Enak di Blog dan Perlu

Agama, media sosial

Di Facebook saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki. Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya.

Kalau pun ada Tuhan di Facebook, itu adalah akun dan  fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan. Hal yang sama terjadi di Twitter.

Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.

Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger,  dan tweet) dalam bentuk doa.

Kenapa orang berdoa di Facebook dan Twitter, jika Tuhan tak ada di media sosial?

» baca selengkapnya

Sebagaimana bukunya yang terdahulu, Sejarah Tuhan (A History of God), judul buku Karen Armstrong ini juga menyodorkan impresi yang menggedor: Masa Depan Tuhan (meski judul edisi Inggrisnya: The Case for God). Apakah Tuhan memiliki sejarah dan karena itu juga mempunyai masa depan? Yang artinya Tuhan terikat oleh waktu: kemarin, sekarang, dan mendatang?

Karen tidak masa-depan-tuhan-armstrongberbicara dalam pengertian seperti itu, melainkan ia mengajak kita menyusuri bagaimana manusia memahami Tuhan di masa lampau hingga masa sekarang. Buku setebal 608 halaman ini (Mizan, 2011) mengisahkan bagaimana manusia mengonsepsikan Tuhan. Di masa budaya pra-modern, mitos dan logos menempati peran penting dalam cara manusia memikirkan dan meyakini Tuhannya. Peran mitos semakin berkurang ketika manusia memasuki zaman modern yang bertumpu pada rasionalitas ilmiah.

Karen mengutarakan pandangan yang menarik ketika menyebutkan bahwa tafsiran yang dirasionalkan atas agama ternyata melahirkan dua fenomena modern yang sangat khas, yakni fundamentalisme dan ateisme. Namun, walau pun saling berkait, kedua fenomena ini berada pada posisi berseberangan.

» baca selengkapnya

,

Cucu Adam: Ini semua gara-gara sampean, Mbah.

Adam: Loh, kok tiba-tiba aku disalahin.

CA: Lah iya, gara-gara sampean dulu makan buah terlarang, aku sekarang merana. Kalau sampean dulu enggak tergoda Iblis kan kita tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tingggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di negara terkorup, sudah gitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu?

A: Yo mbuh, sudah lupa. Kejadiannya sudah lama banget. Tapi ini bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya. » baca selengkapnya

Hari ini, entah untuk keberaparatuskalinya, saya kesal dengan iring-iringan pengantar jenazah (saya yakin Anda juga pernah merasakan kekesalan yang sama). Di tengah kemacetan lalu lintas yang luar biasa, ketika kita mengantri dengan sabar di lampu merah, tiba-tiba segerombolan sepeda motor yang dikemudikan orang tak memakai helm, dengan orang yang dibonceng membawa bendera kuning, meminta semua kendaraan berhenti. Seperti layaknya polisi lalu lintas, mereka mengacuhkan lampu merah dan menghardik siapa saja yang berani melawan. Benar, mereka bahkan lebih galak dari polisi. Lalu di belakangnya beriringan mobil-mobil yang dipacu kencang, Metro Mini sewaan yang penuh penumpang, dan mobil jenazah dengan sirine yang menguing-uing. Mereka lebih istimewa dari mobil ambulance pembawa orang sakit. » baca selengkapnya