Enak di Blog dan Perlu

Di hari pembukaan Jakarta Book Fair 2012, Sabtu (23/6) lalu, Ketua Panitia pameran Hikmat Kurnia menyebutkan bahwa produksi buku di Indonesia tergolong rendah. Jumlahnya hanya 18 ribu judul per tahun, di bawah Jepang (40 ribu/tahun) dan India (60 ribu/tahun). Bahkan jauh di bawah China yang mencapai 140 ribu/tahun.

Negara yang tingkat produksinya hampir sama dengan kita ialah Vietnam dan Malaysia. Tapi, posisi Indonesia jelas di bawah bila perhitungannya produksi judul buku per kapita. Mengapa kita tak bisa jadi juara? Di antara banyak faktor, Hikmat menyebut rendahnya daya beli dan rendahnya minat baca masyarakat sebagai faktor utama.

Itu cerita lama. Mungkin 10, 15, atau bahkan 20 tahun yang silam, situasi serupa dan penyebab serupa sudah dikemukakan. Bila ternyata hal serupa masih dipersepsi sebagai penyebab, yang terjadi tak lain “jalan di tempat”. Tidak ada terobosan yang sudah ditempuh untuk mengatasi kemandegan ini.

Masalahnya bukan sekedar bahwa pemerintah semestinya memberikan insentif kepada penerbit, seperti keringanan pajak kertas, pajak produksi, lalu penerbit memperbaiki honor bagi para penulis—yang semua itu saling berjalin. Penerbit merasa agak berat menyisihkan royalti lebih besar bila penjualan buku seret, alhasil penulis buku larislah yang dapat menikmati hasil jerih payahnya.

Yang lebih dasar dari itu sebenarnya ialah tidak adanya kemauan untuk mengubah keadaan, tidak ada ‘politik pengetahuan’ yang meletakkan menulis, menerbitkan, dan membaca buku sebagai bagian dari aktivitas membangun budaya kita. Kegiatan menerbitkan buku pada awalnya lebih dilandasi oleh semangat semacam itu, tapi dibutuhkan dorongan lebih besar agar produksi buku meningkat tajam dan diserap oleh masyarakat.

Bila buku dianggap nomor sekian di belakang pendirian mal, gedung parlemen, dan seterusnya, sampai kapanpun—10 tahun lagi, atau malah lebih—pendapat seperti yang disampaikan oleh Hikmat itu akan tetap terlontar. Mengapa tidak ada ikhtiar untuk membangun perpustakaan publik yang membuat orang tergerak mendatanginya? Dan bukan sibuk merenovasi gedung dan ruang yang sebenarnya masih bagus?

Mengapa tidak ada upaya besar-besaran untuk menerjemahkan buku ke dalam bahasa Indonesia dan sebaliknya? Mengapa tidak ada kebijakan untuk memfasilitasi akademisi dan peneliti menulis tanpa disibukkan urusan dapur? Mengapa tidak ada strategi yang jelas dan terukur untuk meningkatkan produksi buku per kapita dengan harga yang terjangkau masyarakat luas? Banyak dana yang mengalir ke tempat-tempat mubazir.

Penerbit sudah berusaha, tapi dorongan lebih besar diperlukan dari pemerintah dan parlemen yang sudah diamanahi rakyat untuk mengurus negeri ini. Soalnya ialah tidak ada ‘politik pengetahuan’ yang jelas mengenai bagaimana tingkat melek pengetahuan bangsa ini ditingkatkan lewat penerbitan buku. ***

Komentar [8]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

8 Komentar untuk “Dunia Buku, Jalan di Tempat?”

  1. HeruLS | 30 June, 2012 00:08

    Apa yg dikatakan Hikmat itu selalu jadi pidato standar setiap pembukaan pameran buku di mana saja, dan entah sudah sejak kapan.
    Ok, taruhlah, masyarakat dikondisikan oleh pemerintah untuk menjadi oportunis. Itu lewat sistem pendidikan nasional yg berorientasi pasar.
    Coba diakali. Harus ada contoh yang telak, bahwa industri buku itu sebenarnya bisa mendukung sikap oportunis itu.
    Sulit untuk melawan sistem pendidikan demikian. Tapi, tetap bisa diakali.

  2. dedi surawan | 30 June, 2012 06:33

    Bismilahirrohmanirrohim
    Semoga Saja, negara ini 5-10 tahun kedepan mempunyai generasi penerus yang rajin membaca buku,banyak orang dan gemar membaca buku, menjadi penulis buku kelas dunia, yang laris di negara Indonesia dan dunia.

  3. Malini | 30 June, 2012 15:40

    Berkurangnya penjualan buku juga bisa mempengaruhi perusahaan percetakan. Minat baca di Indonesia memang rendah tapi masih ada harapan untuk perkembangan dunia buku di Indonesia.

  4. blackhack | 1 July, 2012 02:50

    ah….dah byk tulisan2 di internet ngapain beli buku? dah byk tulisan2 di internet, ngapain buku2 luar kudu di translate, kegagapan dunia perbukuan melihat industri teknologi yg selangkah menuju ke depan…hehehehe………..hikmat jg itu2 mulu ngomongnya… jng2 jarang baca buku jg tuh wakakakakaka

  5. Gogo | 1 July, 2012 09:36

    yg diutamkn dlu sbnarnya budaya membacanya. mau bentuknya buku atau ebook, mau jmlh produksi di Indo msh sedikit.

  6. ibnu andhika | 1 July, 2012 17:36

    saya masih suka membeli buku berkualitas walau sebanrnya sekarang adalah harus hemat kertas dan mulai berkembangnya teknologi sehingga E-book lebih digemari karena ramah lingkungan juga murah .

  7. atite | 2 July, 2012 22:00

    anak2, remaja, orang tua,semuanya skrg menggenggam gadget di tangan. waktu senggang utk buku tersita bbm,twitter atau fb. pembaca tulisan2 panjang macam blog jg banyak sbetulnya, namun ngapain beli kl bs gratis? para penulis & penerbit hrs betul2 panjang2 akal agar dpt hidup… dunia musik sdh lbh dulu sekarat, sudah di-download gratis dibajak pula cd-nya…

  8. udin | 7 July, 2012 11:17

    jangan salah, tak sedikit org yg gunain hpnya buat baca blog, ndak hanya fb dan twitter, bahkan blog di indonesia jumlahnya bejibun, ada benernya kalo minat masyarakat rendah, baca buku memang rendah tpi baca status tinggi broo. Selanjutnya mau ngebangun seribu perpustakaan pun kalau rakyat g sadar pentingnya baca buat apa, kayak bangun mesjid dan gereja padahal yg solat dan kebaktian itu itu aja, lagian dalam pikiran rakyat kebanyakan buat apa baca buku wong kerjanya itu itu aja, yg dipabrik, yg dagang, buat apa baca bku?. Padahal banyak orang bisa baca tapi sedikit yang mau baca, tanya kenapa?
    karena dulu cara mendidik supaya bisa baca ndak sesuai aturan.
    Salam blogger

Silakan berkomentar, kawan!