<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>
<channel>
	<title>Comments on: Narablog Vs Jurnalis</title>
	<atom:link href="http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/</link>
	<description>Enak di Blog dan Perlu</description>
	<pubDate>Wed, 16 May 2012 21:49:13 +0000</pubDate>
	
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: catatan febri</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-43986</link>
		<dc:creator>catatan febri</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 00:12:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-43986</guid>
		<description>wah wah wah, saling buka boroknya ya... sabar sabar Menteri Muda Blogwalking dan Komentar</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah wah wah, saling buka boroknya ya&#8230; sabar sabar Menteri Muda Blogwalking dan Komentar</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Winawita</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-31047</link>
		<dc:creator>Winawita</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 03:42:12 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-31047</guid>
		<description>Dua-duanya bisa jadi bener bisa jadi ngga bener juga...
Blog umumnya memang lebih spontan. Tapi jurnalis juga sekarang banyak yang tidak mengindahkan kode etik jurnalistik. Sama-samalah........</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dua-duanya bisa jadi bener bisa jadi ngga bener juga&#8230;<br />
Blog umumnya memang lebih spontan. Tapi jurnalis juga sekarang banyak yang tidak mengindahkan kode etik jurnalistik. Sama-samalah&#8230;&#8230;..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: uli</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30644</link>
		<dc:creator>uli</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Jul 2009 10:18:28 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30644</guid>
		<description>Aduh ulasannya, lucu deh pas bacanya. Mereka seharusnya saling bahu-membahu agar bisa memberikan informasi yang cepat dan akurat, eh malah debat mana yang lebih okeh. tapi penulis sudah kasih konklusi kok..
salut buat penulis blog, semoga para jurnalis and blogger baca... ^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aduh ulasannya, lucu deh pas bacanya. Mereka seharusnya saling bahu-membahu agar bisa memberikan informasi yang cepat dan akurat, eh malah debat mana yang lebih okeh. tapi penulis sudah kasih konklusi kok..<br />
salut buat penulis blog, semoga para jurnalis and blogger baca&#8230; ^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Narablog Vs Jurnalis &#124; Aloha2.co.cc</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30497</link>
		<dc:creator>Narablog Vs Jurnalis &#124; Aloha2.co.cc</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 09:11:09 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30497</guid>
		<description>[...] Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi. &#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa [...] Read more…  [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi. &#8220;Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa [...] Read more…  [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: miftah</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30432</link>
		<dc:creator>miftah</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 11:42:17 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30432</guid>
		<description>jurnalis memang harus mau melihat kenyataan
tetapi mat blogger-pun tidak boleh melupakan jasa2 jurnalis</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jurnalis memang harus mau melihat kenyataan<br />
tetapi mat blogger-pun tidak boleh melupakan jasa2 jurnalis</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tukangpos</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30381</link>
		<dc:creator>tukangpos</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 05:40:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30381</guid>
		<description>pada mo jadi presiden ya kalian.. Gimana sih Mat Blog dan Kang Jur ini.. 

saling buka bobrok segala.. 

semuanya hebat kok..., yang penting fakta.. akurasi mah, orang bisa kok membedakannya dengan bertanya kemudian atau mencari kemudian.. 

yang penting adalah "apa" (what)dulu gitu kali ya..</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>pada mo jadi presiden ya kalian.. Gimana sih Mat Blog dan Kang Jur ini.. </p>
<p>saling buka bobrok segala.. </p>
<p>semuanya hebat kok&#8230;, yang penting fakta.. akurasi mah, orang bisa kok membedakannya dengan bertanya kemudian atau mencari kemudian.. </p>
<p>yang penting adalah &#8220;apa&#8221; (what)dulu gitu kali ya..</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kipanji</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30341</link>
		<dc:creator>kipanji</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 03 Jul 2009 01:49:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30341</guid>
		<description>m Tenun Ikat Sambas
PONTIANAK - Malaysia sepertinya tidak bosan mengklaim karya Indonesia. Yang terbaru, tenun ikat kerajinan Sambas, Kalimantan Barat, diakui sebagai produk negeri jiran itu.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar Dody S. Wardaya menemukan tenun ikat Sambas yang diberi label made in Malaysia.

Tenun ikat itu aslinya memang diproduksi para perajin asal Sambas. Pemasarannya sampai ke Malaysia. Saat beredar di pasar negeri jiran, produk itu dilabeli made in Malaysia. ''Supaya jangan sampai berlarut-larut, ini segera kita daftarkan jenis-jenisnya," kata Dody.

Begitu juga jenis tenun ikat lain dari kabupaten/kota di Kalbar dan hasil industri kreatif lain seperti tikar. Kerajinan itu juga diincar Malaysia. "Di Waterfront Kuching, Malaysia, banyak pedagang kaki lima di sana menjual produk dari Indonesia dengan label made in Malaysia. Mereka pandai, sebelum dijual, barang-barang itu dimasukkan dulu di rumah untuk diberi label. Saya melihatnya sendiri," kata Dody.

Dia berjanji pemerintah provinsi memberikan kemudahan pengurusan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual ke Departemen Hukum dan HAM. "Karena itu, kami mendorong industri kreatif untuk mendaftarkan hak cipta dan patennya," ujarnya.

Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalbar Yosi Pontian Delyuswar mengatakan, pengurusan hak atas kekayaan intelektual, hak paten, dan merek sebagai perlindungan hukum atas karya ciptanya tidak terlalu sulit. "Cuma karena kurang sosialisasi, produsen tidak tahu cara mendaftarkan hasil karya ciptanya," kata pria yang lembaganya pernah menyelenggarakan sosialisasi tentang hak paten dan hak cipta di Pontianak beberapa bulan yang lalu kepada Pontianak Post belum lama ini. (zan/jpnn/ruk)


&#62;Siapa yg perlu diadili apakah pencuri karya etnik kita atau pihak berwenang kita di Kalbar..Pencuri itu jadi pencuri pertama2 penyebabnya adalah peluang dan ada kesempatan untuk melakukannya..Atau memang sipencuri itu memang udah dasar pencuri.Tapi disini adalah kasus maruah negara dimana ,bisa aja oarang luar mencuri /menceroboh hak karya asli etnik kita.
Tidak perlu dipersoalkan dan umum sudah maklum adanya .bahwa pihak2 berwenang(berwajib) di perbatasan M'sia/I"sia di BORNEO banyak ongkang2 kaki di Kantor istilah orang M'sia MAKAN GAJI BUTA..kapan dapat gaji habiskan gaji di perbatasan M"sia/I"sia ..Jadi Pencuri apa yg gak bisa berbuat seenaknya di Kalbar dan sempadan lainnya.Banyak lagi Penyeludupan Manusia/Bayi.serta barang semagel (smokil) yg ada nilai dolarnya tinggi..WallahuA"lam bissawab.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>m Tenun Ikat Sambas<br />
PONTIANAK - Malaysia sepertinya tidak bosan mengklaim karya Indonesia. Yang terbaru, tenun ikat kerajinan Sambas, Kalimantan Barat, diakui sebagai produk negeri jiran itu.</p>
<p>Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar Dody S. Wardaya menemukan tenun ikat Sambas yang diberi label made in Malaysia.</p>
<p>Tenun ikat itu aslinya memang diproduksi para perajin asal Sambas. Pemasarannya sampai ke Malaysia. Saat beredar di pasar negeri jiran, produk itu dilabeli made in Malaysia. &#8221;Supaya jangan sampai berlarut-larut, ini segera kita daftarkan jenis-jenisnya,&#8221; kata Dody.</p>
<p>Begitu juga jenis tenun ikat lain dari kabupaten/kota di Kalbar dan hasil industri kreatif lain seperti tikar. Kerajinan itu juga diincar Malaysia. &#8220;Di Waterfront Kuching, Malaysia, banyak pedagang kaki lima di sana menjual produk dari Indonesia dengan label made in Malaysia. Mereka pandai, sebelum dijual, barang-barang itu dimasukkan dulu di rumah untuk diberi label. Saya melihatnya sendiri,&#8221; kata Dody.</p>
<p>Dia berjanji pemerintah provinsi memberikan kemudahan pengurusan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual ke Departemen Hukum dan HAM. &#8220;Karena itu, kami mendorong industri kreatif untuk mendaftarkan hak cipta dan patennya,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalbar Yosi Pontian Delyuswar mengatakan, pengurusan hak atas kekayaan intelektual, hak paten, dan merek sebagai perlindungan hukum atas karya ciptanya tidak terlalu sulit. &#8220;Cuma karena kurang sosialisasi, produsen tidak tahu cara mendaftarkan hasil karya ciptanya,&#8221; kata pria yang lembaganya pernah menyelenggarakan sosialisasi tentang hak paten dan hak cipta di Pontianak beberapa bulan yang lalu kepada Pontianak Post belum lama ini. (zan/jpnn/ruk)</p>
<p>&gt;Siapa yg perlu diadili apakah pencuri karya etnik kita atau pihak berwenang kita di Kalbar..Pencuri itu jadi pencuri pertama2 penyebabnya adalah peluang dan ada kesempatan untuk melakukannya..Atau memang sipencuri itu memang udah dasar pencuri.Tapi disini adalah kasus maruah negara dimana ,bisa aja oarang luar mencuri /menceroboh hak karya asli etnik kita.<br />
Tidak perlu dipersoalkan dan umum sudah maklum adanya .bahwa pihak2 berwenang(berwajib) di perbatasan M&#8217;sia/I&#8221;sia di BORNEO banyak ongkang2 kaki di Kantor istilah orang M&#8217;sia MAKAN GAJI BUTA..kapan dapat gaji habiskan gaji di perbatasan M&#8221;sia/I&#8221;sia ..Jadi Pencuri apa yg gak bisa berbuat seenaknya di Kalbar dan sempadan lainnya.Banyak lagi Penyeludupan Manusia/Bayi.serta barang semagel (smokil) yg ada nilai dolarnya tinggi..WallahuA&#8221;lam bissawab.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Muhamad Soleh</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30305</link>
		<dc:creator>Muhamad Soleh</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 09:19:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30305</guid>
		<description>Iya dua-duanya sedang berproses bukan siapa lebih baik dan cepat dalam menyajikan berita. Keduanya mempunyai peran penting dalam melaporan sebuah kejadian bagi orang banyak. Esensinya baik bloger maupun jurnalis berbuatlah benar sesuai tugas dan fungsi sebagai seorang penulis. Karena dengan berbuat benar tentu akan baik hasilnya. bukan berbuat baik karena berbuat bai belum tentu benar buat orang banyak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Iya dua-duanya sedang berproses bukan siapa lebih baik dan cepat dalam menyajikan berita. Keduanya mempunyai peran penting dalam melaporan sebuah kejadian bagi orang banyak. Esensinya baik bloger maupun jurnalis berbuatlah benar sesuai tugas dan fungsi sebagai seorang penulis. Karena dengan berbuat benar tentu akan baik hasilnya. bukan berbuat baik karena berbuat bai belum tentu benar buat orang banyak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: tukang nulis</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30287</link>
		<dc:creator>tukang nulis</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jul 2009 06:12:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30287</guid>
		<description>tetap saja jurnalis mempunyai tempat tersendiri buat para pembacanya..lagi pula mat blogger menulis tanpa ada akurasi dan informasi yang cukup untuk para pembacanya..walupun dibilang cara klasik, jurnalis tetap masih pilihan pembaca kok.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tetap saja jurnalis mempunyai tempat tersendiri buat para pembacanya..lagi pula mat blogger menulis tanpa ada akurasi dan informasi yang cukup untuk para pembacanya..walupun dibilang cara klasik, jurnalis tetap masih pilihan pembaca kok.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Harri Safiari</title>
		<link>http://blog.tempointeraktif.com/blog/narablog-vs-jurnalis/comment-page-1/#comment-30231</link>
		<dc:creator>Harri Safiari</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 15:56:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://blog.tempointeraktif.com/?p=701#comment-30231</guid>
		<description>Ah, jangan sombong Mat Bloger, bagi saya mah kerjaan Kang Jurnalis nggak bakal mati cepat, kalau berkurang mungkin saja. Tetapi yang klasik itu biasanya asyik dan dibutuhkan karena kedalaman dan akurasinya, berimbang lagi ....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ah, jangan sombong Mat Bloger, bagi saya mah kerjaan Kang Jurnalis nggak bakal mati cepat, kalau berkurang mungkin saja. Tetapi yang klasik itu biasanya asyik dan dibutuhkan karena kedalaman dan akurasinya, berimbang lagi &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

