Mar
28
Salah satu cara untuk mampu bertahan dalam lingkungan bisnis yang berubah ialah bertindak adaptif. Strategi inilah yang ditempuh oleh Encyclopaedia Britannica, Inc. Dengan menghentikan edisi cetak ensiklopedi termashur di dunia tersebut, dan fokus pada format digital, penerbit ensiklopedi ini berikhtiar meraih tujuan jangka panjang.

Edisi pertama Britannica
Edisi terakhir Encyclopaedia Britannica sebanyak 32 volume terbit pada 2010. Pengumuman penghentian produksi edisi cetak itu mungkin akan menjadikan edisi terakhir itu sebagai ‘produk kenangan’ yang diburu orang karena layak koleksi. Harga di pasar mungkin saja akan merangkak naik, karena ini merupakan edisi cetak terakhir.
Dengan fokus pada edisi online, yang selama ini sebenarnya sudah dirintis, Britannica akan berhadapan head-to-head dengan Wikipedia. Menarik bahwa kedua ensiklopedi ini mewakili watak yang berseberangan. Untuk dapat mengakses kandungan materi Britannica, kita harus membayar; sedangkan Wikipedia gratis. Britannica diawaki oleh sekitar 100 editor penuh waktu dan lebih dari 4.000 kontributor yang digaji, sedangkan Wikipedia dihidupkan oleh relawan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.
Mampukah Britannica bertahan dengan strategi adaptifnya ini?
» baca selengkapnya
Encyclopaedia Britannica
Mar
24
Minggu ini, yang menjadi ‘newsmaker’ di koran dan televisi bukanlah seorang selebritas, melainkan serangga yang punya nama keren, ‘tomcat’. Serangga ini menyerbut berbagai wilayah di Jawa dan telah menimbulkan masalah kesehatan pada ratusan orang. Gatal-gatal dan iritasi.
Pakar mengatakan, habitat asli serangga bernama Latin Paederus riparius ini adalah sawah. Serangga ini disebut sahabat para petani lantaran memangsa hama wereng yang kerap memakan padi. Hewan sejenis kumbang ini, menurut pakar, terbang ke tempat-tempat lain karena tanaman padi berkurang. Serangga ini perlu makan sehingga mencari habitat baru agar bisa bertahan hidup, antara lain dengan berkunjung ke pemukiman penduduk.
Ini bukan pertama kalinya serangga menyerbu pemukiman penduduk. Sebelumnya, yang menjadi ‘newsmaker’ ialah ulat bulu. Meledaknya populasi serangga, menurut pakar juga, kemungkinan akibat ketidakseimbangan ekosistem. Saat sawah dan kebun berkurang, habitat serangga terdesak, tapi populasinya bisa meningkat.
Serbuan serangga ini mengingatkan saya pada karya Edward Tenner yang berjudul Why Things Bite Back. Dalam buku yang terbit tahun 1997 ini, Tenner memperkenalkan dan menjelaskan istilah “Revenge Effect” alias efek balas dendam. Gagasannya seperti ini: setiap kemajuan teknologi membawa kepada konsekuensi yang paradoksal dan tidak diniatkan. Konsekuensi buruk ini bagaikan suatu bentuk ‘balas dendam’ kepada manusia karena keseimbangan ekosistem alam terganggu.
» baca selengkapnya
efek balas dendam, pestisida, tomcat
Mar
15
Siapa tak kenal Stephen King? Sangat mungkin ada yang tidak mengetahui nama pengarang Amerika yang sangat popular dengan spesialisiasinya dalam kisah-kisah thriller itu. Beberapa tahun yang lampau, yang tidak mengenal namanya jauh lebih banyak, termasuk penerbit di negeri Paman Sam itu.
Ada suatu masa ketika tulisan-tulisan King ditolak oleh penerbit. Setiap kali ditolak, surat penolakan tidak ia buang, melainkan ia paku di papan yang tergantung di dinding rumah. Makin lama, surat penolakan makin banyak hingga akhirnya paku itu tidak kuat menahannya. “Aku menggantinya dengan paku beton yang lebih kuat dan terus menulis,” kata King.
Buku pertama John Grisham terbit setelah ditolak oleh lebih dari 30 penerbit. Sementara, Seth Godin, yang dikenal dengan gagasan-gagasannya yang unik, mengaku memperoleh 950 surat penolakan sebelum bisa menjual buku pertamanya.
Ketiga nama tadi kini mashur hingga di sini. Apa yang ingin disampaikan oleh Richard St. John dengan kisah mereka tak lain adalah penolakan jangan sampai mematikan semangat untuk meraih keberhasilan. “Anggaplah penolakan itu sebagai lencana kehormatan,” tulis John dalam bukunya yang inspiratif, To Be Great (Gramedia, 2011).
» baca selengkapnya
sukses, To Be Great
Mar
9
Dalam karyanya yang sangat mashur dan laku keras, The Brief History of Time, ilmuwan Stephen Hawking berusaha keras tidak menampilkan satupun persamaan matematis agar karyanya benar-benar renyah dicerna oleh publik non-akademis. Guru besar di Cambridge University itu nyaris berhasil, kecuali satu persamaan yang ia tak bisa hindari, yakni E = mc2. Namun itu tak mengurangi kenyamanan membaca The Brief, karena Hawking piawai dalam menjelaskan persamaan sederhana itu dalam bahasa yang relatif mudah dipahami oleh kebanyakan orang.
Persamaan yang diciptakan oleh Albert Einstein itu memang hanya terdiri atas 3 huruf (E, m, c), 1 angka (2), dan satu penanda (=), tapi di dalamnya terkandung kekuatan yang sangat dahsyat. Esensinya, di dalam setiap massa terdapat kandungan energi yang hebat. Sangat mengesankan bahwa di dalam rumus yang ringkas itu tersimpan makna yang besar. Persamaan yang diperkenalkan Einstein pada 1905 ini boleh jadi merupakan persamaan ilmiah yang paling dikenal di dunia.
Persamaan Einstein bukan sekedar mengandung kebenaran ilmiah, tapi juga keindahan tak ubahnya puisi. Saya rasa benar kata filosof Bertrand Russell, bahwa ‘matematika memiliki bukan hanya kebenaran, tapi juga keindahan yang tinggi.’ Di dalam persamaan yang ringkas termampatkan makna yang besar. Di dalamnya terkandung pengetahuan yang dapat diterapkan dalam setiap konversi dari massa suatu materi menjadi energi.
Ada banyak persamaan matematis lain yang menggambarkan kebenaran sekaligus keindahan serupa, sebagaimana disajikan dalam buku It Must be Beautiful. Karya yang disunting oleh Graham Farmelo ini (dan edisi Bahasa Inggrisnya sudah lama terbit) menghimpun 11 esai yang ditulis oleh sembilan guru besar, di antaranya peraih Nobel fisika Steven Weinberg, dan dua orang jurnalis sains. Seperti halnya Hawking, mereka berusaha menyajikan keindahan yang tersembunyi dalam rumus-rumus ilmiah ini dalam bahasa yang relatif mudah dimengerti.
» baca selengkapnya
keindahan, persamaan matematis
Feb
29
Selain Isaac Newton karya James Gleick, buku biografi ilmuwan mana yang menarik? Banyak. Beberapa di antaranya ialah biografi Leonardo da Vinci, Galileo Galilei, John Nash, Stephen Hawking, Richard Feynman, Charles Darwin, dan Albert Einstein. Saya rasa masih banyak lagi, tapi itulah beberapa nama yang pengisahannya begitu menawan.
Sains Leonardo (Jalasutra, 2010) mengisahkan kehidupan Leonardo da Vinci, seorang jenius asal Florence, Italia. Fritjof Capra, fisikawan yang menulis buku ini, sanggup menyalakan api hidup dan kehebatan karya tokoh Renainsans Eropa ini.
Orang mungkin lebih mengenal Leonardo sebagai pelukis—siapa yang tak pernah mendengar Monalisa? Tapi lelaki ini punya sisi lain yang jarang diungkap. Walaupun ia meninggalkan buku-buku catatan tebal dan penuh diskripsi rinci tentang eksperimen-eksperimennya, gambar-gambar cemerlang, dan analisis mendalam atas temuan-temuannya, namun hanya ada sedikit buku tentang sains Leonardo.
» baca selengkapnya
Galileo Galilei, John Nash, Leonardo da Vinci
« sebelumnya — selanjutnya »