Aug
15
Qaris
Semalam saya menonton Nyai Ontosoroh, sebuah pentas teater yang diangkat dari novel Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia. Kepopuleran novel itu dan juga tampilnya Happy Salma sebagai sang Nyai membuat pementasan ini dipadati penonton selama tiga hari pementasan. Seorang kawan yang nekat go-show di malam pertunjukan harus gigit jari karena tiket sudah habis, bahkan seminggu sebelumnya.
» baca selengkapnya
Apr
16
Burhan Solihin

Tempo dan Koran Tempo beruntung memiliki orang yang suka banget dengan kata. Hidupnya benar-benar dihabiskan untuk mengulik dan menjumput kata-kata. Dia sering menyebut dirinya kutukata. Mejanya selalu terbenam dengan tumpukan buku-buku, sumber kata yang tak pernah habis ia gali.
Sang penyelam kata-kata itu adalah Dian Basuki. Om Di, begitu kami memanggilnya. Salah satu temuannya yang spektakuler adalah “Pada Mulanya adalah Kata” yang terbit pada Koran Minggu.
Secuil kata-kata yang ia kumpulkan dari selebritis, mafia, novelis, penyair itu bisa menjadi segelas inspirasi yang menyejukkan atau menjadi lentera yang menerangi jalan hidup, persis seperti Sabda Nabi. Lihatlah kata-kata berikut:
“Kesakitan pikiran lebih buruk daripada kesakitan tubuh.”
–Publilius Syrus (Penulis dari Zaman Romawi, abad pertama SM)
Atau simak juga pengembaraan Om Di hingga sampe ke model cantik dan langsing (kalau tak bisa disebut kurus kering) ini….:
“Merasa letih adalah dosa.
–Kate Moss (Model, 1974-…)
» baca selengkapnya
Mar
14
Nur Hidayat
Novel yang memenangkan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006 itu berjudul Hubbu. Karya Mashuri, 31 tahun, itu mengungguli 248 naskah lain dan berhak memperoleh hadiah utama Rp 20 juta.
Profil wartawan surat kabar Memorandum, Surabaya, itu dimuat Koran Tempo edisi hari ini di halaman Seni (C-3).
Hubbu berasal dari bahasa Arab yang berarti cinta. Novel itu berkisah tentang perjalanan hidup Jarot, nama panggilan tokoh Abdullah Sattar. Beberapa orang teman dekat Mashuri menyatakan novel ini sebagai biografi sang penulis.
Barangkali saya hanyalah satu dari sekian banyak pembaca yang ingin memperoleh banyak hal begitu membaca novel ini jika beredar di pasar kelak. Atau, bisa jadi, lagi-lagi saya akan menemukan novel yang disusun dengan cara yang membuat saya malas menuntaskan untuk membacanya sebagaimana beberapa novel yang susul menyusul menyerbu pasar belakangan ini.
Novel-novel itu disesaki diskripsi dengan bahasa yang genit tentang sesuatu yang sebenarnya tidak ada kaitannnya dengan isi novel, baik dari segi karakter tokoh ataupun plot. Sang novelis ingin menunjukkan bahwa ia banyak membaca, banyak jalan-jalan, atau banyak nonton. Tapi, kalau deskripsi itu tak mendukung plot atau menguatkan karakter tokoh dalam novel itu, buat apa?
Mar
12
Nur Hidayat
Ketika mendatangi Taman Ismail Marzuki, saya seperti kembali ke masa kanak-kanak yang indah. Ini terjadi ketika saya meliput pameran karya sembilan komikus lokal untuk rubrik “Seni dan Budaya” di Koran Tempo yang akan terbit besok.
Maklum, komik adalah media yang mendorong saya untuk berfantasi secara liar ketika masih kanak-kanak. Adegan-adegan dalam komik itu, kemudian saya praktekkan ketika bermain-main dengan teman di kampung saya, Dukuh Sriyanto, Kelurahan Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Sehabis membaca Cerita dari Lima Benua tentang penemuan benua Amerika, misalnya, saya kemudian berlagak menjadi Christopher Columbus. Ketika membaca Tintin, saya pun pura-pura jadi Kapten Haddock. Tapi, tentu saja saya mengarang secara ngawur tentang karakter tokoh itu. Nah, inilah fantasi liar yang kini saya rasakan banyak manfaatnya ketika harus menulis atau mengedit tulisan, baik untuk berita, artikel, ataupun skenario.
Hmmm… dunia memang sudah berubah. Kini, anak-anak saya punya jauh lebih banyak tokoh yang mereka kenal terutama lewat televisi. Tokoh itu bisa dikenal tanpa susah-susah membaca dan tanpa susah-susah membayangkan bagaimana mimik mukanya, gerakan tubuhnya,…
Mar
2
Qaris
Hari ini Java Jazz kembali digelar (Koran Tempo, 2 Februari 2007). Asyiknya… terutama untuk mereka yang sudah mengantungi tiket. Sepertinya sudah dalam dua pekan ini omongan orang se-Jakarta adalah soal festival jazz tahunan ini. Bahkan tadi pagi, dalam rapat perencanaan rutin di Koran Tempo, pemimpin redaksi kami mengungkapkan kebingungannya karena belum mendapatkan tiket untuk putri tercintanya yang baru kelas 5 SD yang merengek minta dibawa ke sana.
» baca selengkapnya