Jun
30
Narablog Vs Jurnalis
Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi.
“Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa di Iran setelah pemilu kemarin, Kang. Siapa yang mengirim foto-foto dan kabar itu ke seluruh dunia? Siapa yang mengunggah video yang menayangkan bentrok antara aparat keamanan Iran dan para demonstran di YouTube? Pewarta warga dan para blogger, Kang. Bukan jurnalis tradisional seperti sampean,” kata Mat Bloger.
Kang Jurnalis merah padam karena diledek seperti itu. “Halah, baru sekali saja sudah bangga. Huh!”
“Eits, sampean lupa kasus Mumbai? Siapa yang pertama kali mengabarkan terjadinya serangan teroris ini? Pewarta warga juga, Kang. Dia mengirimkan pesan singkat lewat Twitter. Pesan itu terbaca wartawan seluruh dunia seperti suara sirene pemadam kebakaran. Lalu buru-buru mereka datang ke lokasi. Masih banyak contoh lain, Kang.”
Saya lihat paras Kang Jurnalis makin merah padam menahan amarah. Mat Bloger merasa di atas angin. “Sudahlah, Kang. Terima nasib saja. Profesi sampean sudah seperti dinosaurus. Masa depan ada di ranah digital, dan kamilah masa depan itu.”
Kang Jurnalis ternyata tak mau kalah. “Sampean jangan congkak, Mat. Kabar dari orang-orang seperti sampean itu sering tak akurat. Banyak yang bohong. Publik belum 100 persen percaya. Lagi pula sampean, toh, sulit memperoleh manfaat ekonomi dari jualan kabar macam itu. Kami beda. Informasi itu barang dagangan kami, para jurnalis. Berita buatan saya lebih dalam dan lebih lengkap ketimbang berita sampean, Mat.”
“Siapa bilang kami tak mampu berjualan informasi. Kami punya model ekonomi tersendiri, Kang.”
Saya geleng-geleng kepala mendengar mereka berbantah kata. Keduanya ngotot, merasa paling benar. Padahal dua-duanya tidak salah. Mereka hanya tak saling memahami. Menurut saya, baik Mat Bloger maupun Kang Jurnalis sama-sama melakukan apa yang disebut sebagai jurnalisme proses. Ketika bekerja, Mat Bloger menulis di blog, dan Kang Jurnalis membuat berita untuk korannya. Mereka sama-sama menjalankan sebuah proses. Hanya, prosesnya berlainan.
Orang-orang seperti Mat Bloger bekerja secara spontan. Begitu melihat sesuatu, langsung bisa mengirimkannya ke mana-mana lewat microblogging tanpa mengecek lebih jauh akurasi, keberimbangan, dan kelengkapannya. Cara ini berisiko. Laporan mungkin tak akurat dan dangkal. Tak ada konteks dan penjelasan mengapa sebuah peristiwa terjadi.
Kang Jurnalis tak bisa begitu. Laku jurnalistiknya melewati serangkaian tahap: peliputan, penulisan, penyuntingan, dan seterusnya. Ada hal-hal yang harus dipenuhi, seperti etika, cover both sides, juga check and recheck. Konsekuensinya, laporannya jadi lebih lama muncul. Selain itu, laporan Kang Jurnalis tak memicu interaksi dan diskusi antara si pembuat dan pembaca, seperti halnya tulisan di blog.
Mungkin sekarang mereka harus menerima kenyataan. Kang Jurnalis mesti memahami bahwa wajah dan model industri informasi telah berubah. Saatnya untuk beradaptasi. Sebaliknya, Mat Bloger mesti ingat bahwa pembaca mencari informasi berkualitas seperti yang sudah ditunjukkan Kang Jurnalis. Seandainya mereka mau berubah, khalayaklah yang diuntungkan.
Ah, jangan sombong Mat Bloger, bagi saya mah kerjaan Kang Jurnalis nggak bakal mati cepat, kalau berkurang mungkin saja. Tetapi yang klasik itu biasanya asyik dan dibutuhkan karena kedalaman dan akurasinya, berimbang lagi ….
tetap saja jurnalis mempunyai tempat tersendiri buat para pembacanya..lagi pula mat blogger menulis tanpa ada akurasi dan informasi yang cukup untuk para pembacanya..walupun dibilang cara klasik, jurnalis tetap masih pilihan pembaca kok.
Iya dua-duanya sedang berproses bukan siapa lebih baik dan cepat dalam menyajikan berita. Keduanya mempunyai peran penting dalam melaporan sebuah kejadian bagi orang banyak. Esensinya baik bloger maupun jurnalis berbuatlah benar sesuai tugas dan fungsi sebagai seorang penulis. Karena dengan berbuat benar tentu akan baik hasilnya. bukan berbuat baik karena berbuat bai belum tentu benar buat orang banyak.
m Tenun Ikat Sambas
PONTIANAK - Malaysia sepertinya tidak bosan mengklaim karya Indonesia. Yang terbaru, tenun ikat kerajinan Sambas, Kalimantan Barat, diakui sebagai produk negeri jiran itu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar Dody S. Wardaya menemukan tenun ikat Sambas yang diberi label made in Malaysia.
Tenun ikat itu aslinya memang diproduksi para perajin asal Sambas. Pemasarannya sampai ke Malaysia. Saat beredar di pasar negeri jiran, produk itu dilabeli made in Malaysia. ”Supaya jangan sampai berlarut-larut, ini segera kita daftarkan jenis-jenisnya,” kata Dody.
Begitu juga jenis tenun ikat lain dari kabupaten/kota di Kalbar dan hasil industri kreatif lain seperti tikar. Kerajinan itu juga diincar Malaysia. “Di Waterfront Kuching, Malaysia, banyak pedagang kaki lima di sana menjual produk dari Indonesia dengan label made in Malaysia. Mereka pandai, sebelum dijual, barang-barang itu dimasukkan dulu di rumah untuk diberi label. Saya melihatnya sendiri,” kata Dody.
Dia berjanji pemerintah provinsi memberikan kemudahan pengurusan pendaftaran hak atas kekayaan intelektual ke Departemen Hukum dan HAM. “Karena itu, kami mendorong industri kreatif untuk mendaftarkan hak cipta dan patennya,” ujarnya.
Ketua Lembaga Kajian Budaya Kalbar Yosi Pontian Delyuswar mengatakan, pengurusan hak atas kekayaan intelektual, hak paten, dan merek sebagai perlindungan hukum atas karya ciptanya tidak terlalu sulit. “Cuma karena kurang sosialisasi, produsen tidak tahu cara mendaftarkan hasil karya ciptanya,” kata pria yang lembaganya pernah menyelenggarakan sosialisasi tentang hak paten dan hak cipta di Pontianak beberapa bulan yang lalu kepada Pontianak Post belum lama ini. (zan/jpnn/ruk)
>Siapa yg perlu diadili apakah pencuri karya etnik kita atau pihak berwenang kita di Kalbar..Pencuri itu jadi pencuri pertama2 penyebabnya adalah peluang dan ada kesempatan untuk melakukannya..Atau memang sipencuri itu memang udah dasar pencuri.Tapi disini adalah kasus maruah negara dimana ,bisa aja oarang luar mencuri /menceroboh hak karya asli etnik kita.
Tidak perlu dipersoalkan dan umum sudah maklum adanya .bahwa pihak2 berwenang(berwajib) di perbatasan M’sia/I”sia di BORNEO banyak ongkang2 kaki di Kantor istilah orang M’sia MAKAN GAJI BUTA..kapan dapat gaji habiskan gaji di perbatasan M”sia/I”sia ..Jadi Pencuri apa yg gak bisa berbuat seenaknya di Kalbar dan sempadan lainnya.Banyak lagi Penyeludupan Manusia/Bayi.serta barang semagel (smokil) yg ada nilai dolarnya tinggi..WallahuA”lam bissawab.
pada mo jadi presiden ya kalian.. Gimana sih Mat Blog dan Kang Jur ini..
saling buka bobrok segala..
semuanya hebat kok…, yang penting fakta.. akurasi mah, orang bisa kok membedakannya dengan bertanya kemudian atau mencari kemudian..
yang penting adalah “apa” (what)dulu gitu kali ya..
jurnalis memang harus mau melihat kenyataan
tetapi mat blogger-pun tidak boleh melupakan jasa2 jurnalis
[...] Mat Bloger dan Kang Jurnalis ibarat air dan minyak. Tak pernah akur. Setiap kali bertemu, mereka selalu adu mulut. Mat Bloger kerap meledek pekerjaan Kang Jurnalis yang dianggapnya ketinggalan zaman. Laporannya selalu kalah cepat dibanding narablog (blogger) yang berada di mana-mana dan sangat lekas mempublikasikan informasi. “Lihat saja sewaktu terjadi aksi kekerasan terhadap para pengunjuk rasa [...] Read more⦠[...]
Aduh ulasannya, lucu deh pas bacanya. Mereka seharusnya saling bahu-membahu agar bisa memberikan informasi yang cepat dan akurat, eh malah debat mana yang lebih okeh. tapi penulis sudah kasih konklusi kok..
salut buat penulis blog, semoga para jurnalis and blogger baca… ^_^
Dua-duanya bisa jadi bener bisa jadi ngga bener juga…
Blog umumnya memang lebih spontan. Tapi jurnalis juga sekarang banyak yang tidak mengindahkan kode etik jurnalistik. Sama-samalah……..
wah wah wah, saling buka boroknya ya… sabar sabar Menteri Muda Blogwalking dan Komentar