Jul
26
Popularitas media sosial terus menanjak di Indonesia. Angka pengguna situs-situs layanan media sosial, seperti blog, forum, Twitter, Facebook, dan sebagainya, terus bertambah. Pengguna Facebook, misalnya, mencapai 26,2 juta menurut situs Check Facebook. Twitter di Indonesia memiliki lebih dari 5,7 juta pengguna. Jumlah blog sekitar 4,5 juta.
Meski penggunanya terus melejit, belum semuanya paham benar bagaimana mengisi media sosial. Saya bahkan sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana membuat tulisan di media sosial. “Apakah kiatnya sama dengan menulis di koran?” tanya seorang teman.
Sebuah studi menunjukkan bahwa konsumen media sosial tak begitu menghiraukan berita-berita yang tengah populer di media tradisional (koran, majalah, televisi). Yang mereka cari bukan “jurnalisme omong-omong”, berita yang ditulis berdasarkan pernyataan tokoh, pejabat, pesohor, tentang suatu hal, seperti yang biasa diturunkan koran-koran.
Sebaliknya, audiens media sosial justru tertarik kepada hal-hal yang tak ada atau minimal jarang muncul di media tradisional. Mereka, misalnya, gampang terpancing perhatiannya oleh berita-berita misteri, konspirasi, keajaiban alam, atau hal-hal yang remeh-temeh, misalnya gaun terbaru Paris Hilton.
Apa arti fenomena itu bagi penulisan di media sosial? Tabiat seperti itu membantu kita memahami apa yang dicari dan digemari para pengakses media sosial. Konsumen media sosial mencari tulisan-tulisan yang menghibur. Mereka juga terbuka pada hal-hal baru, yang jarang muncul di media tradisional. Mereka menyukai isu-isu urban dan budaya pop. Berita tentang fenomena hujan meteor Lynx, misalnya, pernah menjadi berita terpopuler di situs Tempo Interaktif.
Bagi kalangan humas dan pemasar, fenomena itu juga memberikan pemahaman baru bahwa konsumen sudah berubah. Mereka bukan lagi sasaran komunikasi satu arah. Zaman sekarang, khalayak harus diberi peluang sebesar-besarnya untuk bersuara, menyatakan opininya sendiri. Publik harus terlibat dalam percakapan, komunikasi dua arah. Konsumen yang dibiarkan ikut berpartisipasi dan memberikan komentar akan dengan suka rela berbagi pandangan, sikap, dan gagasan.
Untuk konsumen di era media sosial seperti sekarang, para penulis harus bekerja lebih keras. Tulisan-tulisan untuk konsumen tak boleh lagi yang biasa-biasa saja, melainkan harus unik dan khas. Topik tulisan yang sudah muncul di media tradisional bakal kehilangan gereget lagi bagi pembaca media sosial.
Kalangan humas pun tak bisa lagi menulis pesan perusahaannya dengan cara biasa, memakai bahasa berbunga-bunga seperti yang biasa ditemukan dalam siaran pers atau advertorial. Pembaca media sosial sudah jenuh membaca tulisan seperti itu di media tradisional. Mereka ingin mendapatkan tulisan yang lebih segar di media sosial.
Khalayak media sosial rata-rata ingin memperoleh tulisan yang personal, cermin dari pendapat atau gagasan penulisnya. Sebab, di media sosial, mereka memiliki semacam dorongan untuk memberi komentar, menyanggah, mengkritik, dan sebagainya. Pembaca ingin ikut terlibat dalam komunikasi dua arah di sebuah tulisan. Maka jadilah penulis yang seolah-olah ada di depan pembaca dan siap diajak diskusi.
Tulisan yang berbau iklan juga dihindari pembaca media sosial. Maka usahakan agar tulisan di media sosial itu benar-benar pendapat pribadi tentang suatu hal, bukan pesanan merek tertentu. Kalaupun terpaksa menulis berdasarkan pesanan, karena misalnya Anda blogger bayaran, samarkan sehalus mungkin sehingga kesan iklannya tak terlalu kuat.
Lebih baik lagi bila tulisan di media sosial mengandung data langka yang tak ditemukan di media tradisional sehingga bisa menjadi rujukan pembaca. Anda bisa membuatnya, bukan?
mantap uraian anda gan, saya termasuk salah satunya yang tidak bisa menggunakan fasilitas jejaring sosial spti yang agan sebut diatas. sejauh ini saya belum pernah membuat note2,,yang ada hanya copas dari media2 online dan register ke bebrapa situs jejaring hanya buat gengsi2an sm teman. sebenarnya saya pengen sekali bisa membuat jurnal atau tulisan yg bermanfaat. cuma memang dari sononya udah begitu ato karena malas mengolah fikir,,saya masih bingung juga,,,hehehe…tulisan agan mantaap,,sangat menggugah pengguna jejaring sosial yg mempunyai karakteristik spti saya. salam
kurasa gak semua yg memakai media online hanya untuk gengsi2an,,mungkin sebagian dari mereka “iya” tapi gak semua,, di media online kamu bise mencurahkan unek2 yg ada dalam pikiran kamu tentang segala hal atau masalah yg terjadi dlam hidup ini.
di media online kamu juga bisa bertukar pikiran atau ide dengan sesama pengguna yg memiliki pemikiran yg sama dengan kamu,,for me that’s fun. kamu bisa berdabat dengan apa aja yg menurut kamu benar dan kurasa kamu juga bisa memilih taman yg mempunyai karakteristik yg sama dengan kamu.
well you can try it, and find out about it. goodluck
Ulasan mas wicaksono sepertinya bertalian dengan saudara dian tentang berpikir terbalik. Sudah saatnya para penikmat media sosial berkaca pada media tradisional (dan bukan bearti media tradisional tidak berkaca pada media sosial). Terutama tentang siapa menulis apa di media sosial itu, yang tidak berhenti di status. Mungkinkah sinergi itu bisa tumbuh mengingat media sosial baru sebatas tempat singgah untuk sekadar komunikasi. Salam
mantap dan pengetahuan baru.Saya menyukai artikel sederhana, tapi padat,lugas, dan memenuhi berita yang sedang saya tunggu.
tambahan pengetahuan,sip sharingya bung.Layak saya pos di fesbuk saya.
TOP.
Penggunaan media sosial memang semakin banyak, baik untuk kepentingan pribadi maupun perusahaan. Contohnya facebook dan twitter dari brand tertentu, begitu pula ada yg dinamakan corporate blog. Seperti blog Tempointeraktif ini.
Kehadiran internet dan social media membuat orang semakin ketagihan untuk mengaksesnya.
mantap…..seru..
artikelnya bagus.
Bener juga ya mas, beda antara media sosial dan tradisional hanyalah sedikit: tentang adanya ruang komentar. Namun justru karena inilah media sosail dengan tradisional jd benar2 berbeda…
Mari berbagi lewat tulisan
Ngeblog Ndak Ada Matinya!!
Good Evening
A reverse cell mobile phone search for is something that I believed can be totally free online. The problem I discovered with the no cost companies is they information just isn’t good if it is no cost. So I paidfor the little service since they instructed me the knowledge was correct. They explained they paid for hte information to generate certain it absolutely was appropriate. I found it absolutely was specifically as they said. The reverse telephone lookup was specifically what I was searching for and I discovered out my boyfriend was cheating on me with a girl that he met at school. I detest him however the fact stays that the mobile look up service labored well. Phone look up search sites work, period.
Cheers for taking your time to discuss this, I feel strongly about it and love learning more on this topic. If option, as you gain expertise, would you update your site with more precise? It is extremely helpful for me.
I do not even know how I stopped up here, but I believed this post used to be good. I don’t recognize who you might be however certainly you are going to a well-known blogger for those who aren’t already
Cheers!
You certainly deserve a round of applause for your post and more specifically, your blog in general. Very high quality material!
Najlepszy Adwokat w Poznaniu. Potrzebujesz pomocy ? To dobrze Trafisz do swojego Adwokata!!!
Jezeli szukasz ddobrego mechanika, badz tez chcesz zalozyc sobie klimatyzacje w samochodzie to dobrze trafiles !!! Nasza firma to najlepsze auto usugi we Wroclawiu. Serdecznie Zapraszamy do skorzystania z naszej oferty !!!
Would you be interested in exchanging hyperlinks?
pertaining to years into the future Chanel glasses to continue staying and so common