Jul
18
Mat Bloger sedang mabuk kepayang dalam pelukan Facebook. Jejaring sosial itu bagaikan pil nikmat yang bisa membuat dirinya ekstase. Setiap saat dia membuka Facebook dengan BlackBerry Storm miliknya, di kantor, di bus, di taksi, di mal, di kafe, di mana-mana. Macam-macam yang ia kerjakan: melihat status teman, mengunggah foto dan video, bincang-bincang dengan koleganya di mancanegara, memainkan game Trivian atau balapan mobil, dan sebagainya.
Saking terlenanya oleh Facebook, Mat Bloger ditegur bosnya. Dia dianggap lebih mementingkan jejaring sosial itu ketimbang pekerjaan. Produktivitasnya pun dinilai turun. Tentu saja Mat Bloger tak terima ditegur begitu.
“Semprul! Bos macam apa itu? Mosok saya disebut buang-buang waktu dan kurang produktif. Membuka Facebook kan bagian dari pekerjaan, Mas. Saya memperluas jaringan, berkomunikasi dengan para klien, dan memantau pasar. Huh, dasar sontoloyo!”
Saya ngakak mendengar Mat Bloger mengomel. Facebook memang memicu kontroversi. Di beberapa perusahaan, akses ke Facebook malah sudah diblokir karena dipandang tiada gunanya dan hanya membuang waktu. Tapi di korporat-korporat lain, jejaring sosial itu dibiarkan karena dianggap bagus bagi karyawan. Mana yang benar?
Facebook itu memang fenomena teknologi yang membuat kita berdecak-decak kagum. Dua tahun belakangan ini jumlah penggunanya melonjak drastis di seluruh dunia, sekitar 250 juta, atau bertambah 50 juta dalam tiga bulan terakhir. Di Indonesia saja, lebih dari 6,8 juta pengguna. Dan Indonesia berada di peringkat tujuh negara dengan pengguna terbanyak.
Popularitas itu membuat sebagian kalangan lalu menimbang-nimbang baik dan buruknya. Awal pekan ini, lembaga riset Nucleus Research menyurvei pengaruh Facebook terhadap produktivitas karyawan. Survei dilakukan secara acak terhadap 237 pekerja kantoran. Hasilnya menunjukkan Facebook menurunkan 1,5 persen produktivitas karyawan. Artinya, jika ada 100 pegawai yang semuanya membuka Facebook ketika bekerja, itu sama dengan perusahaan kehilangan 1,5 karyawan. Sebanyak 87 persen responden mengaku aktivitas mereka di Facebook tak berhubungan dengan pekerjaannya. Tapi rasanya terlalu dini kita mengambil kesimpulan dari survei dengan sampel yang sangat kecil.
Pada Juni lalu, perusahaan aplikasi berbasis web 2.0, Facetime, mengeluarkan hasil berbeda. Menurut survei mereka, 1.199 responden dari kalangan profesional di bidang teknologi menganggap jejaring sosial seperti Facebook sangat penting bagi pekerjaan mereka. Sebanyak 46 persen responden menilai aplikasi jejaring sosial–Linkedn, Facebook, dan Twitter–memiliki business value. Tapi 31 persen responden mengakui penggunaan jejaring itu perlu dikontrol.
Profesor Brent Coker dari Universitas Melbourne mengungkapkan data lain. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya terhadap 300 responden, lebih dari 9 persen karyawan lebih produktif jika sempat istirahat sejenak. Istirahat sejenak itu maksudnya berkegiatan di sela menyelesaikan pekerjaan, misalnya merokok, mengudap, ngobrol, atau membuka Facebook.
“Jadi kesimpulannya bagaimana, Mas? Facebook itu baik atau buruk?”
“Kita tak bisa melihat masalah ini secara hitam-putih, Mat. Facebook mungkin memang meningkatkan produktivitas, barangkali juga tidak. Untuk karyawan yang mampu mengelola waktu, menata prioritas kerja, Facebook tentu bukan ancaman. Sebaliknya bagi mereka yang terlalu larut membuka jejaring sosial itu, misalnya lebih dari empat jam atau separuh jam kerjanya, tentu Facebook bakal jadi masalah.
Manajemen sebuah perusahaan juga tak bijaksana bila serta-merta menutup akses ke jejaring tersebut. Perusahaan mestinya lebih fokus pada upaya mengapresiasi karyawan yang kinerjanya bagus dan mendisiplinkan pegawai yang kerjanya amburadul. Bukan mempermasalahkan Facebook.”
cocok sama paragrap terakhir ndor, eh mas wicak. di pabrik tempat saya mburuh facebook diblokir. hiks
Facebook penting. Tapi saya nggak bisa nikmatin enaknya pesbukan. Saya juga gak begitu narsis sampai perlu mnunjukkan ke orang apa yang sedang saya lakukan. Tapi kalo pesbuk dibredel ya curang itu namanya.
baik buruknya FB itu tergantung dr penggunanya. diblokir di kantor boleh2 aja kalo mengganggu kerjaan… tapi ada juga lho yg menggunakan FB utk mendukung kerjaannya
..Well profesional aja lah…waktu kerja ya dipake untuk kerja..waktu ngga kerja ya jangan pake untuk urusin kerjaan kantor…mo itu pesbukan..atau pake fasilitas kantor utk hal-hal pribadi pas jam kantor…prinsipnya jangan korupsi waktu juga..be profesional…saya bukan HRD lho..pegawai biasa juga..cuma almarhum Bapak saya dulu selalu ingetin untuk coba profesional..
Kawan-kawan diatas betul…tidak profesional atau kerjaan yang terganggu bukan karena facebook-nya, karena orangnyalah…menurut saya kedepannya nanti bukan cuma facebook mungkin ada media lain yang lebih canggih, tergantung orangnya sih….waktu jaman tamagochi juga banyak tuh yang merasa terganggu sama mainan itu…
iya..ya…ya..ya…ya…ya.
Di kantor perlu diblokir, krn memang pekerjaan jadi terganggu krn keinginan untuk chat, main game dsb. Di kantor saya sudah diblokir duluan kok dari dulu hiks…..
Hehe bisa aja.. menurut saya tergantung waktu mengaksesnya, kalo sibuk di kantor ga bakalan sempet buka FB… FB bisa sekedar bercanda atau menyapa teman lama, atau mengisi waktu senggang saat menunggu seseorang. ada juga yg memamfaatkan peluang bisnis disitu..yg itu lah ada ada ajah.
Ah…itu mh trgntng orng y aja.masa gr2 FB lp ma krjaan.gmna bagi wktu bwt tmn atw klrga.pdhl mrk itu REAL.
…
Berbicara itu memang mudah ya…..
ga tau prakteknya…
…
Aq setuju dgn sdr bambang jgn FB yang di salahan tp penggunanya hrs memahami kpn waktu yg pantas untuk menggunakan FB jgn ketika kita bkrj kalau emang gak ada hubunganya sm krjan kita,itu namanya makan gaji buta
siapa saja yang senang berfacebook ria, selamat anda telah menjadi penyumbang dana pembantaian di jalur gaza
perolehan dana dari hasil iklan di facebook, adalah salah satu penyokong dana pembantaian di gaza
jelas bosnya Mat Bloger marah. masa bos sendiri ga di-add.
btw, kalo di kantor bisa pake kebijakan manajemen. atur jam pemakaian gitchu
memang, facebook itu tergantung siapa yg pakai, buat sy sendiri, krn tdk merasa mampu bagi waktu ya d tutup saja sementara waktu sampai saya ’siap’..
asal penggunaanya tepat fb bs menjadi tools yang berguna, misalnya untuk menjalin networking lebih personal dengan rekanan bisnis. tapi memang tergantung individunya. godaan fb untuk jadi pelarian dari pekerjaan memang sangat kuat.
kl kt mau jujur dg hati kt sndiri,rasanya main FB antara manfaat dn mudaratny byk mudaratnya.walau smua trgantng pd penggunanya,knyataannya org lbh cnderung dan tergoda tuk menggunakannya tanpa kontrol.langkah awal,pemblokiran pada jam kerja saja
pemblokiran mmg perlu,tapi jangan fully blocked,mis:dijam2 erja di block tapi pd jam istirahat ataupun after office hours dibuka kembali,saya bekerja di suatu badan dibwh suatu departemen pemerintahan,saya lihat PNS disini semua kuper krn gak kenal dunia maya/internet itu bisa buat apa aja,dan disini pun facebook sdh di”fully blocked”,hiks..side bisnis saya lewat facebook padahal…nasib..
padahal di tempat saya bekerja ini pemakaian internetnya sdh unlimited 24jam,dipkainya juga paling buat itu2 saja,sayang kan kl gak dipakai buat mengakses yang lain?udah bayar mahal gak dipakai..pemborosan itu namanya..padahal setelah saya tahu ternyata yang nge-block facebook juga ikutan fb-an meski harus umpet2an,kasian orang itu..sudah tua kok masih munafik..
Untung aq penganggur yg dpt akses fb kapan aja
penting kok
kalo sy sih fesbukan sekali-sekali aja biar gak gatek gitu. Tapi kalo dipikir-pikir, sy setuju pendapat mas mulyadi manfaatnya lebih sedikit dibanding mudharatnya
Kalo dipake untuk pribadi ya buruk, kalo buat kepentingan korporat yang baik untuk korporatnya.