Feb
24
Oleh Shanty Harmayn
Insan film Indonesia sudah membuktikan sanggup membuat film yang bersaing langsung dengan film-film blockbusters Hollywood. Salah satu peraih jumlah penonton tertinggi sepanjang masa di Indonesia adalah film Indonesia (’Laskar Pelangi’). Film-film semacam ini, juga film saya ‘Garuda di Dadaku’ yang beredar bulan Juni 2009, sanggup bersaing melawan film-film ‘Harry Potter’, ‘Transformers’ dan ‘Batman’ dari luar negeri, dan memperoleh pendapatan tinggi.
Meski orang bisa saja berspekulasi tentang alasan-alasan suksesnya, saya menambahkan alasan sukses film-film di atas berdasarkan munculnya sejumlah bakat istimewa, meluasnya pasar—jumlah layar, televisi, dan multimedia—yang membuat pembiayaan produksi film menjadi lebih mungkin. Dan kebudayaan khas Indonesia, sejarah dan latar sosialnya, tidak mungkin pembuat film asing mampu menandingi seperti yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri.
» baca selengkapnya
film hollywood, film impor, film indonesia, pajak film
Feb
23
Diskusi #indonesiana kembali,
Rencana pemerintah untuk menerapkan bea impor untuk film-film asing, baik film Hollywood maupun non Hollywood, membuat importir film meradang. Mereka mengancam tak akan mengedarkan film Hollywood. Apakah Indonesia bakal “gulita” dari film-film Hollywood?
Direktur Teknis Kepabeanan, Direktorat Jenderal Bea Cukai Heri Kristiono mengatakan, penetapan nilai pabean film impor sudah wajar. Alasannya, itu proteksin film nasional. Kedua, “Pajak yang dikenakan terhadap film nasional selama ini lebih tinggi dibandingkan film impor,” katanya.
Apa benar proteksi itu akan membuat film nasional bakal maju? Apa penolakan ini cuma akal-akalan para distributor film? karena ternyata Motion Picture Association membantah bahwa mereka memboikot pengedearan film Hollywood.
Ikuti diskusi santai yang digelar #indonesiana (by @tempointeraktif) hasil kerja bareng Delta FM, Obsat, dan #indonesiana .
Hari : Rabu, 23 Februari 2011
Pukul : 19:00 - 21:00
Tempat : Radio Delta FM, Jalan Adityawarman 71, Jaksel
Pembicara : Mira Lesmana, produser
Lala Timothy, produser
Rudy Sanyoto, Wakil Ketua Badan Perfilman Nasional
Pastinya bakalan seru nih.. kita bisa berdiskusi dan mendengar langsung kisah dibalik industri film nasional. Ditunggu kehadirannya ya… Ikuti pula diskusinya di Twitter di @tempointeraktif dengan tagar #indonesiana #forumDOT
film, Hollywood
Jun
7
VIDEO itu cuma berdurasi sekitar enam menit. Tapi cukup menghebohkan. Beredar di dunia maya, cukup banyak yang mengaksesnya. Beberapa teman saya, baik yang awam hingga di kalangan yang dekat dengan dunia selebritis, rajin membahasnya dengan detail. Maklum, yang beredar itu adalah video porno.
Tentu jika yang beredar adalah video porno “biasa”, manalah mungkin seheboh sekarang ini. Nah, yang menjadi perbincangan tak lain si “bintangnya” ini. Orangnya mirip sekali dengan Luna Maya dan Nazril Irham alias Ariel (vokalis Peterpan). Luna Maya adalah model papan atas dan kini laris sebagai bintang iklan. Sampai sekaran masih tercatat sebagai ikon sabun Lux. Selain itu, Luna adala presenter. Wajahnya sangat rajin berseliweran di layar kaca.
» baca selengkapnya
Ariel Peterpan, luna maya, video mesum
Aug
10
Menggambar kartun adalah sebuah tugas sedih: usaha menyebarkan rasa humor, kebahagiaan, tapi dengan duit kecil. Itulah yang sempat terlintas di pikiran animator kondang asal Jepang, Ryo Ono.
Selama lebih dari satu dekade, tubuh Ono tersedot di dunia produksi drama TV dan film di Tokyo. Malangnya, Tokyo tak ramah kepada direktur kreatif itu atau sang empunya ide. Pikiran dan energinya 10 tahun lalu hanya dihargai gaji Rp 8,5 juta per bulan. Studio dan stasiun TV kelewat pelit.
Ia tak mau menyerah kalah. Ono, 37 tahun, pindah ke Prefektur Shimane, wilayah kecil di luar Tokyo. Di Shimane, dia sedikit bisa bernapas. Ongkos hidup tak mencekik seperti di Tokyo. Dia mulai membikin animasi menggunakan sebuah komputer biasa dengan program yang murah, yakni Flash.
Kegigihannya itu menjelma di sebuah kamar. Cuma seukuran kamar kos mahasiswa biasa-biasa. Tapi itu tak terlalu sempit buat meniupkan imajinasi.
» baca selengkapnya
animasi, INAICTA
Jul
13
Oleh AKMAL NASERY BASRAL
Dalam tulisan berjudul Inspirasi Muslim Baru (Koran Tempo, 2 Juli 2009), Eric Sasono menyoroti dua film yang dibuat berdasarkan novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dalam pandangan redaktur Rumahfilm.org ini, kedua film tersebut memiliki tautan erat dengan keberartian seorang muslim Indonesia kontemporer melalui dua hal: penyaluran hasrat cinta dan gelar kesarjanaan.
Lebih jauh lagi Eric melihat adanya tiga preposisi yang disodorkan kedua film di atas untuk memuluskan penyaluran hasrat itu yakni (1) mengasingkan diri ke Mesir sehingga tak perlu terlibat perbincangan masalah dalam negeri kontemporer, (2) lingkungan yang memungkinkan berjalannya logika-logika teks agama Islam (nash) menjadi argumen utama, dan (3) idealisasi karakter utama yang menjadi basis bagi kepahlawanan sang tokoh.
Sebagai konklusi, Eric menyimpulkan lahirnya model keislaman (lebih tepatnya film Islam) yang steril dari problem sosial politik dalam negeri dan tertutup dari diskursus di luar nash. Untuk memperkuat kesimpulan ini, Eric membandingkan AAC dan KCB dengan tiga film karya Asrul Sani Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/1982), Al-Kautsar (1977) dan Nada dan Dakwah (1990). “Institusi penyaluran hasrat cinta tidak dipersoalkan pada ketiga film itu,” tulis Eric.
Saya kira ada sejumlah bingkai cara pandang kurang pas yang digunakan Eric. Pertama, konstatasi bahwa AAC dan KCB sebagai representasi dari “inspirasi muslim baru” di tahun 2000-an ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa.
Sebab pada rentang waktu bersamaan munculnya kedua film itu (Januari-Juni 2009), beredar juga film Bukan Cinta Biasa (BCB) tentang seorang remaja putri yang mampu membuat ayahnya, seorang rocker paruh baya, untuk kembali hidup tertib (berhenti minum alkohol, kembali shalat dan belajar mengaji).
Sebelum itu bahkan ada film Nagabonar Jadi 2 (NJ2), di mana pada salah satu adegan terlihat salah seorang tokoh (diperankan VJ MTV, Mike Muliadro) untuk izin shalat pada saat sedang berada di sebuah kelab dugem.
» baca selengkapnya
ayat-ayat cinta, film, ketika cinta bertasbih
selanjutnya »