Enak di Blog dan Perlu

Qaris

Hari ini Java Jazz kembali digelar (Koran Tempo, 2 Februari 2007). Asyiknya… terutama untuk mereka yang sudah mengantungi tiket. Sepertinya sudah dalam dua pekan ini omongan orang se-Jakarta adalah soal festival jazz tahunan ini. Bahkan tadi pagi, dalam rapat perencanaan rutin di Koran Tempo, pemimpin redaksi kami mengungkapkan kebingungannya karena belum mendapatkan tiket untuk putri tercintanya yang baru kelas 5 SD yang merengek minta dibawa ke sana.

Tahun lalu Koran Tempo sempat mengundang sejumlah musisi jazz Indonesia seperti Benny Mustafa. Intinya, mereka melihat ada dua hal bertentangan dalam masyarakat kita terhadap jazz. Kaset atau CD jazz termasuk produk rekaman yang sulit dijual. Sekawakan apa pun musisinya,penjualan album jazz tetap seret. Ada ketakutan untuk menikmati jazz yang tidak selamanya gampang didengar.

Tapi sebaliknya, setiap festival jazz digelar (Java Jazz, Jak Jazz, atau Jazz Goes to Campuss), penontonnya pasti membludak. Tiba-tiba semua orang menjadi penggemar berat musik ini. Tiket, dengan harga berapa pun, ludes. Dan menjelang pagelaran, jazz menjadi topik terpanas.

Yang pergi bukan saja mereka yang sudah berusia matang (di atas 30), tapi juga remaja yang bahkan Monday Michiru saja belum pernah dengar. Mereka yang biasanya mendengar Britney Spears dan Agnes Monica tiba-tiba khusuk di depan panggung Diane Schuur. Itulah kenapa Benny Mustafa bilang, “Jazz itu musik festival.” Ya, cuma laku saat festival. Entah mengapa.

Komentar [13]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

13 Komentar untuk “Java Jazz, Anyone?”

  1. imron rosyid | 2 March, 2007 13:19

    aaah, kayak ndak tahu aja. Kalau ramai2 lihat festival jazz kan orang akan mengira dia orang cerdas karena bisa nikmati musik sulit. Tapi kalau beli cd/kaset, ya ndak bakal mau karena ndak bisa pamer sebagai orang yang cerdas dalam bermusik.

  2. tantowi | 3 March, 2007 08:28

    Pengennya sih nonton,harga tiketnya mahal ya?
    Tunggu muncul di TV aja lah. Kapan tayangnya?

  3. lirikmania | 3 March, 2007 16:40

    Bener sekali mas… Mahal sekali… Tapi memang asik sih…

  4. agus | 8 March, 2007 23:25

    Tipikal customer di indonesia memang spt itu. tapi jangan salah juga, banyak pecinta jazz yang membeli produk jazz terutama album jazz Indonesia. Masalahnya informasi mengenai ini tidak cukup tersedia. soal pamer, memang itu yg “dijual”

  5. Astrini | 9 April, 2007 17:11

    gk semua anak muda suka musik2 pop, rock ato RnB gtu2. umur saya 15 thn dan saya udah biasa dengerin musik jazz dari kecil. saya juga suka sekali bossa nova, samba, big band, swing, bebop ataupun blues. saya plg gk suka dgn pernyataan ‘jazz itu musik orang tua’. anak muda kyk saya juga bisa nikmatin lagu2 jazz jadul. event2 dan festival jazz kyk Java Jazz Festival memberi kesempatan buat fans2 muda kyk saya utk memperdalam pengetahuan ttg musik jazz.

  6. qaris | 9 April, 2007 20:07

    Yup, saya setuju, tidak semua anak muda sukanya RnB dan pop. Tapi yang saya tulis adalah yang mayoritas, yang cuma dengar jazz kalau ada festival. Tidak banyak yang beruntung seperti Anda,

  7. ompy | 28 April, 2007 19:08

    sukses buat jazz,blus dan marakita berantas cd bajakan

    dari anak2 kaulika band

    btw doain gw bsk gw ikut festival LA Key

  8. anggi | 15 June, 2007 19:33

    maju terus buat musik jazz….
    gw sangat mendukung dengan musisi jazz di indonesia sekarang baik yang muda maupun yg uda berumur. Menurut gw usaha kalian semua patut diacungin jempol, coz dulu music jazz dianggap sebagai music orang tua dan hanya untuk kalangan atas. Tapi sekarang jazz uda beda banget. Jazz uda bisa flexibel ke segala umur dan bisa dinikmatin dari segala kalangan…
    pokoknya go,go,fight,fight, music jazz…

  9. Ana Gustini | 3 November, 2007 12:16

    Kadang-kadang orang nonton festival jazz memang hanya untuk kelihatan gaya, biar dibilang berselara tinggi, pintar, suka musik berkelas, padahal belum tentu dia mengerti dan membeli kolesi kaset or cd dari para penyanyi dan musisi jazz, kenapa, karena sebetulnya mereka tidak suka dan tak menjiwai. Semua yang mereka lakukan hanya topeng biar keliatan “gaya”

  10. Benny 'Lee' Listiawan | 26 February, 2008 09:00

    hanya topeng biar keliatan gaya gara2nonton jazz ???
    mungkin lebih tepatnya gaya hidup..
    knapa juga ada orang yang sibuk ngurusin perkara dia nonton jazz cuma karena mreka “gaya” ???
    ckckckc… yang benar justru kalian yang gaya sok tahu menilai.
    the fact are it’s lifestyle. we put much money n we enjoy it by that…

  11. raden | 9 October, 2009 08:03

    duit gak cukup buat lihat…nunggu di tv dulu walau suasannay beda ama nonton live…

  12. hajardaku | 29 October, 2009 13:48

    masyarakat indonesia punya beberapa kelemahan, salah satunya tu adalah kurang bisa berpikir positif dan selalu berasumsi jelek terhadap diri mereka sendiri….masyarakat kita uda banyak yang tau jazz lagi, mereka juga menyenanginya. trus, sulit didengar itu bukannya orangnya goblog atau nggak punya taste yang tinggi, ya bisa aja emang cetakannya dia dari kecil kagak demen , sama kayak aku suka batik kamu suka polkadot

  13. E.NAHUMURY | 24 March, 2010 14:16

    Anakku aja suka bung…..baru 7 tahun

Silakan berkomentar, kawan!