Enak di Blog dan Perlu

#indonesiana, Internasional

diskusi-indonesiana
Demokrasi pada masa kekuasaan Hosni Mubarak tidak mendapat tempat. Masyarakat Mesir tidak ada yang berani menyampaikan perbedaan pendapat. “Satu-satunya tempat paling demokratis adalah toilet umum,” kata Qaris Tadjudin, wartawan Tempo yang meliput di Mesir, dalam diskusi yang digelar @indonesiana soal  ‘Revolusi Media Sosial’ di @atamerica, Pacific Place, Jakarta, Rabu (16/2).

Selama Mubarak berkuasa, kata Qaris, masyarakat tidak ada yang berani menyatakan pendapatnya. Mereka yang tidak mendukung pemerintah, lebih memilih diam dari pada bersuara. Namun, situasi berubah ketika mulai ada media sosial twitter dan Facebook. Terutama menjelang gerakan demonstrasi besar-besaran berlangsung.
» baca selengkapnya

, ,

nointernetRakyat Mesir tampaknya harus berterima kasih kepada Ujjwal Singh dan Google. Berkat inovasi Manajer Produk Google untuk Timur Tengah dan Afrika Utara inilah pemblokiran Internet oleh pemerintah Mesir bisa ditembus. Para pengguna Twitter dapat terus berkicau tentang situasi negeri yang tengah bergejolak itu ke seluruh penjuru dunia.

Pemblokiran saluran komunikasi yang dimulai pada 28 Januari itu adalah salah satu cara membungkam suara rakyat yang menentang pemerintah Husni Mubarak. Rakyat menuntut Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun mundur dari jabatannya. Mereka menggunakan, salah satunya, Twitter sebagai sarana komunikasi dan menggalang kekuatan.

Akibat pemblokiran itu, seluruh jaringan Internet di Negeri Piramida tersebut padam total. Para penggunanya tak bisa mengakses ranah mayantara. Informasi perihal demo berdarah yang sebelumnya mengalir lewat jejaring sosial, baik Twitter, Facebook, maupun Skype, pun mandek.

Bagaimana cara pemerintah Mesir memadamkan jaringan Internet? » baca selengkapnya

, , , , , ,

julian-assangeMiliter menuding itu adalah tindakan kejahatan. Ketika Bradley Manning, pemuda yang baru menjadi tamtama, mengunduh puluhan ribu kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat ke dalam CD, ia dituding melakukan tindakan kriminal. Kegiatan iseng untuk membunuh waktu kosong di posko Angkatan Darat Amerika Serikat di Irak pada November 2009-April 2010 itu digolongkan tindakan kriminal berat. Bradley, tentara polos itu, dianggap melanggar peraturan 18 US Code Section 1030. Dia dituding membobol komputer secara tak sah.

Sepele? Kelihatannya begitu. Tapi itu tak seberapa dibandingkan dengan tindakan Julian Assange, warga Australia, yang mendirikan WikiLeaks. Lembaga itu mungkin dalam terminologi anak gaul Jakarta disebut “superbocor”, bukan “bocor alus”. Ya, sejak 28 November 2010, Assange telah membuka lebih dari 250 ribu pembicaraan diplomatik antara kantor Kedutaan Besar Amerika dan Departemen Luar Negeri Amerika–11 ribu di antaranya berkode rahasia.

Semua dibeberkan dengan terang benderang. Mulai makian Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, pembatalan pesanan ruangan di Hotel JW Marriott Jakarta oleh Kedutaan AS sehari sebelum terjadi ledakan bom di hotel tersebut, sampai fenomena serial TV Desperate Housewives di Arab Saudi, yang dianggap ampuh untuk meredam keinginan jihad di negara itu, ada di sana.
» baca selengkapnya

,
Burhan Sholihin

Kematian mahasiswa Indonesia yang dituduh menusuk profesornya di Singapura, David Hartanto Widjaja melahirkan diskusi baru. Bukan cuma soal apakah David Hartanto memang benar membunuh profesornya atau malah dia menjadi korban?

Hal lain yang mengejutkan justru soal sistem pendidikan di NTU Singapura. Benarkah pendidikannya terlalu keras? Seorang blogger yang juga alumni di sana, Margaritta, menuturkan dengan lugas di tulisan yang berjudul “An Hour from Home, Thousand years from Heart”.

Tulisan di blog itu begitu menyentuh. Menggambarkan betapa kerasnya kehidupan di NTU, sampai-sampai mahasiswa di sana ada saja yang berusaha bunuh diri denga meloncat ke rel kereta, membenturkan kepala ke kaca atau masuk rumah sakit jiwa.

Anda bisa melongok tulisan selengkapnya di blognya. Berikut cuplikannya:

Mengapa Margarita mengatakan I WAS DAVID? Inilah penuturannya yang lain:

“Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama. Kami mendapatkan kamar yang bersih, air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100mbps. Fasilitas sekolah sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji untuk belajar dan riset dengan materi tercukupi.

Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?

Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orangtua gue tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk ‘membayar’ lebih dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.”
.
Di luar kematian David dan kerasnya NTU yang dituturkan Margarita itu ternyata masih banyak kasus kematian-kematian yang nestapa lainnya di NTU. Ini di antaranya: Seorang Lagi Gantung Diri.

Mestinya mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang di NTU bikin buku putihnya soal kematian-kematian nestapa itu. Siapa yang berminat memulai?

Setelah membaca tulisan-tulisan itu saya jadi mafhum, mengapa tak semua siswa pintar mau masuk NTU.

clipped from margarittta.multiply.com

Have a Sip of Margarita…

An hour from home, thousand years from heart

Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3 pembunuhan sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.

Sontak gue mendapat telpon sana-sini dari rekan satu sekolah yang kini telah jadi jurnalis di negeri Singa. Apakah gue kenal David? Seperti apa orangnya? Menurut loe motifnya apa? Gue ga kenal David. Punya fotonya juga tidak. Tapi gue akan bilang, I was David.

blog it
, , ,

Tempo GazaRafah masih membara. Panas matahari yang menggigit serta debu sisa-sisa pengeboman masih di mana-mana, saat Tempo datang ke perbatasan Rafah, Gaza, Palestina. Tiga jam sebelum Tempo sampai perbatasan, bom-bom Israel memporakporandakan Rafah, dan sebagian menyasar pejuang Hamas yang menyembunyikan terowongan di rumah-rumah mereka. Kota berpenduduk 40 ribu jiwa itu memang penuh terowongan.

Tempo di perbatasan Gaza? Ya. Demi pembaca kami hadir di perbatasan Rafah, menemui Sameeh Asyur, salah seorang warga Mesir yang di dekat rumahnya memiliki terowongan menuju Gaza. Koresponden Tempo di Kairo, Mesir, Akbar Pribadi Brahmana Aji sengaja kami tugaskan merapat ke Gaza. Hasilnya sebuah reportase yang basah tentang Manusia Terowongan yang dimuat di Tempo pekan ini dan Koran Tempo pekan lalu.

Bukan cuma Akbar yang merapat ke Gaza, wartawan Tempo Angela Dewi juga mewawancarai langsung para pengungsi di Gaza lewat telepon. Jerit, tangis terekam dalam laporannya. “Saya berurai air mata saat mendengarkan mendengar jerit kesakitan anak palestina yang terdengar saat mengobrol lewat telepon dengan pengungsi di Jalur Gaza,” katanya.

Salah satu kepedihannya itu termuat di tulisannya berjudul Suara dari Neraka . Dia juga menulis untuk blog di Facebooknya  Untuk Munir dan Muhammad di Kamp Pengungsi Maghazi Berikut ini kutipan surat itu:

Munir dan Muhammad di Kamp Pengungsi Maghazi

Munir dan Muhammad,

Terima kasih sudah mengangkat teleponku ketika hendak mengobrol dengan ayah kalian. Dia sungguh sibuk sekali, memantau situasi di jalanan gaza dan melaporkannya ke seluruh dunia.

Aku senang mendengar suara kalian tertawa cekikikan di telepon. Rasanya lega juga, ada anak-anak Palestina yang masih bisa tertawa. Sungguh sebuah hiburan yang menentramkan di tengah impitan derita yang tak jelas ujungnya.

Oh ya munir, kata ayahmu, engkau rajin sekali memantaukan berita di televisi untuknya. Anak hebat dirimu. Tetap kuat di tengah suasana yang mencekam seperti itu.

Muhammad, kata ayahmu engkau juga makin hebat dan kuat. Tidak lagi menjerit kencang ketika mendengar suara pesawat yang menggelegar dan menjatuhkan bom.

Hari ini, di koran-koran kubaca Israel menjatuhkan bom curah di tengah udara dingin yang membekap kotamu. Aku berdoa dalam ketakutan dan rasa geram. Mudah-mudahan rumah kalian di tengah kamp pengungsian, terhindar dari zat kimia laknat itu.

Jauh dari tanah kalian, anak-anakku titip doa untuk kalian. Mudah-mudahan esok kalian terjaga di tengah pagi yang bening, tenang, tanpa gelegar pesawat tempur. Dalam dunia yang damai.

Infografis Gaza

Selain laporan langsung dari Gaza, semua lini, desainer infografis kami Machfoed Gembong serta kepala desain Koran Tempo, Yuyun juga bekerja keras menurunkan laporan terhebat. Anda bisa menyimaknya dalam dua pekan terakhir cover Koran Tempo selalu penuh warna dan penuh grafis.

Ini untuk Anda, para penggemar Tempo dan Koran Tempo.

selanjutnya »