Enak di Blog dan Perlu

Digital, film

Menggambar kartun adalah sebuah tugas sedih: usaha menyebarkan rasa humor, kebahagiaan, tapi dengan duit kecil. Itulah yang sempat terlintas di pikiran animator kondang asal Jepang, Ryo Ono.

Selama lebih dari satu dekade, tubuh Ono tersedot di dunia produksi drama TV dan film di Tokyo. Malangnya, Tokyo tak ramah kepada direktur kreatif itu atau sang empunya ide. Pikiran dan energinya 10 tahun lalu hanya dihargai gaji Rp 8,5 juta per bulan. Studio dan stasiun TV kelewat pelit.

Ia tak mau menyerah kalah. Ono, 37 tahun, pindah ke Prefektur Shimane, wilayah kecil di luar Tokyo. Di Shimane, dia sedikit bisa bernapas. Ongkos hidup tak mencekik seperti di Tokyo. Dia mulai membikin animasi menggunakan sebuah komputer biasa dengan program yang murah, yakni Flash.

Kegigihannya itu menjelma di sebuah kamar. Cuma seukuran kamar kos mahasiswa biasa-biasa. Tapi itu tak terlalu sempit buat meniupkan imajinasi.
» baca selengkapnya

,

Oleh AKMAL NASERY BASRAL

Dalam tulisan berjudul Inspirasi Muslim Baru (Koran Tempo, 2 Juli 2009), Eric Sasono menyoroti dua film yang dibuat berdasarkan novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dalam pandangan redaktur Rumahfilm.org ini, kedua film tersebut memiliki tautan erat dengan keberartian seorang muslim Indonesia kontemporer melalui dua hal: penyaluran hasrat cinta dan gelar kesarjanaan.

Lebih jauh lagi Eric melihat adanya tiga preposisi yang disodorkan kedua film di atas untuk memuluskan penyaluran hasrat itu yakni (1) mengasingkan diri ke Mesir sehingga tak perlu terlibat perbincangan masalah dalam negeri kontemporer, (2) lingkungan yang memungkinkan berjalannya logika-logika teks agama Islam (nash) menjadi argumen utama, dan (3) idealisasi karakter utama yang menjadi basis bagi kepahlawanan sang tokoh.

Sebagai konklusi, Eric menyimpulkan lahirnya model keislaman (lebih tepatnya film Islam) yang steril dari problem sosial politik dalam negeri dan tertutup dari diskursus di luar nash. Untuk memperkuat kesimpulan ini, Eric membandingkan AAC dan KCB dengan tiga film karya Asrul Sani Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/1982), Al-Kautsar (1977) dan Nada dan Dakwah (1990). “Institusi penyaluran hasrat cinta tidak dipersoalkan pada ketiga film itu,” tulis Eric.

Saya kira ada sejumlah bingkai cara pandang kurang pas yang digunakan Eric. Pertama, konstatasi bahwa AAC dan KCB sebagai representasi dari “inspirasi muslim baru” di tahun 2000-an ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa.

Sebab pada rentang waktu bersamaan munculnya kedua film itu (Januari-Juni 2009), beredar juga film Bukan Cinta Biasa (BCB) tentang seorang remaja putri yang mampu membuat ayahnya, seorang rocker paruh baya, untuk kembali hidup tertib (berhenti minum alkohol, kembali shalat dan belajar mengaji).

Sebelum itu bahkan ada film Nagabonar Jadi 2 (NJ2), di mana pada salah satu adegan terlihat salah seorang tokoh (diperankan VJ MTV, Mike Muliadro) untuk izin shalat pada saat sedang berada di sebuah kelab dugem.
» baca selengkapnya

, ,

garuda_didadakuTadi pagi saya menonton Garuda di Dadaku. Terus terang, ada alasan emosional yang membuat saya rela bangun pagi dan cabut ke fx X’entre untuk menonton premiernya (baru tayang resmi tanggal 18 Juni). Saya adalah salah seorang yang selalu merinding saat yel-yel Garudaku menggema di Stadion Utama Senayan, setiap kali tim nasional kita (yang lebih sering kalah itu) bertanding. Meski ini film anak-anak, saya tetap akan menontonnya: toh ada timnas-timnasnya juga (meski U-13).

Karena ini film tentang bola, mari kita membicarakannya seperti membicarakan pertandingan sepak bola. Rata-rata panjang film mirip panjang pertandingan sepakbola: 1,5 jam, kurang lebih 90 menit. Kalau kita bagi dua, maka ada 45 menit pertama dan 45 menit kedua (meski menonton film tak pakai istirahat turun minum). Hasil pembabakan ini membuat film itu mirip pertandingan final klub non-Inggris: membosankan dan tegang pada babak pertama; dan lumayan rileks pada babak selanjutnya.

Terus terang, pada 45 menit pertama, saya kerap memejamkan mata karena tak tahan melihat adegan yang amat sinetron. Aktingnya kerap berlebihan, pengadeganannya verbal, dan tidak ada kematangan yang diperoleh dari hasil latihan dan penghayatan. Karakter tidak berkembang. Dan semua bermain amat kaku.
» baca selengkapnya

, ,