Jan
9

Cobalah bertanya pada teman-teman di sekitarmu, ada berapa banyak yang bisa berenang. Saya yakin jumlahnya tidak sebanyak yang tidak bisa berenang. Di kantor saya, yang jumlah karyawannya sekitar 12 orang itu, hanya ada 2 orang yang mengaku bisa berenang, yaitu saya dan seorang staf keuangan. “Tapi saya bisanya renang gaya kampung loh, gaya mandi di sungai,” jelas rekan saya. Saya sendiri juga tak pernah secara khusus ikutan kursus renang. Saya mulai belajar berenang karena waktu kecil gemar mandi di kali. Setelah gede dan berkenalan dengan kolam renang, barulah saya belajar renang gaya kodok secara otodidak.
Padahal, sebagai bangsa bahari yang katanya punya nenek moyang orang pelaut, mustinya berenang merupakan keahlian genetis orang Indonesia. Apalagi 3/4 wilayah Indoneia adalah lautan yang seluas sekitar 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 81 ribu km. Lahir jebrot, mustinya sudah diakrabkan dengan air.
» baca selengkapnya
travel
Nov
19

Buat saya, mengendarai mobil di Bali itu selalu menakjubkan. Bayangkan, sepanjang jalan disuguhi pemandangan indah, perpaduan antara nature and culture yang membuat mata tak terasa lelah. Belum lagi jalanan yang bebas gronjalan. Hampir semua jalanan di Bali beraspal halus, termasuk yang masuk ke perkampungan. Selain itu juga tidak macet, kecuali di kawasan Kuta. Jadi jarak ratusan kilometer pun ayo saja. Bukan sebuah beban untuk melewatinya.
Menyewa mobil di Bali juga murah dan tidak ribet. Jika di Jogja kita harus meninggalkan Kartu Keluarga, KTP, dan sepeda motor berikut STNK-nya sebagai jaminan, di Bali kita bisa menyewa mobil 24 jam tanpa sopir hanya dengan meninggalkan KTP atau menggesek kartu kredit yang di-open sebagai jaminan. Malah, jika sudah langganan, tanpa harus meninggalkan kartu identitas pun urusan sewa-menyewa ini tetap lancar.
» baca selengkapnya
bali, Jalan-jalan, travelling
Nov
19
Suatu ketika saya membeli bakpia Pathuk untuk menyuguhi tukang batu yang sedang merenovasi rumah, sebagai camilan pendamping teh panas untuk suguhan rehat. Karena bukan dalam rangka memberi buah tangan, kali ini saya sengaja membeli bakpia dari merek yang bukan juara satu. Namun demikian merek bakpia ini cukup populer di Jogja, terutama di kalangan tukang becak yang biasa mengantar wisatawan membeli oleh-oleh khas Jogja.
“Berapa harga sekotak, Mbak?” tanya saya pada pelayan toko bakpia dan oleh-oleh yang terletak di Jl. K.S Tubun, daerah Pathuk. “Yang isi 15 harganya lima belas ribu, yang isi 20 harganya dua puluh ribu,” jawabnya. Lalu si Mbak bergeser lebih mendekat ke arah saya dan berbisik, “kalau Mbak datang ke sini nggak diantar tukang becak, nanti dapet diskon tiga ribu rupiah per dos…”
» baca selengkapnya
bakpia pathuk, kuliner, Yogya