Apr
27
Sebagai pemimpin tim, Anda mungkin sudah merasa semua anggota seia sekata ketika sebuah kesepakatan telah diambil, termasuk pembagian tugas di antara anggota tim. Maka, tim pun mulai bekerja menggarap proyek. Sejumlah hambatan internal ditemui di tengah perjalanan, sebagian di antaranya berhasil diatasi hingga akhirnya proyek berhasil diselesaikan.
Namun, Anda merasa tidak puas. “Seharusnya hasilnya bisa lebih bagus dari ini,” pikir Anda sembari mengutak-atik, “Kira-kira apa ya penyebab hasil kerja tim tidak sebaik yang saya perkirakan?”
Setelah menata kotak-kotak puzzle, Anda sampai kepada dugaan kuat bahwa kerjasama tim tidak sekuat yang Anda harapkan. Ada sedikit friksi di antara anggota tim, tetapi perbedaan pandangan itu tidak terungkap dalam diskusi maupun rapat-rapat tim. Lantaran tidak terungkap, pemimpin tim merasa masing-masing anggota tim sepakat sepenuhnya mengenai keputusan yang sudah diambil. Pemimpin tim merasa bahwa setiap orang memiliki pengetahuan dan pemahaman serupa mengenai keputusan itu.
Yang mungkin tidak diketahui oleh pemimpin tim ialah bahwa anggota tim, apa lagi yang baru terbentuk, cenderung membuat penilaian terhadap kemampuan atau keahlian anggota tim lainnya. Di antara anggota tim mungkin juga terdapat perbedaan persepsi mengenai tingkat keahlian ketua tim atau orang yang senior di dalam tim. “Kenapa dia duduk di posisi itu?” adalah sejenis komentar yang tidak muncul di dalam rapat.
Perbedaan persepsi ini, yang disebut ‘expertise dissensus’ oleh Heidi Gardner dan Lisa Kwan, berpotensi mengganggu efektivitas kerja tim. Bagaimana menangani disensus agar di kemudian hari Anda, sebagai pemimpin tim lagi, bisa lebih siap menghadapinya?
» baca selengkapnya
expertise dissensus, ketidaksepakatan, tim
Apr
18

Pada tanggal 17/04/2012, saat semua media masa menayangkan berita mengenai E-toll Card yang diluncurkan oleh pejabat negara, saya melakukan eksperimen jajak pendapat. Survei yang dilakukan secara singkat kepada lebih dari 200 orang responden, telah memberikan hasil yang sangat menarik, baik dari perspektif kebijakan publik maupun dari sisi kehidupan politik pemerintahan.
Saya bertanya secara sederhana mengenai pandangan mereka terhadap E-Toll Card, apakah mereka memandang itu merupakan solusi atau pencitraan pejabat. E-Toll card adalah kartu pembayaran kepada operator jalan tol secara nir-tunai dengan kartu prabayar. Responden adalah masyarakat terdidik mulai dari mahasiswa, pekerja profesional, akademisi, pengusaha, hingga pejabat pemerintah dan politisi, serta tinggal di perkotaan. Beberapa diantaranya adalah pakar transportasi dan ahli kebijakan publik. Dengan demikian, pandangan yang disampaikan adalah pendapat dari mereka yang sadar teknologi dan sadar politik. Dari 77 jawaban yang masuk, 59,7% responden mengatakan E-toll card adalah solusi dan 40,3% menyatakan bahwa acara tersebut lebih fokus pada pencitraan dari pejabat yang terkait.
» baca selengkapnya
E-Toll Card, kartu tol
Apr
14
Sejak diangkat menjadi Menteri BUMN, Oktober 2011 (bahkan sejak menjabat Dirut PLN), Dahlan Iskan memang kerap mengambil langkah-langkah yang tak lazim dilakukan oleh pejabat tinggi. Ia mengundang direktur BUMN hanya untuk rapat, bukan urusan lain. Ia mengintensifkan komunikasi lewat BBM, jadi menghemat sejumlah sumber daya: waktu, bensin, biaya makan, dll.
Lain kali, Dahlan tiba-tiba naik kereta commuter line. Di kereta yang sesak, ia berusaha menyerap aspirasi penumpang. Yang bikin heboh, pagi-pagi Dahlan membuka pintu tol karena petugas jaga belum datang sementara antrian kendaraan sudah panjang.
Masih banyak lagi langkah Dahlan yang membikin kaget banyak orang, dan bukan hanya di lingkungan kementerian BUMN. Masyarakat pun terkejut. Tapi agaknya masyarakat menyukai gaya Dahlan yang kerap mengeluarkan jurus-jurus mengagetkan semacam itu. Jarang sekali pejabat (setingkat menteri, apa lagi) yang tiba-tiba muncul di satu tempat.
Dahlan tampaknya tengah mengusik zona-zona kenyamanan yang membikin roda aktivitas kementerian maupun BUMN tak berjalan selayaknya. Ia menganggu manajemen perusahaan yang mungkin sudah merasa puas atas capaian kinerja mereka. Padahal, di mata Dahlan, kinerja itu belum optimal dan masih bisa didongkrak. Sebuah bank yang ditugasi memasarkan produk e-toll dikritik oleh Dahlan, dan dalam hitungan hari promosi e-toll muncul begitu gencar di koran.
Seperti halnya ia membuka pintu tol agar antrian tidak bertumpuk dan lalu lintas berjalan lancar, Dahlan tengah mencari titik-titik yang menyumbat kelancaran kerja BUMN. Langkahnya mungkin menyengat, tapi ia sebenarnya tengah mengajak berbagai pihak untuk menemukan jalan keluarnya dengan lebih cepat dan tepat. Terjun langsung ke lapangan membuatnya lebih cepat memahami apa masalahnya ketimbang melulu duduk di belakang meja.
» baca selengkapnya
Dahlan Iskan, terobosan
Apr
12
Carmine Gallo berkisah, suatu ketika ia mengunjungi Paso Robles, California, yang dikenal sebagai salah satu wilayah perkebunan anggur terbesar di dunia. Di sana, Gallo memasuki sebuah kilang anggur yang menampilkan bebatuan di barnya. “Untuk apa bebatuan itu?” tanya Gallo. “Itu adalah contoh limestone yang membentuk tanah di sini,” jawab seorang perempuan.
“Untuk bertahan di tanah berbatu-batu ini, akar pohon anggur harus bekerja ekstra keras untuk mencapai sumber air,” kata perempuan itu lagi. “Hasilnya, buahnya memiliki rasa yang lebih kuat, dan seperti yang diketahui para pembuat anggur, anggur yang enak dihasilkan dari buah anggur yang bagus.”
Tekanan memang tidak nyaman, tapi tekanan alamlah yang telah mendorong pohon anggur untuk mencari sumber air. Hasilnya bukan hanya pohon ini mampu bertahan hidup, tapi malah menghasilkan buah anggur yang bagus. Tekanan, konflik, dan kebutuhan tampaknya memang cara alam untuk mengatakan, “Temukanlah cara baru.”
Menemukan cara baru, menemukan ide baru, untuk memecahkan masalah, itulah inti dari inovasi. Pohon anggur itu telah melakukannya. Lantas, bagaimana dengan Steve Jobs yang dianggap sebagai otak di balik produk sangat inovatif: iMac, MacBook, iPhone, iTunes, iPod, dan iPad? Orang sepakat, Jobs telah melakukannya. Tapi orang masih bertanya: bagaimana Jobs melakukannya?
Jobs, sejak masih hidup hingga hari ini, masih dibicarakan orang. Harvard Business Review terbaru, edisi April 2012, memajang tema ini di sampulnya: “The Real Leadership Lessons of Steve Jobs”. Artikel utamanya ditulis oleh Walter Isaacson, penulis biografi Jobs. Dua tahun yang lampau, jurnal manajemen prestisius ini menobatkan Jobs sebagai CEO Terbaik Dunia.
Apakah Jobs memiliki rahasia dalam berinovasi? Apakah ia mempunyai ‘tips & tricks’ tentang langkah-langkah melakukan inovasi yang hebat?
» baca selengkapnya
berpikir berbeda, Carmine Gallo, Steve Jobs
Apr
10
Januari lalu, pemberitaan mobil Kiat Esemka oleh media massa begitu meriah. Masih ingat? Berbagai koran dan stasiun televisi menayangkan kisah di balik terciptanya mobil ini. Perhatian publik waktu itu tersita oleh mobil buatan anak-anak SMK ini setelah walikota Solo Jokowi memasangkan plat mobil AD 1 di mobil tersebut. Aneka produk lain buatan siswa SMK di berbagai daerah lantas menyusul turut menghiasi halaman koran dan layar teve.
Semangat untuk membesarkan mobil buatan asli dalam negeri ini waktu itu begitu tinggi. Wakil Walikota Solo bahkan mengantarkan mobil ini untuk mengikuti uji emisi di BPPT. Sayang, tidak lolos. Sejak itu, kabar mengenai mobil Esemka lantas sayup-sayup terdengar. Apa lagi setelah Pak Jokowi sibuk bertarung memperebutkan posisi DKI-1. Kabar tentang produk-produk lain pun kembali sepi.
Apa yang kemudian menghilang? Momentum. Kita kehilangan momentum untuk mendorong produksi mobil asli Indonesia, kita kehilangan momentum untuk memasyarakatkan laptop buatan sendiri, kita kehilangan momentum untuk membangkitkan kepercayaan diri bahwa kita mampu memproduksi sesuatu yang berkualitas di tengah serbuan produk luar negeri (tahukah Anda, bahwa kuaci pun diimpor?)
Mengapa momentum penting?
» baca selengkapnya
momentum
« sebelumnya — selanjutnya »