Oct
19
Terjemahan Yang Menyiksa
Pop! Sebuah kotak kecil mendadak muncul di layar komputer. Seorang editor yang sudah lama tak mengontak menyapa saya di kotak chatting Facebook.
“Hi. Kemarin katanya protes soal terjemahan ya?”
Beberapa pekan sebelumnya saya memang mengeluhkan sebuah novel ke penerbitnya karena keasyikan membaca terganggu di beberapa bagian karena penerjemahan yang kurang bersih. Biasanya kalau terbentur maka saya coba menerka kata atau kalimatnya dalam bahasa Inggris. Nah kali itu saya sama sekali tak bisa membayangkan versi bahasa Inggris dari novel terjemahan itu dan akhirnya ada pragraf-paragraf yang terpaksa saya lompati karena tak bisa mencerna maksud kalimat-kalimatnya.
Si editor bercerita ia harus mati-matian mengedit hasil naskah terjemahan yang diterimanya. “Sama aja kayak nerjemahin ulang,” ujarnya.
Buku terjemahan baik fiksi maupun nonfiksi memang sangat bergantung pada kualitas terjemahannya. Berkali-kali saya mendengar keluhan pembaca soal buruknya terjemahan sampai-sampai memilih menabung dan membeli versi bahasa Inggris dari buku itu.
Masalah terbesar, menurut saya, penerjemah kadang hanya mengalihbahasakan naskah tanpa mau kerja ekstra mengecek terjemahannya. Seorang kawan pernah mengeluhkan penerjemah yang ia sewa seenaknya menerjemahkan stadiun markas klub sepakbola Manchester United, Old Trafford, menjadi Trafford Tua. Ya ampun!
Saya pun menemukan dalam terjemahan novel bestseller internasional terdapat kalimat “Mana aura institusinya?”. Penerjemahnya ringa saja mengalihbahasakan kata “institution” menjadi “institusi” tanpa menangkap kata tersebut sebenarnya punya makna konotasi.
Kalimat itu disampaikan tokoh novel yang ketika tiba di sekolah barunya. Beberapa sekolah di Amerika Serikat punya pengamanan ekstra ketat termasuk memasang detektor logam di pintu masuk demi mencegah ada siswa yang membawa senjata. Karenanya sekolah sudah terasa seperti penjara dimana hotel prodeo sering diistilahkan “institution”. Kekeliruan itu sebenarnya bisa diatasi semudah tanya paman Google, sering menonton film, atau ya banyak membaca buku..
Parahnya kesalahan itu bisa lolos dan sampai ke tangan pembaca. Penerbit bisa berkilah namun pembaca tak pernah peduli akan prosesnya dan cuma mau tahu hasilnya.
Tempo, tempat saya bekerja, memiliki proses naskah yang panjang demi menjamin kualitas hasil tulisan. Sebuah Berita yang ditulis reporter baru sampai di tangan pembaca setelah melewati paling tidak dua kali proses penyuntingan, lalu masuk ke editor bahasa, lantas dibaca lagi secara berlapis oleh redaktur pelaksana sampai pemimpin redaksi.
Beberapa penerbit punya mekanisme mirip ini. Naskah terjemahan melewati editor dan juga editor bahasa dan masih ada proof reader.
Lantas kenapa tetap bobol? Editornya mungkin lupa kalau fungsinya bukan sekedar merapikan hasil ketikan yang salah tapi juga membuat kalimat demi kalimat runut, logis, dan bisa dicerna dengan mudah. Akan halnya novel yang saya keluhkan tadi, kata per kata mungkin benar terjemahannya namun ketika disatukan mereka menjadi kalimat yang tak jelas maknanya.
Beberapa buku memang cuma punya kesalahan kecil di sana-sini yang kalau beruntung bisa cetak ulang kadang diperbaiki. Tapi ada juga yang seperti novel legendaris karya penulis Iran yang suatu hari mampir ke meja saya.
Saya betul-betul tertarik setelah mencari informasi di dunia maya dan menemukan baik novel maupun novelisnya benar-benar fenomenal. Namun penerjemahannya, maaf, hancur lebur. Tanpa berhasil melewati bab pertama, novel itu langsung saya pinggirkan dan saya berlutut lalu berdoa semoga Tuhan mengampuni penerbitnya.
Saya lebih suka menandai atau memberi komentar di tiap kata yg saya kurang yakin terjemahannya. Mungkin semua penerjemah perlu begini.
Saya sepakat dg hal ini. Sering sy harus sebal sendiri gara2 buku yg sangat ingin saya baca, terjemahannya sangat buruk. Kualitas penerbit dlm hal ini sangat berperan. Penerbit besar (Gramedia,KPG) harus diakui lebih cermat dlm menjaga kualitas terjemahan.
Saya lebih baik membeli versi inggrisnya, tapi kan kasian teman2 yg senang membaca tp kurang memahami bahasa inggris… Novel2 terjemahan emang banyak yg ancurrr abisss…!
Penterjemahnya kejar setoran kali xD
terlepas dari deadline dan sebangsanya… terjemahan yang bagus akan membuat orang yang beneran suka baca buku untuk memilih buku terjemahan itu… minimal untuk alasan harga yang lebih murah…
kalau menterjemahkan apa saja tolong buat terjemahan yang benar benar simple dan jelas
Seharus nama atau “pronoun” seperti Old Trafford dibiarkan sahaja begitu. Saya baru saja mendengar panggilan Indonesia bagi New Zealand adalah Selandia Baru. Ada juga rasanya diri ini nak tergelak (ketawa), tapi sudah terikut-ikut, Amerika Serikat kami panggil Amerika Syarikat. Sebenarnya kami lebih banyak memanggilnya USA sahaja. USA atau Uncle SAM terus menjadi Paman SAM. Kah kah kah.
Mang Okta, can I help you translate? But my Indonesian is not up to par.
amin,,
Okta, aku bahkan pernah merasa TERTINDAS oleh terjemahan yang ngawur. Ini soal sebuah buku filsafat, salah satu kanon dalam sejarah filsafat, yang pastilah khatam dibaca oleh para sarjana filsafat. Karena buku ini buku lama, naskahnya dengan mudah bisa ditemukan di Project Guttenberg.
Nah, sebuah penerbit nekat menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia dengan mengerahkan–kalau tidak salah–dua penerjemah, tapi kayaknya si penerjemah tidak paham soal apa yang dibahasnya, sehingga lebih mudah membaca versi bahasa klingon-nya ketimbang membaca buku itu.
Jadi, aku ikutan:
I get down on my knees and pray…
[...] Diunduh dari Blog Tempo Interaktif Edisi 19 Oktober [...]
ada yang namanya “Terjemahan” ada yang namanya “Tafsiran/interpretasi” yang disesuaikan dengan lokalitas !
.
kalau terjemahan per kata saja masih bermasalah, apalagi men’terjemahkan’ satu paragraf yang isinya adalah hasil pengertian/pemahaman !
.
MASALAHNYA adalah : Banyak yang BERBAHASA INDONESIA SAJA MASIH BELEPOTAN -walaupun sudah bertitel/sarjana, dan Nongol-Nongol di TV blah blah…’presenter’ blah-blah…, pembawa berita blah-blah…, apalagi Menterjemahkan Bahasa Inggris/Itali/ Jepang dll. ke Bahasa Indonesia !
ditambah sifat malas mencari data/sumber-2 di literatur/kamus dll.
.
.
ada contoh:
“It’s like water under the bridge” (english)
artinya = “hal itu sudah berlalu dan situasi kini berbeda dan harus kulupakan”(bahasa Indonesia)
Tetapi orang-2 mungkin akan menterjemahkan sebagai = “seperti air di bawah jembatan”
halahahah
untuk lebih tepatnya, haruslah dijiwai bahasa Indonesianya dulu , dan difahami bahasa Inggris nya dulu, sehingga dalam contoh di atas bisa pula diterjemahkan dengan ungkapan PADANAN dari kalimat/ungkapan dalam bahasa Inggris tersebut dalam bahasa Indonesia !
.
Haruslah menjadi orang-2 yang mencapai berBudaya Lisan dan berBudaya Tulisan, kalau tidak, ya, menjadi santapan sinetron tolol dan yang membodohi… dengan berbengong-bengong di TV…blah-blah-blah…
.
maaf, ya, kalau tulisan ini terasa blak-blakan (yah daripada blah…blah…blah…)
.
~c.
terjemahan film-film asing di tv juga banyak yg hancur lebur
Beruntung bila memang punya kemampuan bhs inggris baik. Sayang bagi orang2 yang gemar membaca tapi kesulitan di bahasa inggris..
.
pro: Zulfi Ifani
Anda katakan “beruntung” (?), koq Zulfi Ifani bersifat seperti Penjudi kelas buueerraatt ! (hahaha…)
yang mengandalkan ‘untung’ alias’bejo’(o walang kekek, o walang kadung, toookeek, tookeek…!)
.
INGAT:
segala sesuatu kemampuan / belajar berangkat dari: kecintaan…,kemauan…,rajin memperhatikan…,bakat…
.
~chandra f ardjanggi.
Ternyata Bung Okta sangat menjiawi lagunya Boyz 2 Men…
~~~i’m down on bended knee~~~
.
pro: wandi,
“trust me, I won’t let you down !”
~c.
mungkin ongkos penerjemah sudah naik gara2 sembako naik.
Akhirnya saya menemukan jawaban mengapa saya sering malas membaca novel terjemahan…
Baca resensi kayaknya menarik, tapi setelah membeli terjemahannya, malah kecewa. Yang menarik, di toko buku novel terjemahan ini dibalut plastik, tidak boleh dibuka sebelum membeli.
Jadinya, seperti membeli kucing dalam karung, deh…
Ternyata, penerbit ada yang “emnipu” pembaca juga.
setuju sama syukriy
Soal terjemahan buku yang jelek, ini pasti penerjemahnya ga suka bukunya atau ga bisa ‘nangkep’ aura buku itu. Sy baru aja mau melamar sebagai penerjemah novel dan baru selesai membuat sampel terjemahan.
Ternyata suliiittt banget! Entah karena saya memang lulusan sastra, yang buat saya selalu membaca dari pemikiran sastra (hermenutik, diskurs, dll), tapi yg pasti saya harus baca berulang2 untuk dapet auranya.
Ini beda sekali sama pengalaman menerjemahkan film, yang sdh jadi profesi saya selama 2 tahun. Di film kita bisa ngerti lewat gambarnya, jadi aura cerita bs langsung dipahami. Belum lagi ada aturan setiap bar muncul 1-3 menit, lalu batas huruf tiap bar. Bener2 pengalaman yang beda.
Shinta, paling tidak dirimu punya usaha itu, sebagian penerjemah cuma pake piranti lunak penerjemah bahasa dan sama sekali tak melihat penerjemahan sebagai karya seni
saya juga sering membaca novel terjemahan yang kurang bagus, dan ada banyak kata yang salah cetak.
wuo, gondok sekali sama penerbitnya
karena penasaran aslinya, akhirnya menabung dulu untuk beli international versionnya. huhuhuuu..
urusan bahasa itu sebenaranya urusan kesepakatan bersama. ada pun kenyataan bahwa negara kita kadang menggilai Bahasa Negara Lain, itu lain soal. bisa jadi itu hanya perwujudan dari kesepakatan bersama yang belum terwujud. bahasa, awalah warisan tertinggi dari peradaban..
wah.. bagemana dengan sukma yang ga ngeh klo sudah baca terjemahan yang sampe bikin orang pada tergugah mendoakan penerjemahnya ya?