Mar
10
Burhan Sholihin
Kematian mahasiswa Indonesia yang dituduh menusuk profesornya di Singapura, David Hartanto Widjaja melahirkan diskusi baru. Bukan cuma soal apakah David Hartanto memang benar membunuh profesornya atau malah dia menjadi korban?
Hal lain yang mengejutkan justru soal sistem pendidikan di NTU Singapura. Benarkah pendidikannya terlalu keras? Seorang blogger yang juga alumni di sana, Margaritta, menuturkan dengan lugas di tulisan yang berjudul “An Hour from Home, Thousand years from Heart”.
Tulisan di blog itu begitu menyentuh. Menggambarkan betapa kerasnya kehidupan di NTU, sampai-sampai mahasiswa di sana ada saja yang berusaha bunuh diri denga meloncat ke rel kereta, membenturkan kepala ke kaca atau masuk rumah sakit jiwa.
Anda bisa melongok tulisan selengkapnya di blognya. Berikut cuplikannya:
Mengapa Margarita mengatakan I WAS DAVID? Inilah penuturannya yang lain:
“Di Singapura, kami dijamu oleh kamar asrama. Kami mendapatkan kamar yang bersih, air listrik-microwave sepuasnya, plus internet 100mbps. Fasilitas sekolah sangat baik. Beberapa dari kami menjadi asisten dosen, digaji untuk belajar dan riset dengan materi tercukupi.
Sayangnya, terkadang terlupakan bahwa bakat itu melekat pada seorang manusia. Kami dilihat hanya berdasarkan apa yang dapat kami hasilkan, bukan sebagai anak manusia. Hak paten apa yang bisa kami hasilkan? Tulisan untuk jurnal mana yang bisa kami terbitkan? Dapatkah penghasilan kami meningkatkan pendapatan nasional?
Terlebih gue bukan warga negara, itu artinya gue dan orangtua gue tidak pernah menyumbangkan pajak guna membangun negara. Jadi ketika gue menikmati majunya negara Singapura, gue dituntut untuk ‘membayar’ lebih dari warga-negara biasa, dengan semakin berprestasi dan mengharumkan nama universitas seharum-harumnya.”
.
Di luar kematian David dan kerasnya NTU yang dituturkan Margarita itu ternyata masih banyak kasus kematian-kematian yang nestapa lainnya di NTU. Ini di antaranya: Seorang Lagi Gantung Diri.
Mestinya mahasiswa-mahasiwa Indonesia yang di NTU bikin buku putihnya soal kematian-kematian nestapa itu. Siapa yang berminat memulai?
Setelah membaca tulisan-tulisan itu saya jadi mafhum, mengapa tak semua siswa pintar mau masuk NTU.
|
Geger. Seorang mahasiswa NTU bunuh diri setelah menikam profesornya sendiri. Tidak seperti di Indonesia dimana minimal terjadi 3 pembunuhan sehari, kisah ini akan menjadi berita utama di koran Singapura. Apalagi pelakunya orang Indonesia.
|
|
Sontak gue mendapat telpon sana-sini dari rekan satu sekolah yang kini telah jadi jurnalis di negeri Singa. Apakah gue kenal David? Seperti apa orangnya? Menurut loe motifnya apa? Gue ga kenal David. Punya fotonya juga tidak. Tapi gue akan bilang, I was David.
|
|
|
David Hartanto, mahasiswa tusuk profesor, Nanyang Technologies University, NTU
Feb
27
Nur Hidayat
Bengkel mobil sudah jelas jadi tempat untuk memodifikasi mobil. “Vermak Lepis” milik Mang Juha di pojok Pasar Senen, juga sudah jelas jadi tempat untuk memodifikasi celana jins.
Nah, dimana tempat memodifikasi setan? Jawabnya adalah gedung bioskop! Kenapa?
Lihat saja film-film yang kini menjejali gedung bioskop di Tanah Air. Modifikasi atas berbagai bentuk setan itu telah diperlihatkan dengan canggihnya, bukan oleh dukun, tapi oleh para kreator film kita. Mulai dari Hantu Jeruk Purut, Bangku Kosong, Kuntilanak, Hantu Ambulans, sampai yang paling mutakhir: anaknya kuntilanak dalam Kuntilanak Beranak. » baca selengkapnya
film, hantu, setan
Feb
23
Burhan Sholihin
Sejarah tak pernah mau menunggu. Saat waktunya tiba, ia akan menorehkan penanya segera. Lihatlah masa gelap Eropa sebelum Johannes Gutenberg membikin mesin cetak pertama pada 1454. Di Eropa saat itu hanya ada 30 ribu buku. Setelah 46 tahun lelaki dari Mainz, Jerman, ini melahirkan mesin cetak, Eropa memiliki koleksi buku sebanyak sembilan buku.
Sejarah tak mau menunggu. Angin perubahan datang bersama waktu. Sejarah adalah “makhluk” yang tertib, disiplin.
Perilaku sejarah yang super-duper disiplin itu bergulir hingga kini. Saat Bill Gates menyodorkan cara baru berkomputer, Internet menyita separuh kesibukan orang-orang masa kini, dan Mark Zuckerberg mengubah gaya hidup 180 derajat dengan Facebook, sejarah juga datang dengan begitu disiplin.
Salah satu yang ditorehkan dari sejarah kemajuan teknologi digital ini adalah matinya jurnalisme analog. Koran dan majalah bertumbangan. Koran sebesar New York Times pun kini bisnisnya meleleh tergerus online. Time sampai menulis dua berita bernada muram yang berjudul “Bagaimana Konglomerat Carlos Slim Menyelamatkan New York Times” dan “Bagaimana Menyelamatkan Koran Anda”.
» baca selengkapnya
Facebook, google, koran, new york times
Nov
25
Mardiyah Chamim
Sepekan yang lalu saya berkunjung ke Meulaboh, Aceh Selatan, melihat perkembangan Aceh setelah empat tahun tsunami. Kali ini saya menumpang pesawat ringan milik armada Susi Air, dengan rute Medan - Nagan Raya, Meulaboh.
Siang itu hari cukup cerah. Panas terik malah. Saya rada grogi waktu menyaksikan pesawat jenis Grand Cessna Pk-VVF prakir di bandara Polonia. Ramping tubuhnya. Sayapnya tampak lebih panjang dibanding sayap pesawat ringan jenis yang lain.
Apa iya si kecil ramping ini sanggup membawa kami, 12 penumpang, menuju Meulaboh? Begna, staf Unicef di Meulaboh, juga penumpang, menenangkan saya. “Rileks, pesawat Susi Air dikenal lebih aman dibanding Merpati. Peralatan navigasinya canggih,” kata Begna. “Kau lihat sayap yang lebih panjang, itu menandakan secara aeronotika dia lebih aman.” Hm, oke deh…
» baca selengkapnya
Nov
5
Mardiyah Chamim
Kali ini saya akan membahas lagu First of May yang ditulis oleh Bee Gees pada 1968. Ini salah satu lagu favorit saya. Terdengar indah, apalagi jika yang melantunkan adalah Mbak Sarah Brightman yang cantik bersuara bidadari. Waduh. So beautiful and sublime.
Di sela musik yang tidak hingar-bingar, lagu ini dengan ajaib merembes ke hati. Betapa tidak, dia bercerita tentang sesuatu yang berharga yang kita miliki (christmas tree, bisa bermakna cinta atau apa pun yang luar biasa bagi kehidupan seseorang), yang begitu kita hargai di masa muda. » baca selengkapnya