Enak di Blog dan Perlu

TAHUN baru, fenomena baru. Di Internet, fenomena itu bisa dilihat dari statistik. Situs Nick Burcher, misalnya memperlihatkan lonjakan jumlah pengguna Facebook hingga akhir tahun lalu. Data tersebut menunjukkan Indonesia kini menempati peringkat keempat pengguna Facebook di bawah Amerika, Turki, dan Inggris. Jumlah pemakainya mencapai 14.681.580, dengan pertumbuhan 126 persen per bulan dan 1.536,7 per tahun.

Sedangkan menurut catatan Google Trends bahasa Indonesia paling banyak digunakan di layanan micro-blogging Twitter dibanding bahasa lain, misalnya Inggris dan Spanyol. Ini berarti pengguna dari Indonesia, yang jumlahnya mencapai 745.372, mendominasi percakapan di Twitter.

Bagaimana dengan aktivitas blog?

Meski Google Trends mencatat terus naiknya kegiatan blog di seluruh dunia, aktivitas ini justru datar di Indonesia. Lalu lintas akses dari Indonesia ke penyedia hosting blog, misalnya Wordpress, sepanjang 2009, menurut Google Trends relatif sama dibanding satu tahun sebelumnya. Tapi lalu lintas yang sama di Blogspot cenderung menurun. Begitu juga di penyedia hosting lokal, seperti Dagdigdug, Blogdetik, dan Kompasiana.

Boleh jadi narablog Indonesia memang mulai diserang demam kejenuhan, terutama mereka yang sudah lebih dari tiga tahun memiliki blog — seperti tecermin dari hasil survei Indopacific-Edelman. Mereka kian jarang memperbarui blognya maupun jalan-jalan menengok blog orang lain.

Buat saya, ini fenomena yang wajar. Sangat alamiah. Setiap produk, jasa, maupun layanan memiliki daur hidup masing-masing. Ada kalanya pasang, ada saatnya surut. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Lesunya gairah para narablog mungkin merupakan cermin bahwa blog mulai kehilangan daya tarik. Facebook dan Twitter lebih menarik minat mereka. Barangkali karena sebab lain.

Bagi saya, blog memang bukan untuk semua orang. Hanya mereka yang benar-benar bergairah menulis dan berbagi yang masih sanggup bertahan mengelola jurnal digitalnya. Orang-orang seperti ini menganggap blog sebagai salah satu media yang mampu menampung hasrat mereka menulis. Facebook dan Twitter dianggap kurang memadai. Mereka memakai dua jejaring sosial itu untuk keperluan lain. Bagi narablog sejati, layanan baru boleh datang dan pergi, tapi blog tetap teman sejati.

“Lantas bagaimana cara agar narablog tetap eksis di tengah maraknya layanan media sosial baru itu, Mas?” tanya Mat Bloger, kawan saya, narablog yang tak populer meski sudah lima tahun punya blog.

Menurut saya, narablog sejati bakal hidup terus sepanjang mereka tetap berkarya, baik lewat tulisan maupun nontulisan. Kemunculan media sosial baru justru membuat keberadaan mereka makin kukuh. Media sosial merupakan jejaring yang membantu mereka terus eksis dan menyebarkan karya. Mereka bisa menautkan media-media sosial baru ke blog. Berkat aplikasi seperti API (application programming interface), media-media sosial bisa saling terhubung. Berkat aplikasi ini, blog sampean bisa muncul di Facebook, dan sebaliknya isi Twitter dapat terbit di blog.

Sekali lagi, kuncinya adalah ketekunan dan konsistensi merawat blog untuk berbagi dengan orang lain. Tanpa unsur tersebut, blog hanya akan menjadi beban dan segera ditinggalkan pemiliknya.

Komentar [6]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

6 Komentar untuk “Pengguna Facebook Terus Melejit”

  1. mas stein | 9 January, 2010 08:49

    orang butuh pengakuan. menulis di blog relatif lebih susah dapet perhatian dibanding media sosial lain, padahal mbikinnya juga lebih susah. mending facebook, reaksinya cepet. atau media semacam politikana.com dan adik-adiknya

  2. arief pratama | 9 January, 2010 09:56

    Memang dalam kehidupan sehari-hari kita butuh yang namanya percakapan. Tetapi percakapan yang bagaimanakah yang kita inginkan ! MUngkin Facebook ataupun Twitter adalah bangsa baru dalam percakapan saat ini. Pergunakanlah percakap[an ini untuk menjadi media yang lebih Universal. Indonesia sudah dikenal di dunia maya. F Atau T sangat mudah digunakan, bahkan anak kelas 2 sd saja sudah mengenal atupun memiliki NYa

  3. Blog Dokter | 10 January, 2010 14:04

    Yap, media blog makin terpinggirkan dengan kemudahan yang disediakan oleh kedua jejaring sosial tersebut.

  4. Wisata Riau | 13 January, 2010 03:02

    masanya akan bangkit kembali…
    butuh motivasi yg tepat sasaran untk mengembalikan gairah blog..
    apa lagi dikalangan kawula muda.. :D

  5. sandhioke | 18 January, 2010 07:15

    nggak juga tuh blog saya msh bnyak pengunjungnya, cek ajah..

  6. millati | 18 January, 2010 20:53

    Saya tetap lebih menyukai blog. Bertutur di blog, bagi saya lebih bebas, leluasa. Masalah ada yang membaca atau tidak, mungkin tidak terlalu masalah. Yang penting saya menuangkan apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Silakan berkomentar, kawan!