Enak di Blog dan Perlu

Salah satu aktivitas yang enak dikerjakan di akhir pekan ialah membaca novel. Jenis fiksi panjang ini membawa saya menjelajahi banyak sekali hal: kultur, bahasa, watak, nuansa, hingga kehebatan plotnya. Dalam membaca itulah saya merasa memperoleh pengayaan, bukan intelektual semata tapi juga ruhani.

Di tengah sedikitnya karya-karya fiksi baru dalam bahasa ibu, novel-novel terjemahan masih menarik untuk dibaca. Salah satunya yang relatif baru saya baca ialah Lust for Life. Novel karya Irving Stone ini mengisahkan kehidupan pelukis mashur Vincent van Gogh (saya menulis ulasannya untuk Majalah Tempo: Perjalanan Tekun Menuju Kegilaan).

Saya tidak memiliki novel ini dalam bahasa aslinya. Seandainya pun punya, belum tentu saya sanggup membacanya dengan lancar, sekalipun novel ini amat menarik. Banyak unsur lokalitas yang masuk ke dalam cerita ini—sesuatu yang saya rasa menjadi tantangan yang harus diatasi oleh penerjemah dan penyunting versi Indonesianya. Bagi saya, kehadiran versi Bahasa Indonesianya lumayan mengasyikkan. Imajinasi saya tentang hidup van Gogh cukup terbangun. Penerjemah dan penyunting berusaha menyajikan yang terbaik.

Sebagian kawan suka menyampaikan kesannya mengenai ‘susah’nya membaca novel terjemahan (Mereka bilang: Wah, mood membaca saya jadi hilang!). Karena itu, mereka lebih suka membaca versi aslinya dalam bahasa Inggris—entah bila versi aslinya dalam bahasa Spanyol atau Prancis, yang notabene jauh lebih sedikit yang menguasainya.

Kesan kawan-kawan itu dapat dimaklumi, sebab menerjemahkan memang bukan pekerjaan mudah, apa lagi fiksi—novel dan cerita pendek—serta puisi. Banyak rintangan yang mesti diatasi. Bila pengertian sudah dialihbahasakan, masih ada pilihan kata dan diksi yang sangat memengaruhi bagaimana emosi, suasana, nuansa terekspresikan. Nuansa yang dibangun oleh penulis mungkin mengalami distorsi pula. Dalam hemat saya, ada banyak hal dalam novel yang lebih dari sekedar plot. Penerjemahan sangat mungkin mengubah rasa.

Karena itu, dalam hemat saya, buku hasil terjemahan bukanlah buku yang sama persis dengan buku aslinya. Penafsiran penerjemah dan penyunting amat berpengaruh. Belum lagi jika bahasa Indonesia merupakan bahasa pengucapan ketiga. Contohnya, kumpulan cerita pendek Árpád Göncz yang diterjemahkan dengan bagus oleh almarhum Fuad Hassan dengan judul Pulang adalah versi bahasa Inggris (Homecoming and other stories) dari novel aslinya yang berbahasa Hungaria.

Peluang untuk membaca novel dalam bahasa aslinya (Inggris, dalam konteks ini) semakin terbuka. Kehadiran internet memungkinkan saya, juga Anda, mengakses naskah-naskah berbahasa asing dalam format digital (untuk karya klasik dan gratis, Project Gutenberg). Bila novel dalam bahasa aslinya tidak bisa diakses, bisa membaca novel terjemahan pun sudah merupakan hal yang bagus.

Betapapun, kehadiran karya terjemahan tetap penting, sebab tidak semua orang menguasai bahasa asing. Penerjemahan memang memiliki persoalan sendiri, tapi lewat karya terjemahan inilah kita bisa mengenal pendongeng-pendongeng hebat dunia, sebutlah misalnya Solzhenytsin, Nabokov, Arundhati Roy (The God of Small Things), atau Chinua Achebe. Kerap kali terjemahan yang bagus membantu saya dalam memahami sebuah cerita dengan lebih mengasyikkan.

Bagaimana dengan Anda, novel (terjemahan) siapa yang mengesankan Anda? ***

Komentar [8]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

8 Komentar untuk “Membaca Seru Novel Terjemahan”

  1. yanti | 6 April, 2013 15:39

    Dari pengalaman beli novel terjemahan saya lebih hati-hati, karena ada novel yang sangat mengasyikkan dibaca seperti 1984 (george Orwell, roti dan anggur (bread and wine ignazio silone) atau the god of small things Arundahati Roy. Tetapi banak juga yang mengecewakan,apalagi sekarang sudah banyak penerbit. Saya hanya beli novel atau kumpulan cerpen terjemahan dari penerbit besar, karena biasanya mutu terjemahannya lebih baik. Walau kadang mengecewakan, tapi nggak kapok, sampai saat ini novel-novel sastra yang enak dibaca sepertinya masih novel asing, novelis kita di sini masih keasyikan bermain kata

  2. Wartawan Fajar TV Dipanah Gerombolan Geng Motor - Tempo.co | Berita 101 | 6 April, 2013 19:06

    [...] Membaca Seru Novel Terjemahan [...]

  3. Facebook Home Andalan di ‘Ponsel’ Facebook – Tempo.co | Teknisi Asia | 7 April, 2013 07:33

    [...] Membaca Seru Novel Terjemahan [...]

  4. Facebook Home Andalan di ‘Ponsel’ Facebook | Komunitas Riau | 7 April, 2013 08:54

    [...] Facebook Home Andalan di ‘Ponsel’ Facebook Membaca Seru Novel Terjemahan [...]

  5. lokersumut | 7 April, 2013 19:51

    sebelum membaca buku atau novel yg aslinya dari bahasa asing. saya selalu menyempatkan diri membaca bagian depan untuk mengetahui siapa pengalih bahasanya. semakin banyak buku berbahasa asing yg diterjemahkan ke bahasa kita tentu akan semakin memperkaya pengetahuan kita.

    nice posting, terimakasih sudah berbagai.

  6. Aokhi | 8 April, 2013 00:23

    Membaca adalah menyenangkan, apalagi jika sang pembaca yang sekaligus penerjemah dari novel yang dialihbahasakan mengalami pengalaman personal ruhaninya. Salah satu faktor krusial yang menunjang kelancaran menuju pengalaman ruhani personal tersebut adalah kekuatan SDM yang mengalihbahasakan karya tersebut. Ada teks dengan konteks yang saling berkelindan, forma pembacaan tidak hanya urusan teknis semata, ada rasa disana.

  7. HeruLS | 8 April, 2013 15:09

    Itulah perlunya membaca resensi, dari orang yang bertanggung jawab, terlebih dulu, sebelum beli buku terjemahannya. Daripada ntar kecewa.

  8. Zharina | 9 April, 2013 11:09

    Pendapat teman Mbak Dian di paragraf ke-4 sangat pas menggambarkan perasaannya saya sewaktu membaca terjemahan novel “No Country for Old Men”. Baru halaman kedua, saya sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan.
    Memang menerjemahkan novel asing sangat menantang, apalagi jika ada bidang tertentu yang menjadi latar cerita, misal kedokteran, hukum, teknik, dsb. Tentu istilahnya pun akan lebih banyak yang harus disesuaikan dengan Bahasa Indonesia baku.
    Novel terjemahan kesukaan saya adalah karya-karya Roald Dahl, yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tentunya. Membacanya mengasyikkan! Salut untuk penerjemah dan editornya.
    Salam

Silakan berkomentar, kawan!