Enak di Blog dan Perlu

Wajah Fany Ariasari terlihat berseri-seri siang itu. Meski peluh membanjir di tubuhnya, senyum selalu terkembang di bibirnya. “Capek sih, tapi senang,” kata narablog asal Semarang itu.

Fany, juga dua narablog lainnya, Pitra Satvika dan Aulia Halimatussadiah alias Ollie, tengah mengikuti fun game yang diselenggarakan oleh PT Acer Indonesia di Gili Trawangan, Lombok. Fun game adalah acara selingan dari workshop teknologi termutakhir yang digelar oleh produsen laptop merek Acer itu pada 15-17 Desember lalu.

Pelibatan para narablog seperti Fany, Pitra, dan Ollie dalam aktivitas sebuah brand atau merek memang bukan yang pertama. Bahkan sedang jadi tren. Pekan lalu, misalnya, Happy Jus mengajak narablog mengikuti acara mereka di Bali. Pekan-pekan sebelumnya, ada AXE, Bask, BlackBerry, Centro, Coca-Cola, Microsoft, Nokia, Toyota, dan beberapa merek terkenal lainnya yang juga mengundang narablog untuk ikut dalam kegiatan pemasaran mereka.

“Mengapa merek-merek kondang itu tertarik mengundang para blogger, Mas?” tanya Mat Bloger, kawan saya, yang tak pernah diajak siapa-siapa itu.

Menurut pakar teori pemasaran Hermawan Kartajaya, di era media sosial ini, narablog adalah salah satu kunci mendekati konsumen karena opini mereka dipercaya oleh pembaca. Suara narablog bahkan lebih dipercaya ketimbang klaim sebuah merek.

Survei perilaku narablog oleh Indopacific Edelman pada Juni lalu mendukung pendapat Hermawan. Menurut survei tersebut, blog menempati peringkat keempat sumber informasi yang dapat dipercaya setelah koran, portal berita, dan televisi.

“Mengapa blogger merupakan sumber informasi yang bisa dipercaya?” Mat Bloger bertanya lagi.

Pada umumnya, narablog menulis dengan jujur, sesuai dengan yang mereka lihat, dengar, dan rasakan. Memang ada juga narablog yang menulis secara imajinatif, fiksi, atau mereka-reka. Tapi narablog sejati, yang menulis dengan hati, biasanya berpendapat apa adanya. Narablog yang memiliki otoritas dan integritas tinggi bahkan mampu mempengaruhi baik teman-temannya sesama blogger maupun khalayak.

“Kalau seorang blogger populer berkata ia sebal terhadap seorang pakar telematika, bisa dipastikan hampir semua pembaca setianya akan ikut sebal. Kalau ia mengkritik sebuah produk, pembacanya akan cenderung ikut setuju membenci produk tersebut. Sebaliknya, seorang blogger populer pecandu BlackBerry, misalnya, akan dengan senang hati mempromosikan BlackBerry kepada semua teman-temannya, termasuk ‘meracuni’ pembaca blognya, untuk ikut membeli,” tulis Pitra Satvika di blognya.

“Apa perbedaan tulisan narablog dan jurnalis?” tanya Mat Bloger.

Laporan jurnalis tunduk kepada etika dan kaidah jurnalistik. Konsekuensinya, laporan mereka berjarak dengan obyek tulisan. Tulisan narablog umumnya berbasis pada opini dan pengalaman pribadi, kisah tentang manusia. Mereka bisa saja menulis tentang sebuah perjalanan wisata, kafe, makanan, maupun perangkat canggih terbaru, tapi selalu saja dari sudut pandang pribadi. Tulisan mereka jadi terasa dekat dengan pembaca.

Narablog menyodorkan tip, trik, dan pelatihan, serta membagikan pengalaman maupun keahliannya. Pembaca yang mencari alternatif dari laporan para jurnalis tradisional di media massa menemukan jawabannya dalam tulisan narablog itu. Khalayak menyukai gaya narablog yang khas karena secara alamiah orang pun akan tertarik pada pendapat dan pengalaman orang lain.

Kelebihan tulisan narablog itulah yang membuat para produsen mengajak mereka bekerja sama. Seperti kata Hermawan, pemilik merek menganggap narablog sebagai pintu masuk ke hati konsumen.

Komentar [4]

Feed  •   Trackback  •   Kirim Komentar

4 Komentar untuk “Mengapa Merek Terkenal Menggandeng Narablog”

  1. achmad sulfikar | 26 December, 2009 21:37

    menurut mas Wijaksono, bagaimana halnya dengan Blogger yang maennya Paid Review? Apakah blogger tersebut masih jujur dalam ngeblog? Trims’

  2. Herman RH | 27 December, 2009 07:12

    Setuju!
    Tapi ya itu kelemahannya, sangat subjektif. Produsen harus selektif pilih blogger untuk jadi “marketer” produknya.

    @sulfikar: menurut saya pribadi ga masalah. blogger dibayar, perusahaan dapat SEO, pembaca/konsumen dapat informasi. Jadi pembaca/konsumen juga harus kritis, gali informasi lebih dalam lagi, jangan cuma mau disuapin.

  3. Moh Arif Widarto | 29 December, 2009 17:25

    Ternyata fenomena itu sudah mulai menggejala di Indonesia ya.

    Untuk para narablog, semakin tinggi tingkat kunjungan ke blog Anda, saya yakin “advertiser” akan semakin suka kepada Anda. Saya sebut sebagai advertiser karena saya yakin mereka mengharapkan tulisan dari kita mengenai produk/jasa mereka.

    @Ahmad Sulfikar: Untuk PTR, menurut saya tidak masalah karena ada advertiser yang dalam menawarkan order ada yang meminta kritik penuh. Ada yang memang meminta untuk mengedepankan keunggulan-keunggulan produk/jasanya, ada pula yang membebaskan narablog untuk menulis apa pun tentang produk/jasa mereka.

  4. Kang Adhie | 17 October, 2011 22:14

    Setuju mas, tulisan seorang blogger kadang trlihat seperti karya seorang kolumnis ngetop.

Silakan berkomentar, kawan!