi kita jeda untuk bernapas. Di saat yang seperti itu, kita tak punya banyak waktu untuk membaca berita. Karena itulah Koran Tempo memilihkan berita yang terpenting dan disajikan secara padat.

Nah, jika kata ringkas gampang dipahami, bagaimana dengan cergas? » baca selengkapnya

selanjutnya »