Enak di Blog dan Perlu

Digital, Ekonomi Bisnis

Selama sebulan ini, tak ada yang lebih menggoda ketimbang iklan iPhone 4S. Iklan itu menari-nari di halaman depan situs Tempo.co. “Cash back Rp 1 juta bagi 100 pembeli pertama,” begitu pesan yang tertulis di iklan tersebut. Benar-benar membuat hati berdebar, tak sabar menunggu antrean. Iklan itu tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah kisah di balik produksi “the most wanted handphone” di seluruh jagat itu.

Begini ceritanya: ada yang istimewa di Lembah Silikon Februari setahun silam. Untuk pertama kalinya Presiden Amerika Serikat Barrack Obama makan malam bersama CEO-CEO perusahaan komputer top dunia. Bukan santapannya yang istimewa, tapi diskusinya yang gayeng: penuh mimpi. Mungkin senikmat diskusi politik atau sepak bola di warung kopi di pinggir-pinggir jalan di Yogyakarta.

Sang tuan rumah adalah John Doerr. Namanya tidak seterkenal Steve Jobs atau Bill Gates. Tapi, dia orang penting di Lembah Silikon. Dialah yang menyuntikkan modal kepada perusahaan-perusahaan komputer inovatif. Dia berhasil mengajak Obama, bos Google Eric Schmidt, bos Apple Steve Jobs, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, saling curhat mulai dari soal game Zynga yang merajalela sampai soal iPhone.
» baca selengkapnya

, , , ,

burhan-blog

Krisis adalah kutukan bagi banyak pengusaha. Tapi tidak bagi Intel. Saat banjir menghantam Bangkok, Thailand, banyak perusahaan multinasional menangis. Pabrik hard disk Intel juga sekarat direndam air bah. Mereka kelimpungan. Sampai-sampai pendapatan Intel kuartal ini terjun bebas dari US$ 14,7 miliar menjadi US$ 13,7 miliar.

Tapi krisis tidak dibiarkan oleh Intel melarutkan semua laba. Tiba-tiba terbetik ide di kalangan insinyur Intel, mengapa tak mengembangkan produk yang tak memakai hard disk? Eureka! Tiada hard disk, SSD pun bisa. SSD atau solid state drive adalah tempat penyimpanan data yang berbeda dengan hard disk. Dia tak punya cakram atau magnet. Penyimpanannya memakai cip atau seperti flash disk.

“Krisis tak pernah dibiarkan melarutkan pendapatan Intel,” begitu koran Wall Street Journal menulis. Ya, Intel pun serius mengembangkan produk berbasis SSD. SSD ini lebih mahal 10 kali ketimbang hard disk, tapi lebih irit baterai. Kebetulan krisis di Thailand itu klop dengan roadmap Intel, yang ingin membangkitkan kembali bisnis laptop. Maka, jadilah ultrabook, laptop tipis, ringan, tapi kualitasnya tak kacangan, seperti netbook.

“Kami ingin memanfaatkan situasi ini sebagai sebuah peluang,” demikian pejabat Intel berbicara dengan pede.
Pasar laptop sebelumnya memang sempat merana. Mereka dipukul oleh demam penggunaan netbook. Setelah itu, datang lagi tren menggunakan komputer tablet. Pasar laptop nyaris babak belur.

Belakangan, banyak orang yang membeli tablet sadar bahwa mereka tak bisa berbuat banyak dengan tabletnya. Mereka butuh laptop setipis tablet, tapi dengan kinerja bagus. Maka saat Apple dan Intel meluncurkan ultrabook pertama, yakni MacBook Air, orang pun berduyung-duyun membelinya.

Intel terjun ke zona bisnis yang, menurut istilah pemasaran, masih “blue ocean”, sedikit rival dan banyak peluang. Rival-rival mereka, seperti AMD atau Texas Instrument, belum melirik pasar ultrabook ini. Inilah hebatnya Intel, mengubah krisis menjadi peluang.

Kini pasar telah melihat bisnis ultrabook menggeliat. Setelah MacBook Air hadir, datang Acer S3, disusul Asus Zenbook UX31, dan Lenovo Ideapad U300S. Modal mereka tak cuma semangat atau model bisnis “me too” (ikut-ikutan). Kisaran harga ultrabook ini dari Rp 8 jutaan sampai Rp 15 jutaan. Angka itu berkali-kali lipat dibanding netbook. Segmen peminat netbook dan ultrabook ini memang berbeda, seperti bumi dan langit. Netbook kebanyakan diminati oleh mahasiswa, sedangkan ultrabook kebanyakan digunakan kalangan profesional. Jadi ultrabook tak akan mengambil pasar netbook, juga tak melahap pasar tablet.

“Permintaan akan laptop tetap tinggi,” kata Stacy J. Smith Direktur Keuangan Intel.

Acer juga menyimpan rasa optimistis yang sama. “Bisnis ini masih bersinar,” kata Chief Executive J.T. Wang. Para pejabat Acer malah percaya gabungan antara ultrabook dan kehadiran software baru, Windows 8, akan menjadi sumber uang baru.
Era laptop yang tebal, berat, dan baterai boros mungkin akan bergeser. Ya, seperti lirik lagu Adele yang terkenal, Someone Like You, “You know how the time flies. Only yesterday was the time of our lives….” Hidup sekarang sudah sangat berbeda dengan kemarin. Selamat datang ultrabook.

, , ,

burhan-blog
Indonesia adalah fenomena menarik. Meski terbelakang, namun di mata para pengelola dotcom atau perusahaan telco dunia Indonesia adalah pasar menarik. Orang sudah lama tahu Indonesia nomor dua dalam soal jumlah pengguna Facebook dunia, dan no 3 dunia dalam soal penggunaTwitter.

BlackBerry juga bergantung pada pasar Indonesia. Mereka di Cina dan India menabrak tembok aturan dan sulit berkembang. Di Amerika Serikat pasar mereka terus turun. Di Indonesia penggunanya sebentar lagi akan mencapai 4-5 juta orang. Masih banyak data-data menarik lainnya yang dicermati. Berikut ini sebagian data yang menunjukkan orang-orang Indonesia begitu sangat gandrung dengan internet, sosial media, dan ponsel. Sebagian datanya out of date seperti jumlah follower artis Sherina Munaf yang mencapai 1,3 juta orang (sekarang jumlahnya sudah di atas 2,4 juta orang.

,

‘Nitip dapet barang, dititip dapet tip’. Tagline yang diusung oleh bistip.com itu menandai masuknya ‘nilai bisnis’ ke dalam kebiasaan yang lazim kita lakukan: nitip barang ke teman yang bepergian. Sifatnya yang lebih personal ketimbang jasa kurir profesional membuat modifikasi yang dilakukan bistip.com ini menarik.

bistip-21Kalau kita bepergian ke suatu kota, di dalam atau di luar negeri, mungkin ada teman yang menitip barang untuk disampaikan ke orang lain. Ada juga yang nitip dibelikan sesuatu dari kota yang kita kunjungi. “Kalau gak repot, tolong ya titip belikan kain tenun Songket Palembang.” Asyiknya, di samping dapat kain (tentu kita bayar), kita dapat pula oleh-oleh pempek gratis.

Willy Salim dan kawan rupanya cukup jeli melihat peluang bisnis di dalam kebiasaan ini. Bersama teman-temannya, ia mentautkan kebiasaan ini dengan keunggulan yang dimiliki teknologi internet. Lewat situs bistip.com, mereka menghubungkan siapa saja yang ingin titip-menitip barang dengan siapa saja yang hendak bepergian.

» baca selengkapnya

, ,

viral-video
Katie Clem bukanlah sutradara. Dia juga tak pernah masuk sekolah seni. Dia cuma ibu rumah tangga biasa dengan dua anak. Pada suatu hari dia mendatangi putrinya, Lily, yang hari itu berulang tahun pada usia 6 tahun. Itu bukan sebuah peristiwa luar biasa bukan?

Katie datang dengan kado ransel Barbie. Di dalamnya ada hadiah-hadiah berupa buku, kaus panjang, dan rok. Semua berbau Disney. Lily bersorak girang. Katie merekam detik demi detik Lily membongkar ransel hadiah itu serta reaksi bocah kecil yang lucu saat Katie mengabarkan bahwa hadiah terbesar ulang tahun itu adalah perjalanan ke Disneyland. Ini juga bukan “sesuatu banget”, bukan?

Video berdurasi 2 menit 57 detik itu baru menjadi “sesuatu” setelah diunggah ke YouTube dan kemudian menyebar hebat seperti virus. Orang pemasaran biasa menyebutnya viral marketing.
» baca selengkapnya

, ,

selanjutnya »