Feb
10
Dibandingkan dengan masa sebelum kita terbiasa hidup dengan internet, mencari data kini relatif lebih mudah. Perusahaan kebanjiran data yang berasal dari beragam tempat. Dari data yang dihimpun sendiri oleh tenaga penjualan hingga data yang ditambang dari survei konsumen, termasuk online survey.
George Day, guru besar Wharton Business School, menyebutkan bahwa jumlah data yang disimpan perusahaan bisa jadi dua kali lipat dalam setiap 18 bulan. Di saat yang sama, menurut Day, kemampuan perusahaan untuk menggunakan data ini hanya tumbuh sekitar 2 persen per tahun. Ada kesenjangan yang sangat besar di antara keduanya. Itu di AS, di Indonesia mungkin belum ada studi sejenis.
Soalnya kemudian, mau diapakan data yang sangat berlimpah itu? Ditimbun saja hingga volumenya mencapai terabyte? Sepanjang tahun kemarin, ‘big data’ kerap dibicarakan. Isu pokoknya ialah bagaimana cara yang tepat dalam memperlakukan data yang berlimpah agar perusahaan dapat memperoleh nilai yang mampu mendongkrak kinerja bisnis.
Data memang berlimpah, namun sebagian di antaranya tidak mengandung mutiara. Bisa pula, sebagai pengguna data kita tidak cukup mampu mengenali polanya sehingga data itu tampak seperti tidak berharga.
» baca selengkapnya
data, keputusan, wawasan
Feb
7
Bagaimana agar pengetahuan yang dimiliki sebuah organisasi, perusahaan umpamanya, dapat terus tumbuh? Salah satu caranya ialah dengan berbagi pengetahuan (knowledge sharing). Dalam lingkup manajemen pengetahuan (knowledge management), berbagi pengetahuan merupakan salah satu isu yang krusial. Mengapa? Tidak mudah mendorong karyawan perusahaan untuk berbagi pengetahuan kepada karyawan lainnya.
Perusahaan yang memiliki visi jauh ke depan mengakui bahwa pengetahuan merupakan intangible asset yang sangat berharga untuk menciptakan dan menjaga keunggulan kompetitifnya. Karena itu organisasi seperti ini berkepentingan agar pengetahuan yang dimilikinya terus berkembang. Karyawan pun memiliki pemikiran serupa, pengetahuan adalah kekuatan agar bisa unggul dalam persaingan meniti karier.
Banyak karyawan yang menolak untuk berbagi pengetahuan, sebab bagi mereka pemeo lama ini masih berlaku: “knowledge is power”. Kira-kira jalan pikirannya seperti ini: jika sudah capek-capek mencari pengetahuan dan menimba pengalaman, mengapa mesti berbagi “power” kepada orang lain. Bukankah pengetahuan merupakan keunggulan yang mesti dijaga ketat?
Bila demikian, apa yang bisa dilakukan?
» baca selengkapnya
berbagi pengetahuan
Feb
4
Kapankah terakhir kali Anda memuji kinerja anggota tim Anda, bawahan Anda, atau rekan kerja Anda? Bila Anda menjawab kemarin, boleh jadi Anda tipe orang yang lekas merespons positif kinerja bagus yang ditunjukkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Mungkin, Anda termasuk orang yang tidak pelit untuk memberi pujian secara tulus.
Mary Kay Ash, pendiri perusahaan AS Mary Kay Cosmetics, pernah mengatakan, “Ada dua hal yang orang inginkan lebih dari uang, yaitu pengakuan dan pujian.” Tapi alangkah tidak mudahnya kita mengakui seseorang telah bekerja dengan bagus dan memberi pujian yang layak diterimanya. Sebagai manajer kita barangkali berkata dalam hati, “Sudah semestinya kinerjanya seperti itu.”
Memberi respons positif atas kinerja anak buah seringkali lebih sukar ketimbang melemparkan kritik. Begitu anak buah melakukan kesalahan, dengan ringan kita menunjukkan kekurangan ini dan itu. Sayangnya, begitu anak buah menunjukkan kinerja yang bagus, kita pelit mengeluarkan pujian.
Pendekatan seperti ini akan mengecilkan hati, bahkan yang dikritik jadi cenderung reaktif dan defensif. Sering terjadi, motivasi dan energi untuk berkontribusi bagi perusahaan jadi berkurang. Sebuah studi menyebutkan bahwa respons berupa umpan balik positif memiliki dampak 5,6 kali lebih bagus terhadap kinerja tim dibandingkan umpan balik negatif.
» baca selengkapnya
apresiasi
Jan
31

Sebagai Perencana Keuangan atau Financial Planner / Advisor independen tidak pernah bosan saya mengingatkan bahwa produk investasi mengandung risiko. Ingat istilah High Risk High Return kan? Kira-kira artinya ya semakin tinggi hasil investasi yang kita dapatkan maka semakin tinggi risikonya. Pertanyaanya, kalau gitu apabila kita ingin mendapatkan hasil investasi yang tinggi berarti kita harus menanggung risiko yang tinggi juga donk? Satu hal yang harus selalu kita ingat adalah bahwa tidak ada satu pun investasi yang tidak memiliki risiko 100 persen. Oleh karena adanya risiko inilah, maka dari itu kita harus melakukan analisa sebelum berinvestasi untuk meminimalkan atau menurunkan risiko investasi tersebut (bukan menghilangkan).
Salah satu teori untuk memperkecil risiko yang sering kita dengar dan sering dipergunakan adalah yang disebut dengan diversifikasi. Pasti pernah dengar donk istilah Don’t put Eggs in One Basket? Yang artinya adalah apabila kita memiliki banyak telur jangan menempatkan semua telur tersebut di dalam satu keranjang. Jadi kalau keranjang tersebut jatuh maka telur-telur tersebut tidak akan pecah semua. Sama dengan investasi. Untuk memperkecil risiko jangan menempatkan investasi kita hanya ke satu produk saja.
Investasi bisa dilakukan dengan menggunakan produk-produk investasi yang ditawarkan oleh institusi keuangan atau produk keuangan maupun menggunakan juga produk non-keuangan. Menggunakan kombinasi dari produk-produk tersebut juga ikut mengurangi risiko.
» baca selengkapnya
Financial Planner, Investasi, perencana keuangan, risiko
Jan
29
Kerja kolaboratif kerap didengungkan, tapi darimana kita mesti memulainya? Bagaimana orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang (pendidikan, pengalaman, profesi, cara berpikir yang berbeda-beda) mampu menyatu dalam kerja bersama yang menyenangkan?
Saat memulai kerja bersama, yang paling sulit ialah mengingatkan diri sendiri bahwa saya bukanlah satu-satunya sumber gagasan bagi tim. Kita mungkin kerap menyatakan, setidaknya di dalam hati, bahwa gagasan saya lebih baik dibanding yang lain. Ego individual biasanya sangat menonjol, terutama pada anggota tim yang sebelumnya memiliki kinerja terbaik. Ego individual lazimnya membuat pemilikinya memandang ‘sebelah mata’ anggota tim lainnya.
Dalam situasi seperti ini, tugas pertama pemimpin tim ialah memerangi mitos adanya inventor tunggal. Ia mesti mampu mendefinisikan kembali peran superstar. Superstar bukanlah bintang yang bersinar terang sendirian, melainkan seseorang yang cakap membantu orang lain agar berhasil. Dalam sebuah kesebelasan sepakbola, peran pemain yang memberi umpan (assist) sangat menentukan keberhasilan pemain yang mencetak gol. Umpan yang matang lahir dari pemain yang matang pula.
» baca selengkapnya
kolaboratif, saling percaya, tim
selanjutnya »