Jul
13
Evida tak lagi mengunggah masakan atau kue bikinannya di blog With Food and Love, Comes Warmth. Padahal lima bulan lalu ia rajin menulis resep masakan yang dicoba, lengkap dengan foto hasilnya. “Saya jadi malas menulis hasil masakan saya, malas mengisi blog, bahkan mengintip blog saya sendiri pun enggan.”
Maret lalu Evida kaget melihat sebuah buku resep yang tanpa permisi mengambil tulisan serta foto-foto di blognya. Apalagi, buku terbitan Surabaya itu bukan satu-satunya. Ia tak terlalu keberatan soal resepnya, toh ia sendiri mengutip dari sana-sini. “Tapi, enggak perlu mengambil foto-fotonya juga kan?” tulisnya.
Evida cuma satu dari banyak blogger yang resep ataupun foto masakannya dicuri penerbit. Mereka curhat di laman situs Facebook Lawan Pencurian Foto dan Konten Blog!.
Mereka inilah korban booming buku resep masakan. Mewabahnya tayangan memasak di televisi, mendadak membuat gairah menjajal aneka masakan melonjak. Buku resep pun diburu dan penjualannya sampai menyaingi novel-novel bestseller.
Seorang editor bahkan membisikkan beberapa penulis buku resep menangguk pembayaran royalti super besar. “Mereka tinggal duduk saja dan uang terus mengalir.”
Bukan cuma penulis yang diuntungkan, penerbit pun setali tiga uang. Buku jenis ini tak perlu repot mengolahnya, tak perlu repot menelaah kata dan kalimat. Tak perlu jadi juru masak berijazah pun asal datang bawa resep apalagi sekaligus foto contoh penyajian, naskah bisa diterbitkan. Bahkan patut diragukan apakah resep-resep tersebut sempat diuji coba karena saya belum pernah melihat kantor penerbit dengan dapur yang memadai buat memasak.
Fenomena buku masak ini bukan cuma di tanah air. Penerbit Bloomsbury yang kebingungan setelah serial Harry Potter habis pun beralih ke buku resep. Menurut Chief Executive Bloomsbury Nigel Newton, buku resep yang biaya produksinya murah menjadi jalan keluar kala tahun lalu krisis ekonomi memporak-porandakan keuangan perusahaan.
Namun masalah dalam dunia penerbitan selalu sama. Aliran naskah tak selancar yang diinginkan penerbit, padahal buat bersaing dalam genre ini ada dua syarat penting, yakni variasi menu dan terus-menerus menyuplai buku baru.
Sebuah penerbit yang bermarkas di Jakarta Selatan sebenarnya sangat tertarik meraup untung dari tren buku resep, namun mereka batal karena tak sanggup menyediakan banyak judul dalam waktu singkat. “Kalau cuma menaruh satu atau dua ya habis dilibas yang lain.”
Kebutuhan naskah yang tinggi itu memicu penjarahan resep dari sumber yang melimpah dan tak terlindungi dengan baik: blog. Bisa jadi penulisnya yang nakal sehingga penerbit mesti hati-hati betul menyeleksi naskah dan mengecek ulang terutama foto masakan yang dipakai dalam buku kalau tak mau tersandung aturan soal hak cipta.
Padahal daripada mencuri isinya, penerbit justru bisa menggandeng pemilik blog resep dan menerbitkan karya mereka daripada merampok. Pencurian karya hanya akan membuat semakin banyak blogger seperti Ervida yang enggan menulis lagi dan ujung-ujungnya penerbit malah akan semakin sulit mencari naskah buat diterbitkan. Penerbit yang bengal, sudah sepantasnya diberi pelajaran.
nasib penulis indonesia, kawan. sengsara betul!
mari mengubah nasib kalau tidak nanti malah merubah
setuju banget dengan kesimpulan akhir artikel ini. pasalnya, pernah ada seorang blogger yang ternyata sangat berterima kasih ketika kita tawar foto di blognya–sebab saat itu ternyata dia termasuk yang kena dampak krisis keuangan (AS). Bisa dibayangkan kalau sampai foto blognya itu kita curi begitu saja. Oh ya, hati-hati juga, kadang-kadang foto di blog/situs yang disebutkan sebagai “copyright free” ternyata diupload tanpa seizin pemilik dan/atau model foto….
Di sisi lain, narablog juga harus menghargai hak cipta pihak lain. Jangan asal comot gambar, misalnya.
mestinya Bu Evida gak perlu gundah, setiap perbuatan ada buahnya. perbuatan buruk berakibat buruk perbuatan barik berbuah kebaikan.
@tutuk @antyo setuju, blogger juga jangan mencuri konten dan foto
@eh mas / mbak (?) percaya amin hehehe
Bu Evida (atau blogger lain yang dibajak karyanya) apa tidak bisa bikin semacam “somasi”? Tulis di koran (rubrik surat pembaca) bahwa penerbit “bla-bla” telah menjiplak karya saya (=foto masakan) buktinya “ini-ini-ini”…
Saran Sri bisa dicoba itu, surati saja penerbitnya, kalau tidak ada itikad baik, ya keluhkan lewat surat pembaca, atau ke jalur hukum.
itung-itung nabung di akhirat, ikhlaskan saja, wong sudah terjadi. Seharusnya bangga, tidak perlu mengeluarkan uang untuk mencetak sebuah buku…..^_^
segala bentuk pencurian akan dilaporkan ke polisi, begitu isi peringatan di setiap minimarket indomaret. sudah waktunya diterapkan di setiap blog. dan laporkan setiap ada pencurian.
Lha kata siapa bikin buku harus keluar uang?
buat Awip, kalo nulis mikir dong…..
@awip
ikhlas ya silahkan, itu hak-nya yg punya blog
tp bikin buku (kecuali indi) gak prlu kluar duit kali, yg kluar duit tuh pnerbit (wlw ntr dpt duit jg)
soal bangga, kita musti bangga dr sisi mana?plg pol ya kita cm bs bangga krn karya kita trnyata layak utk terbit, udh gitu tok, soalnya pnerbit sm skali gak merangkul pnulis blog
Para penulis sebaiknya mematentkan hasil tulisannya agar tidak ada lagi tangan ceroboh yang mengambil dgn seenaknya
setuju AKI, hidup AKI!!!!
ya beginilah realitanya
marilah kita ubah realita itu Phery
biarkan aja diambil. relakan saja bu. Nanti ada rejeki dari Tuhan buat ibu, karena sudah membuat orang lain dapat rejeki lewat tulisan ibu. ke depan, tulislah sesuatu yang betul-betul sudah direlakan untuk dijiplak. Ok. peace semuanya!
ok baru tau foto resep masakan ada yg jiplak, ikut prihatin
Kebaikan akan dibalas kebaikan dan kejahatan akan dibalas kejahatan..kalo ibu sudah melakukan kebaikan pasti diganjar kebaikan oleh Alloh swt jadi ga perlu khawatir, semoga resep masakannya makin banyak manfaatnya saja buat keluarga indonesia