Enak di Blog dan Perlu

Begitu membaca berita tentang pemberian penghargaan kepada mendiang S.H. Mintardja baru-baru ini, saya langsung teringat kepada karyanya yang mashur: Api di Bukit Menoreh dan Nagasasra Sabukinten. Penghargaan Sang Hyang Kamahayanikan diberikan oleh Panitia Borobudur Writers and Cultural Festival kepada penulis ini untuk kategori tokoh yang berjasa dalam kajian sejarah Nusantara.

Singgih Hadi Mintardja memang layak memperoleh penghargaan semacam ini, walaupun ia tidak bisa menyaksikan sendiri pemberian penghargaan tersebut. Bila tidak keliru, ini merupakan penghargaan formal pertama yang diterima Mintardja dan ini baru terjadi 13 tahun sesudah wafatnya. Selama ini, barangkali hanya pengagumnya yang menghargai penulis ini.

Di samping dua karya terbaik itu, Mintardja juga menulis antara lain Tanah Warisan, Suramnya Bayang-bayang, dan Istana yang Suram. Sebagai penulis, ia konsisten mengangkat tema sejarah pergulatan kekuasaan di Jawa Tengah, terutama pada masa-masa awal Kerajaan Pajang, Jipang, dan Mataram Islam. Ia juga sempat mengangkat latar Singasari lewat karyanya yang lain, Pelangi di Langit Singasari.

Namun Mintardja tidak menjadikan keraton Jogjakarta sebagai inti cerita, melainkan wilayah sekitar yang menjadi penopang kerajaan tersebut. Api di Bukit Menoreh, yang mengambil latar tanah perdikan (barangkali semacam provinsi di masa sekarang?) yang dipimpin oleh Ki Gede Menoreh sebagai kepala wilayah ini, mengisahkan betapa dahsyatnya pergulatan kekuasaan di antara pendukung maupun penentang Mataram di wilayah sekitarnya. Tak kurang pula intrik-intrik yang menyertai persaingan anak-anak mudanya yang ingin naik ke panggung kekuasaan maupun ambisi para tokoh tuanya yang berhasrat memainkan peran utama di balik layar.

Hingga kini, saya tidak tahu persis, apakah Mintardja melakukan riset mendalam untuk menulis cerita-ceritanya. Wilayah-wilayah yang disebutkan dalam cerita tersebut memang pernah atau masih ada, misalnya Menoreh, sementara sebagian tokohnya mungkin campuran antara yang faktual historis dan yang rekaan. Sebutlah misalnya Kiai Gringsing dan lawan bebuyutannya, Ki Tambak Wedi, yang sama-sama sakti. Mintardja mampu menghidupkan karakter-karakter tersebut begitu hebat. Salah satu adegan yang saya masih ingat ialah ketika Ki Tambak Wedi meninggalkan jejak ‘ancaman’ berupa besi tebal yang dilengkungkan jadi lingkaran, tapi oleh Kiai Gringsing kemudian besi itu diluruskan kembali.

Api di Bukit Menoreh semula diterbitkan setiap hari sebagai cerita bersambung di surat kabar Kedaulatan Rakjat, dan kemudian dibukukan pertama kali pada tahun 1968. Ceritanya panjang, dan kalau tidak keliru mencapai Seri IV. Meskipun kadang-kadang ceritanya terasa encer, mungkin karena begitu panjang—mencapai 396 jilid, Api tetap ditunggu oleh pembacanya. Menariknya, cerita dan karakter tokoh-tokohnya, seperti Ki Gede Pemanahan, Agung Sedayu, atau Pandan Wangi kerap menjadi bahan pembicaraan dan memberi inspirasi untuk digunakan sebagai nama. Di surat kabar Bernas, Mintardja menyajikan karyanya yang lain, Mendung di Atas Cakrawala.

Bagi saya, karya puncak Mintardja adalah Nagasasra Sabukinten. Karya ini tidak panjang, 29 jilid, bila dibandingkan dengan Api di Bukit Menoreh serta padat isi. Sebagai penulis, Mintardja piawai dalam memberi warna perihal filosofi hidup tentang kebaikan, keburukan, perjuangan, kesabaran, keputusasaan, dengki, dan kehausan akan kekuasaan tanpa menggurui. Walaupun terakhir kali saya membaca Nagasasra kira-kira 30 tahun yang silam, saya masih ingat tokoh utama cerita ini, yakni Mahesa Jenar. Ia seorang mantan prajurit Demak yang tengah mencari pusaka berupa keris Nagasasra dan Sabukinten.

Pemberian penghargaan kepada Mintardja membuat saya membuka kembali karya-karyanya. Sayangnya, koleksi saya tidak komplit. Beruntung, karya Mintardja bisa dibaca di beberapa situs dan blog. Dari cerita yang ditulis Mintardja, saya mencoba menarik garis relevansi ke dunia sekarang, dan menemukan pelajaran serupa: bahwa kekuasaan mampu membuat siapapun gelap mata untuk melakukan apapun, tapi selalu saja ada orang-orang yang berusaha keras menegakkan kebenaran. ***

Komentar [3]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

3 Komentar untuk “Api SH Mintardja Masih Menyala”

  1. Andi Tenrie | 7 November, 2012 13:11

    Kekuasaan dan pemimpin yang lalim diusahakan lurus oleh orang bijaksana…, namun sebaliknya Pemimpin arief dengan kekuasaan bijak selalu dirongrong oleh orang sirik dan dengki itulah kehidupan tak ada yang sempurna!

    Sayangnya saya belum sempat membaca karya besar Bapak SH Mintardja tapi saya mengucapakan selamat atas anugrah bintangnya, semoga karya sang penulis legenda Indonesia itu tak lapuk dan tak lekang serta tak dicuri negara lain!

  2. oto heru sutejo | 10 November, 2012 22:04

    meskipun lambat tapi tidak apa-apa,banyak penulis cerita fiksi yang dianggap “sebelah mata” oleh para orang yang menamakan kritikus sastra,sehingga Begawan semacam Mintardja tidak masuk dalam angkatan manapun sastra Indonesia…selamat,saya ikut merasa bersyukur,saya membaca Api dari awal sampai seri terakhir.

  3. dian | 11 November, 2012 07:13

    @Oto: Betul Bung Heru, penghargaan terpenting sebenarnya dari para pembacanya, seperti Anda yang tekun mengikuti serial Api. Karya-karya Mintardja sarat dengan pelajaran kehidupan.

Silakan berkomentar, kawan!