Enak di Blog dan Perlu

Matthew Robson memang baru berusia 15 tahun. Tapi perusahaan riset terkemuka, Morgan Stanley, menaruh kepercayaan begitu besar kepadanya. Remaja tanggung yang tinggal di London ini secara khusus diminta meriset dan memberi masukan tentang bagaimana remaja seusianya mengkonsumsi media.

Masukan dari anak muda seumuran Robson sangat penting bagi mereka yang berkecimpung di dunia riset, pemasaran, dan kehumasan. Para analis dan pemasar percaya bahwa khalayak pelan-pelan mulai berpaling dari media tradisional ke media-media baru di Internet. Dan anak muda adalah salah satu kunci perubahan itu. Berkat Robson, Morgan Stanley pun mendapat gambaran bagaimana perubahan itu terjadi.

Setelah bergaul dengan teman-teman seusianya, ngobrol, dan mengamati tingkah laku mereka sehari-hari, Robson menunjukkan temuan yang mengejutkan pekan lalu. Menurut Robson, anak-anak muda zaman sekarang ogah mengkonsumsi media tradisional, seperti koran, majalah, radio, dan televisi. Mereka tak membaca koran lagi karena untuk apa “membalik halaman demi halaman” kalau bisa “menyimak ringkasannya di Internet atau TV”.

Mereka juga tak tertarik mendengarkan radio. Meski kadang masih mencari-cari siaran beberapa stasiun radio, mereka lebih suka memilih versi daringnya, seperti di Last.fm. Di situs layanan audio streaming ini, mereka dapat menyeleksi sendiri lagu yang diinginkan–tanpa bantuan penyiar–dan terbebas dari gangguan iklan.

Yang lebih mengejutkan lagi, kata Robson, adalah bagaimana remaja mengkonsumsi tayangan TV. Teman-teman sebayanya memang masih menonton TV, menyaksikan acara-acara favorit, misalnya siaran olahraga seperti sepak bola. Tapi jumlah mereka yang masih tekun mengikuti program reguler, seperti siaran berita, justru merosot. Remaja seperti Robson lebih suka menyaksikan siaran online streaming. Jika ada iklan, mereka pindah saluran.

Bagaimana dengan Twitter, layanan microblogging yang sedang beken di seluruh dunia itu? Apakah remaja juga memanfaatkannya?

“Teman-temanku memang pernah memakai Twitter, tapi mereka hanya sebentar menggunakannya,” kata Robson. Mereka menganggap aktivitas di Twitter hanya buang-buang waktu karena tak ada orang yang membaca profil mereka di Twitter, seperti di Facebook. Selain itu, mereka menganggap lebih baik memberi kredit kepada teman-teman mereka sendiri ketimbang memberi keuntungan kepada operator telepon, yang jasanya digunakan untuk mengirim pesan ringkas 140 karakter di Twitter.

Lantas apa yang dilakukan generasi iPod di Internet? Mereka membuka Facebook, mencari dan meriset topik-topik tertentu lewat Google, menonton video di YouTube, atau mengunduh musik untuk iPod mereka.

Mereka memang menyukai kampanye viral di Internet, tapi, bila menemukan iklan berbentuk banner atau pop-up, mereka cenderung mengabaikannya. Mereka menganggap iklan seperti itu sangat mengganggu dan tiada gunanya. Jadi mereka pun tak pernah mengklik tautan iklan.

Bagaimana dengan handphone? Anak sekarang cenderung tak menyukai telepon pintar yang dilengkapi fasilitas Internet karena harganya mahal. Mereka lebih suka memakai telepon untuk ngobrol atau baku kirim sandek.

Video messaging dan video calling pun kurang populer di kalangan mereka, lagi-lagi karena ongkosnya mahal. Tapi mereka sangat gemar berbagi musik lewat fasilitas Bluetooth karena gratis dan kebanyakan telepon seluler masa kini mempunyai fitur itu.

Morgan Stanley menilai temuan Robson merupakan “pandangan paling jernih dan provokatif yang pernah mereka dapatkan”, meski tak didukung data statistik. Bagaimana dengan Anda?

Komentar [8]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

8 Komentar untuk “Remaja Ogah Baca Koran”

  1. tjunho | 25 July, 2009 07:51

    ….sptnya morgan stanley baru saja mendapatkan temuan paling “baru” dan berharga.

  2. hedi | 25 July, 2009 17:59

    aku lihat sekarang jaman permukaan, mungkin aja remaja baca dan nonton sekilas

  3. ikankoi | 25 July, 2009 18:26

    sekarang jaman yang praktis2 saja

  4. Warok Suro Kamandoko | 26 July, 2009 09:59

    mereka lebih suka cari m****k

  5. Joy | 26 July, 2009 10:58

    itu memang benar, klo anak muda sekarnag ogah baca koran. dan bukan koran saja, bahkan buku yang konon menjadi sumber pengetahuan dan jendela pengetahuan pun tak tersentuh.
    Anak muda sekarang cenderung menjadi budak media elektronik, yang condong hanya untuk bersenang-senang tanpa mengambil manfaat yang sesungguhnya.

  6. zulham | 27 July, 2009 07:06

    Baca korannya cuma di pojok saja.

  7. Prilnali Eka Putra | 7 August, 2009 09:03

    pergeseran budaya membaca udah mulai kelihatan beberapa tahun terakhir .. terutama dalam hal media yang dipakai … semenjak mulai merakyatnya ebook dan sejenis lainnya mungkin wajar kalo koran mulai ditinggalkan…tapi tidak keseluruhan, yaaahh yang penting masih ada budaya membacanya lah…hehehe

  8. Software UM | 7 October, 2009 15:04

    Rata-rata berawal karena takut dicap gaptek

Silakan berkomentar, kawan!