Enak di Blog dan Perlu

oleh Okta Wiguna

Pekan terakhir sebelum lebaran Jakarta mulai sepi ditinggal mudik. Namun saat rata-rata kantor lain mulai sepi, kantor penerbit Grup Agromedia di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang saya sambangi menjelang lebaran justru masih penuh karyawan.

Rupanya tak ada libur lebaran di sana terutama bagi mereka yang bekerja di divisi pemasaran dan distribusi. Mereka mesti lembur lantaran pengalaman dari tahun ke tahun menunjukkan ada tren peningkatan penjualan buku di hari Lebaran.

Ramadan dan lebaran memang membawa berkah tersendiri bagi penerbit. Pada pekan-pekan inilah bisnis perbukuan menggeliat.

Tahun ini penerbit menggarap potensi itu sejak Pesta Buku Jakarta pada Juni. Perhelatan ini lantas diikuti berbagai pameran dan bazar buku disertai tawaran diskon besar-besaran yang digelar di berbagai kota mulai dari Jakarta hingga Cimahi dan Solo.

Memang terasa janggal karena bazar buku itu diadakan akhir Juli sementara puasa sendiri baru dimulai pertengahan Agustus. CEO Penerbit Mizan, Pangestuningsih, menjelaskan mereka memang sengaja mengantisipasi ramadhan sejak jauh hari. “Tren pembelian buku untuk persiapan bulan puasa itu paling tidak dimulai sebulan sebelumnya,” ujarnya.

Tipe buku yang diminati menjelang bulan puasa terutama sekali buku-buku Islami yang tahun ini mulai bergerak ke arah buku referensi dan ensiklopedia yang halamannya tebal dan harganya pun berkisar Rp 100 ribu. Agaknya ini masanya umat Islam di Indonesia menyiapkan diri menyambut Ramadan.

Pada awal puasa tipe buku yang laris berganti ke jenis bacaan “teman ngabuburit”. Buku Islami memang masih diminati namun penjualannya mulai berimbang dengan novel dan buku-buku nonfiksi umum.

Tingginya minat pembelian buku ini akan bertahan hingga pertengahan bulan puasa. Setelah itu pengeluaran akan mulai beralih ke persiapan Lebaran seperti baju serta ongkos dan keperluan mudik.

Ini seakan jeda bernafas sejenak bagi penerbit yang mesti bersiap-siap menghadapi hari Lebaran. Momen dua hari itu penjualan buku akan melonjak lagi terutama di kota-kota tujuan pemudik.

Kenaikan itu biasanya terasa di toko buku yang berada di mal yang kebanjiran pengunjung. Target pasar paling menjanjikan adalah remaja yang kantongnya sedang penuh “angpao” lebaran.

Ini momen yang jarang terjadi dimana pundi-pundi mengalir ke bisnis perbukuan di luar Jakarta. Pasalnya di hari-hari biasa Jakarta memang mendominasi hingga 70 persen penjualan buku yang agaknya cuma bisa dibelokkan sejenak oleh Ramadan dan Lebaran.

Komentar [9]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

9 Komentar untuk “Laris Buku Karena Lebaran”

  1. Blog ACEH PUNGO | 26 September, 2009 02:22

    Berkah ramadhan semua bisa dinikmati termasuk oleh penerbit…tapi kebanyakan (seperti di tempat saya) orang-orang menghabiskan waktu di pustaka atau nongkrong di pinggir jalan, sambil update facebook atau menemani teman yang berjualan

  2. frank drebin | 30 September, 2009 22:40

    bagus dong itu bagi-bagi rezeki

  3. Software UM | 7 October, 2009 14:39

    Bagi-bagi dong!

  4. raden | 8 October, 2009 07:59

    semoga setelah lebaran makin laris kang…

  5. e-k-o | 11 December, 2009 08:33

    info menarik :) sy baru tahu kalau buku jg masuk dalam daftar belanjaan menjelang/saat lebaran. tp sayangnya sifatnya masih tematik/tema tertentu. oya bgmn dg buku2 non-fiksi?

  6. e-k-o | 11 December, 2009 08:37

    …mksd sy non-fiksi, selain buku tema agama. misalnya buku umum, komputer, dsb…

  7. Marbun | 11 December, 2009 12:58

    kita kangen ama artikel-artikel cerdas s’perti siti dan mirna punya, mudah mudahan banyak anak muda yang rajin menulis seperti mereka yang mencerahkan walau s’dikitagak membingungkan juga, tapi ok. teruskan adik-adik. very good, kau pun harus kaya’ m’reka.

  8. Bulu Kuduk | 11 December, 2009 13:04

    bener bang, akupun tak suka dengn obrolan kosong selain soal-soal serius macam tuh. betul yang bilang bahwa negeri ini pejabat dan residen artinya penguasa penguasa tuh congkak dan tidak takut dibalas rakyat karena manusia bangsa ini tidak pernah serius dan berani. renungkan, bayangkan dan lihat, pers pun seolah nampak galak tetapi tidak berani keras banget, sebab pemodal dan pemiliknya kebanyakan sekadar cari untung bukan ideaisme sejati, mereka kan juga tokei tokei mata sipit, ali baba, ali enejernya, baba pemiliknya, mana mungkin mencerahkan, cari untung saja kok mereka, hanya kita dan kau yang mudah dikadalin, bulu kuduk.
    Lihat, tempo, ini juga tak jelas arahnya, seperti pemimpinnya juga, Gunawan Mohammad, nulis catatan pinggir, kita sulit mencerna apa maksudnya, aneh itu orang. radionya, green, juga seolah ideal tapi menjajakan acara seks in de kota, apaan tuh? aku kirsten tule, bang, aku merinding dan jengkel bulu kudukku,semua tidak jelas di bangsa kita ini, udah dari sononya.

  9. frank drebin | 3 February, 2010 17:24

    waduh abang bulu kuduk ni bikin merinding kali komentarnya, kalo berani mendiskreditkan orang tulis dong identitas aslinya, jangan lempar batu terus merinding bulu kuduknya

Silakan berkomentar, kawan!